
Kamar Thomas ...
"Aku sudah ikhlas, biarlah," tandasnya.
Sang ayah ternyata mengetahui apa yang di rasakan oleh Thomas. Dia dan sang putra merencakan hal ini atas persetujuan dari Thomas sendiri, sang ayah sebenarnya tidak sibuk, dia hanya menyelesaikan beberapa pekerjaan dan bisa pulang dengan cepat.
Namun Thomas mencegahnya.
Dia ingin menyiapkan pesta pernikahan terbaik untuk adik tirinya, terutama adalah Cat.
"Aku merasa bersalah atas apa yang telah terjadi, harusnya kau sudah bersama gadis itu jika ayah tidak bermain gila," ungkap sang ayah.
Pria paruh baya yang masih gagah tersebut, tidak hentinya mengucapkan kata maaf.
Dia memang sangat bersalah dalam hal ini, jika waktu bisa diputar kembali, dia akan menjadikan kehidupan masa lalu adalah kebahagian abadi untuk anak dan istrinya.
Semuanya akan baik-baik saja saat dia tidak mendua.
"Bukan masalah besar ayah, aku sudah memaafkanmu, jika semuanya tidak terjadi, mana mungkin ada pelajaran. Kita hanya menjalani, Tuhan yang memberikan jalan kehidupan untuk kita ayah, jalan itu pasti yang terbaik," pungkas Thomas.
Dia meredam rasa sesaknya dengan menghibur diri.
"Siap anakku, sekali lagi maafkan ayahmu," jelas si ayah.
__ADS_1
"Kita jalani hari-hari dengan kebahagiaan," pungkasnya.
"Ya," cakap sang ayah.
....
Panggilan telepon itu berakhir.
Dia meletakkan ponsel di atas nakas, saat di akan masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya kembali berdering.
"Astaga! siapa lagi," ujar Thomas harus memutar kendali kursi rodanya agar bisa berbalik arah.
Perlahan tapi pasti, sang pria sudah sampai di dekat nakas.
"Dia menelepon? setelah sekian lama nomor ini tidak aku hubungi dan dia menghubungiku lagi?" ungkap sang pria.
Dia sama sekali tidak mengira jika Cat masih inginkannya berbicara dengannya.
Dengan tangan gemetar, Thomas menjawab panggilan tersebut.
"Halo?" sapa Thomas.
"Hey tembok kampret, setelah sekian lama tak menghubungiku, mengapa kau tiba-tiba sakit? aku sudah mendengar cerita dari ayahmu mengenai kecelakaan itu, apa yang terjadi Thomas?" ujar Cat berbicara panjang lebar.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak menghiraukan apapun, pada intinya dia bisa berbicara itu saja.
"Sejak kapan kau peduli kepadaku?" tanya Thomas sok cool.
"Astaga, orang ini. Mengapa masih saja ketus saat kita akan menjadi adik dan kakak ipar, kau ini memang tidak pernah berubah, makanya kau harus menikah, daripada jomblo tidak jelas," tandas si gadis, membuat Thomas tersenyum kecut.
"Bagaimana bisa menikah, jika kau saja sudah memiliki pria lain di hatimu?" tukas Thomas.
Dia melepaskan beban dua tahun lalu begitu saja.
"Haha ... kau jangan berbicara hal yang aneh Thomas, ini tidak lucu," ungkap sang gadis merasa aneh dengan sikap sang rival.
"Semua ini bukan lelucon, aku memang memiliki perasaan itu, kau adalah alasanku untuk tetap bertahan, namun aku rela kau bersama adik tiriku," pungkas Thomas mencoba jujur.
"Haha, sok banget kau Thomas. Bercandamu memang lucu sekali, sudah ya? aku hanya ingin menggodamu saja, karena saat berpapasan, kau sama sekali tak menyapaku atau berbicara denganku," ucap Cat sambil menutup panggilan telepon itu.
....
Thomas meletakkan ponselnya kembali di atas nakas, dia merasa menjadi pria bodoh.
"Bodoh sekali aku, mengapa juga jujur! Haisssh sialan!!!!"
Thomas mengacak rambutnya kasar, merasa dirinya hanya sebatang kayu yang rapuh, tak mampu melakukan apapun.
__ADS_1
******