
Sepanjang jalan, Kenan tidak berhenti tersenyum. Dia merasa bahagia karena memiliki harapan baru tentang adiknya, tentang ibunya, dan tentang adik Athala yang akan datang.
Dia merasa keberuntungan sedang berpihak padanya dalam waktu yang bersamaan. Kenan mengambil ponsel lalu menelpon Rengganis.
"Lagi apa?" tanyanya lebih lembut dari sebelumnya.
"Ini lagi mijit kaki mama kamu, kenapa memangnya? Sama papa kamu juga. Ada apa?" tanyanya balik dengan suara sedikit berbisik karena tidak enak pada Nugraha dan istrinya.
"Mau dibawakan apa?"
"Apanya?"
"Aku lagi di jalan menuju rumah, barang kali kamu mau sesuatu?"
"Oh, bawain yang dingin-dingin aja, deh. Minuman apa aja, puding atau apa pokoknya."
"Sip, kamu tunggu ya jangan tidur dulu. Tunggu ka ... mmm tunggu aku datang maksudnya."
"Iya, udah ya. Dah." Rengganis menyimpan ponselnya kembali.
"Siapa? Kenan?" tanya Nugraha.
"Iya, Pak. Dia lagi di jalan mau pulang."
"Tumben masih sore udah pulang. Ck, pasti karena ada yang ingin segera dia temui."
Hadeuuhhh, masih aja ngira aku pacar Kenan. Udah dibilang berapa kali pun masih aja salah faham.
Rengganis merasa bahagia merawat wanita yang ada di hadapannya. Dia bertanya-tanya apakah seperti ini rasanya melayani seorang ibu. Meski sadar dia bukan ibunya, tapi Rengganis sangat menikmati perannya saat ini.
Berada di dalam kamar dengan pasangan suami istri, membuat Rengganis merasa mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Dia selalu tersenyum dengan pikiran-pikirannya sendiri.
"Apa kamu begitu senang Kenan akan segera datang?"
"Ya?"
Nugraha tersenyum sambil sesekali melihat layar datar yang ada di hadapannya. Dia kini bisa bekerja dengan tenang karena dia telah menemukan seseorang yang bisa dipercaya untuk merawat istrinya.
Tok tok tok
Pintu terbuka. Kenan datang. Dia masuk dengan wajah yang sumringah sambil membawa beberapa paper bag dan kantong makanan lainnya.
Nugraha melepaskan kacamatanya. "Bawa apa banyak banget, Ken?" Dia meniup laptopnya setelah mematikan daya.
"Banyak, Pah. Coba aja sini, siapa tau ada yang papa mau."
__ADS_1
Nugraha membuka satu per satu kantong makanan itu. Ada puding, pastry, es kopi dan jus, ada juga takoyaki dan cake slice.
"Tadi aku liat ada yang jualan ini, rame banget. Kirain apa, ternyata cimol basah. Kamu mau?" tanya Kenan pada Rengganis yang masih memijat kaki ibunya Kenan.
"Boleh, sebentar ya. Mama kamu belum tidur nyenyak. Nanti aku makan setelah mama kamu lelap."
"Coba aja dulu, aaaa." Kenan meminta Rengganis membuka mulutnya. Wanita itu melirik sekilas pada Nugraha.
"Coba dulu aja sedikit." Kenan memaksa. Rengganis membuka mulutnya. Dia yang memang suka pada jajanan anak dengan rasa pedas, langsung jatuh cinta pada cimol yang dibawa kenan. Dia mengunyah seraya tersenyum dengan wajah bahagia.
Kenan menatap Rengganis dengan ketulusan. Melihat bagaimana dia makan, sungguh membuat Kenan merasa gemas.
Benar, kena terlihat begitu tulus pada wanita itu. Sepertinya dia benar-benar mencintainya. Aku harus melakukan sesuatu agar mereka bisa bersama. Bisik Nugraha dalam hati.
Malam mulai beranjak. Rengganis masih berada di dalam kamar Nugraha bersama Kenan. Mereka mengobrol sambil makan.
Kenan menghembuskan nafas lega. Dia merasa sangat senang berada dalam situasi itu. Makan bersama, tertawa bersama. Sungguh pemandangan yang indah, bak keluarga yang harmonis dan bahagia.
Aku bersyukur karena Kenan kini terlihat sangat sangat bahagia. Terimakasih Rengganis, keberadaanmu mengembalikan senyuman putraku.
...***...
"Buat apa nanya-nanya?" Amara balik bertanya saat Reyhan meminta menanyakan alamat rumah Bu Sari di kampung dulu.
"Kenan sudah lama ingin touring lagi. Katanya kampung ibu kamu dulu itu pulang view yang sangat indah. Kita mau ke sana."
"Nggak, cuma kita-kita doang. Buruan lah, kasih alamatnya."
Amara menatap Reyhan curiga.
"Apa lagi? Atau gue minta Singha yang minta alamatnya sama kamu?"
Mendengar kata Singha, Amara langsung tersenyum sambil mengambil ponselnya.
"Aku kirim tuh di chat."
"Nah, gitu dong. Makasih, ya."
"Sama-sama. Eh, tapi jangan ajak Rangga ya, bentar lagi kami menikah. Jadi dia harus berhati-hati."
"Bereeees. Gue balik, bye."
Amara menatap punggung Reyhan yang tertutup jaket kulit berwarna hitam, hingga mata Amara tidak bisa lagi menjangkaunya.
Menuju rumah Bu Sari dan Rengganis dulu, memang sangat indah dan menyenangkan. Pemandangan gunung dan bukit-bukit kecil membuat jalan yang dilalui turun naik, berkelok-kelok. Sesekali Reyhan melewati terasering pesawahan yang sedang menghijau.
__ADS_1
Tidak hentinya dia mengagumi apa yang dia lihat selama perjalan mendekati alamat yang dituju.
"Tempatnya sangat indah, pantas saja Rengganis pun sangat indah," gumamnya.
Memasuki pemukiman paling ujung, jalan tidak lagi mulus. Aspal berganti tanah dan bebatuan. Reyhan sangat berhati-hati agar dia tidak jatuh.
Semakin dalam, dia memasuki area kebun teh. Jalan besar meski pun jelek, dikelilingi pohon teh kiri dan kanan.
Rumah ke rumah pun masih berjarak cukup jauh. Tidak berhimpitan seperti di kota.
Di depan jalanan semakin melebar, ada sebuah rumah dengan rolling door di depannya. Nampak seperti sebuah toko. Reyhan berhenti di sana. Sepi.
Rumah itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu maupun di pemukimannya.
"Pada ke mana orang-orang di sini?" Reyhan mengelilingi rumah itu yang tak lain adalah rumah Bu Sari dulu. Sepi.
Reyhan memutuskan kembali menaiki motornya, lalu kembali menyusuri jalan lebih atas. Dari kejauhan Reyhan melihat sekumpulan orang berada di salah satu rumah butut. Mungkin rumah paling butut yang ada di kampung itu. Reyhan mencoba mendekat.
"Permisi. Ini ada apa ya, Pak?" Reyhan mencoba bertanya pada pria yang berada paling luar.
"Ada yang meninggal, Mas."
"Meninggal? Oh, pantas saja di bawah sangat sepi. Ternyata pada si sini."
"Iya. Kasian loh mas, ini sudah gak punya keluarga. Pemakaman juga ditanggung warga dan desa."
"Memangnya keluarganya ke mana, Pak?"
"Pergi ke kota." Bapak-bapak itu mendekat pada Reyhan sambil berbisik. "Sebenarnya anaknya dibawa pergi orang. Ini yang meninggal adalah penjahat yang lagi di penjara. Katanya sih sakit, terus meninggal. Tuh, makanya ada polisi."
Reyhan mengangguk-angguk, sambil melihat sekeliling..Dan benar, ada mobil polisi di pojok sana.
Penjahat? Tunggu ....
"Pak, kalau boleh tau anaknya dibawa sama siapa? Bapak tau nama orang itu?"
"Ya tau atuh. Dia mah orang yang paling baik di sini. Kalau warga ada yang membutuhkan, dia selalu yang paling pertama menolong. Orangnya gemar sedekah."
"Maaf, Pak. Maksudnya, nama orang itu siapa? Bapak tau?"
"Namanya Bu Sari. Dengar-dengar sih Rengganis dinikahkan sama anaknya Bu Sari."
"Rengganis? Ini ... Ini yang meninggal bapaknya Rengganis?"
"Betul, Mas. Mas kenal sama Rengganis?"
__ADS_1
Reyhan gemetar. Dia bahkan lupa menyimpan ponselnya di mana. Setelah menemukan ponsel miliknya, dia kebingungan mau menghubungi siapa.