
Thomas kembali fokus menyetir setelah menatap Cat dengan wajah kesal. Dia tidak mengerti tentang apa yang di pahami oleh gadis di sampingnya itu. Selain bertengkar, sepertinya tidak ada hal lain yang bisa di perlihatkan.
"Kau besok tidak boleh ikut lomba lari 5 km seperti yang kau katakan tadi," pinta si Thom, sambil meminta gadis itu turun dari mobilnya.
Setelah kedua orang itu turun, perbincangan kembali berlanjut.
"Iya cerewet, lama-lama ngeselin ya tuh mulut, bisa tidak kau ini diam?" Sang gadis sepertinya sangat kesal dengan ucapan si Thom yang kadang terlalu berisik.
"Selama kau masih hidup, mulut ini akan terus berisik. Kau paham kan maksudku?" Thomas kembali memancing pertengkaran.
"Bodo amat!"
Catlyn berjalan lebih dulu, dia menoleh kebelakang," Pria sok bijak, kau tidak mau ikut masuk ke rumahku?" tanya Cat, dia bahkan sudah menganggap Thomas temannya karena menawari pria itu mampir ke rumahnya.
Thomas menoleh ke segala arah, membuat sang gadis mengertikan dahinya.
"Kau mengajakku?" tanya Thomas sambil menunjuk diri sendiri.
"Memangnya siapa lagi?" jawab sang gadis ketus.
"Oh, ternyata kau sudah menganggapku? baguslah, " tukas Thomas. Dia berjalan ke arah sang gadis.
Keduanya berjalan berdampingan menuju pintu utama rumah itu yang terbuat dari kaca.
"Keren juga rumahmu. Tetapi aku tidak terlalu menyukai seni." Sang pria kemudian melihat lukisan pria dengan anak gadis memeluknya.
"Oh, iya. Itu adalah aku dan ayah."
Si gadis heran dengan suasana rumah sepi.
"Dimana Tuan Fabio?" tanya sang pria mencoba memahami maksud gadis yang sedari tadi mencari sesuatu yang ada di rumah itu.
"Tadi saat menelponku, mereka sepertinya ada di rumah." Sang gadis mengatakan hal tersebut secara gamblang.
__ADS_1
"Mungkin mereka ada di ruang makan," ucap Thom.
"Oh ya, mungkin saja, aku mau ke dapur dulu. Kau di sini saja," pinta Catlyn.
"Tidak, aku ikut denganmu," jawab sang pria.
"Astaga orang ini," ucap sang gadis yang memandang wajah pria itu dengan bibir yang mengerucut.
Si pria berjalan mengekor langkah sang gadis yang berjalan menuju dapur.
Sesampainya di dapur, dia tidak mendapati 2 orang tuanya berada di sana.
"Di sini tidak ada juga? sebenarnya mereka dimana?" Si gadis merasa putus asa hingga suara yang nyanyian selamat ulang tahun mengagetkannya.
Kedua orang tuanya, keluar dari pintu belakang yang menyambung ke dapur.
"Selamat ulang tahun sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia."
Sang ayah menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan kue ulang tahun di kedua tangannya.
"Terimakasih untuk kalian berdua, aku sangat terkesan, ayah ibu." Sang putri sedang kala kedua orang tuanya tidak melupakan hari ulang tahunnya.
Mata sang ayah menatap pria yang ada di belakang Catlyn.
"Siapa dia? pacar mu ya?"
Pria tua itu berjalan mendekati Thomas dan mengecek dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Hm ... lumayan, tetapi tidak masuk kriteria. Dia terlalu tua untuk anakku."
Thomas tersenyum mendengar dari mulut calon mertuanya bahwa dia adalah pacar dari Cat.
"Aku bukan pacarnya, hanya teman kuliah biasa. Tenang, dia juga bukan tipeku, dia jauh lebih jelek dari kambing," celetuk Thomas, pria itu kesal.
__ADS_1
"Haha ... kalian sepertinya sangat akrab, okelah! ayo kita merayakan ulang tahun putriku yang ke 22, kau doakan dia agar cepat dapat jodoh," bisik Tuan Fabio.
"Amin, jodoh yang tampan dan kaya raya."
"Bagus."
"Daripada terlalu banyak bicara, lebih baik duduk di kursi dan kita menikmati kue ulang tahun yang ibumu buat." Tuan Fabio dan ketiga orang lainnya duduk di kursi.
Dia memotong kue untuk sang putri yang semakin bertambah umurnya itu, Tuan Fabio meletakkan kue itu di piring kecil dan memberikannya kepada sang putri," Nikmatilah, ini sangat enak sayang." Senyum itu merekah, sang ayah memang senang merayakan ulang tahun sang putri.
Biasanya dengan tema hiasan-hiasan lucu kartun yang sangat di gemari oleh Catlyn, tapi semakin Cat dewasa, tidak ada acara yang seperti itu. Sang ayah hanya akan membuat kue untuk Cat dan merayakan ulang tahun kecil-kecilan seperti sekarang ini.
"Ini untukmu juga, kau adalah teman pria pertama yang Cat ajak ke rumah," ucap sang ayah yang selama ini tidak pernah mengetahui bahwa putri tercintanya memiliki teman pria.
"Haha ... ini karena dia ...." Sang putri melirik ke arah wajah jutek sang pria.
"Karena apa?" tanya sang ibu, dia juga kepo. Sang ibu sedari tadi juga hanya diam, dia tidak terlalu banyak bicara.
"Dia adalah temanku," ucap Cat mengambil jalur teraman untuk membuat dirinya terhindar dari banyak hal, jika mengaku menjadi teman, semuanya usai.
Sang ibu tidak percaya begitu saja, dia kembali menanyakan kepada pria tembok.
"Benar kau kekasihnya?" tanya sang ibu masih penasaran.
"Bukan."
Syukurlah! setidaknya dia masih bungkam.
Saat Catlyn memasukkan sesuap kue ke dalam mulutnya, tiba-tiba tembok mengatakan sesuatu yang membuatnya tersedak.
"Aku bukan kekasihnya, tetapi teman mesra!" Pria itu merangkul pundak Cat sedangkan sang gadis sedang meredakan rasa tersedak yang membuatnya batuk. Dia memukul-mukul dadanya.
"Minum dulu," pinta sang pria sambil menuangkan segelas air putih dan memberikannya kepada Catlyn.
__ADS_1
Ini pasti ada modus lain, Catlyn waspadalah! musuhmu sudah selangkah lebih maju.
******