Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Pantai


__ADS_3

Singha tidak dapat mengejar Rengganis yang sudah terlebih dahulu pergi dengan mobilnya.


"Jangan dikejar, biarkan dia tenang dulu. Kalau kamu kejar pun yang ada kalian malah bertengkar." Kartika memberi nasihat.


"Lagian kamu itu kayak anak kecil, pake acara manasin shakeera. Yang ada aku ikut dia benci nanti."


"Mami udah bilang sama kamu, rencana ini pasti malah bikin dia sedih. Tadi dia berbohong kalau mama nya telpon, mami chat ternyata Nhabira gak nelpon Shakeera dan gak ada jadwal terapi juga."


"Pokoknya kita bertiga gak mau ikutan ya, Singha." Oma menambhakan. Mereka lalu pergi meninggalkan Singha.


...***...


Tok tok tok.


"Sayang, ini mama."


"Masuk, Ma."


Inne membukakan pintu setelah mendapatkan izin dari Rengganis. Nhabira tersenyum melihat putrinya sedang rebahan sambil nonton Drakor di layar televisinya yang hampir menghabiskan setengah tembok kamarnya.


Bungkus makanan berserakan. Lalu sepertinya Rengganis belum mandi karena makasih memakai baju yang sama sedari pagi, padahal kini sudah pukul 21.30 wib


"Ini kamar gadis kok seperti ini, sih?"


"Janda, Ma. Janda muda."


Nhabira tertawa.


"Nonton apa, Sayang? Seru banget kayaknya."


"Biasalah Drakor dengan segala halusinasinya, tapi bikin aku ketagihan. Andai saja ada cowok Drakor di dunia nyata, semua perempuan di dunia pasti bahagia."


Nhabira mengelus rambut Rengganis dengan lembut. Dia ingin bertanya tentang hubungannya dengan Singha, tapi sepertinya membiarkan Rengganis membuka semuanya terlebih dahulu akan jauh lebih baik.


"Kenapa ya, Ma. Nasib aku kok gini terus."


"Gini gimana?"


"Sedih mulu."


"Jadi, putri mama ini sedih karena nasibnya harus bertemu dengan orang tuanya lagi?"


"Itu pengecualian."


"Singha?"


"Jangan bahas dia deh, Ma. Bad mood jadinya."


"Sayang, Singha itu--"


"Maaa ... aku mau bobo aja kalau mama mau bahas dia."


"Ya sudah, mama keluar tapi janji kamu akan tidur, ya."


"Iya."


Nhabira mengecup kening anaknya, lalu keluar dari kamar.


"Tolong jaga putri saya, ya. Berikan apapun yang dia mau, temani dia jangan sampai dia merasa kesepian. Kamu kan umurnya gak jauh beda, jadi kalian pasti akan lebih saling memahami."


"Baik, Nyonya." Inne membungkuk pada majikannya. Setelah Nhabira pergi, Inne berjalan perlahan ke dalam kamar Rengganis.

__ADS_1


"Nonton kok ga ajak-ajak, Non."


"Kamu suka nonton Drakor?"


"Suka, Non."


"Ya udah sini."


Inne duduk di lantai.


"Ngapain di situ? duduk sini." Rengganis meminta Inne duduk di sampingnya.


"Jangan, Non. Nanti kalau nyonya liat, saya dimarahi."


"Ya udah, duduk nya di sofa atau kursi. Ambil gih."


Inne segera mengambil kursi rias milik Rengganis. Lalu duduk di sampingnya, menonton sambil ngemil adalah hal yang paling menyenangkan. Apalagi nonton bersama seseorang yang satu frekuensi. Bisa nangis bareng, teriak bareng, histeris dan mencaci tokoh jahat berjamaah.


"Non, sedang sedih ya?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Biasalah, Ne. Mungkin aku punya nasib baik dalam kehidupan, tapi tidak dalam percintaan."


"Loh, apa yang kurang? Tuan Singha itu ganteng, makan, cool juga. Tau gak non, pelayan-pelayan di sini suka kepo kalau Tuan Singha datang. Mereka cekikikan sendiri, salting sendiri padahal tuang Singha cuma benerin rambutnya doang."


"Iddihhh. Makan tuh tampan!"


"Icip boleh kali, Non."


"Ih, ineeeee!"


"Ah, dia tuh. Bikin bad mood aja. Jadi males nonton kan!" Rengganis melempar sisa Chiki yang ada di tangannya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan tidur.


...***...


"Hari kita ke pantai."


"Sekarang? Kok dadakan banget, Pah?" tanya Rengganis, sambil mengunyah makan malamnya.


"Bukan dadakan, kamu nya saja yang ngurung diri di kamar seharian."


Rengganis tidak bisa mengelak, seharian kemarin dia memang tidak membiarkan siapapun memasuki kamarnya.


"Inne, tolong bantu shakeera menyiapkan perlengkapannya, ya. Kamu juga ikut buat jagain dia."


"Baik, Nyonya."


"Jagain? Dipikir aku bayi kali. Mama tuh ada-ada aja."


"Kamu jadi ajak Rebecca?" tanya Nugraha.


Rengganis yang mendengar nama perempuan itu disebut, langsung tersedak. Dia mengambil air minum yang langsung habis dalam sekali tegukan.


"Iya, Pah."


"Kamu mau ajak Sing--"


"Enggak!" Rengganis langsung berdiri dan meninggalkan meja makan dengan piring yang masih terisi hampir setengahnya.

__ADS_1


"Mereka masih marahan?" tanya Nugraha pada Nhabira.


"Kata Maria sih begitu. Singha juga ada-ada aja, merencanakan sesuatu buat bikin shakeera cemburu, eh shakeera nya beneran marah."


"Ternyata Singha yang super dingin itu bisa melakukan hal yang kekanak-kanakan."


"Kalau pria sudah seperti itu, itu tandanya dia sayang. Makanya dia bisa melakukan hal-hal yang tidak terduga. Singha mencintai adik kamu, Ken."


"Tapi, Ma. Singha itu protektif. Kenan cuma gak ingin dia dikekang oleh Singha."


"Kamu gak tau papa seperti apa? Tapi buktinya mama bahagia. Selagi masih bisa diterima akal sehat, yang namanya over protektif itu bukanlah sebuah masalah."


"Iya, sih. Semoga saja, ya, Ma."


Sekitar pukul 11 siang, mereka pun mulai memasukkan barang-barang ke dalam mobil.


"Apa saya telat, Om?"


"Ih, ngapain ke sini?" tanya Rengganis pada Dion.


"Papa ajak dia untuk liburan bareng kita. Kan kamu gak ajak Singha."


"Teruuuus, kalau aku gak ajak Singha, harus gitu ngajak cowok lain?"


"Ya bukan begitu juga, sih. Maksudnya gini loh --"


"Halo, Om, Tante."


Mengetahui siapa yang datang, Rengganis langsung bergidik. Dia menarik tanga Dion dan langsung mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Ma, Pa, kita duluan ya. Dadah." Rengganis melambaikan tangan pada orang tuanya.


"Ngapain masih diem? Buruan nyalain mobilnya."


"I-iya. Aku kaget aja tiba-tiba kamu narik tangan aku."


"Sorry. Tapi jangan ge-er juga."


Dion tersenyum.


Mereka pergi ke pantai di sebuah pulau. Masih ada di kota yang sama, hanya saja mereka harus pergi menaiki kapal untuk sampai ke pulau itu.


Nugraha sengaja menyewa satu pulau untuk keluarganya berlibur sehari. pantai putih, pohon kelapa yang melambai, dan air laut berwarna biru membuat siapa saja yang berada di sana merasa sangat damai. Sebisa mungkin Rengganis menghindar dari Rebbeca. Meski dia dengan terpaksa harus berdekatan dengan Dion.


"Inne, antrin ganti baju. Baju aku tadi kena paku, sobek."


Inne dan Rengganis masuk ke dalam toilet. Setelah itu mereka pergi menyusuri pantai bersama Dion.



"Ngapain?"


"Manjat."


"Iiiih, Lo mengambil foto gue ya. Mana sini, liat."



"Ternyata aku cantik banget, ya. He he he."


"Sangat."

__ADS_1


Rengganis dan Dion yang sedang sama-sama melihat hasil jepretan Dion, menoleh secara bersamaan. Kini, wajah mereka berdua berjarak begitu dekat.


__ADS_2