
Dalam rasa sendunya, Thomas masuk ke dalam rumah, si kecil menatap wajah ayahnya yang seperti orang menangis.
"Ayah? apa yang terjadi padamu?" tanya si kecil.
"Cih, kau ini anak usia lima tahun, tetapi terlihat seperti orang yang sudah tua!" pungkas Thomas.
Dia memeluk erat tubuh mungil itu.
Langkah kaki Thomas berhenti di depan pintu rumahnya, ada secarik kertas yang terlipat dengan bentuk persegi, tergeletak begitu saja.
Thomas mengambil kertas itu kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya.
Si kecil kali ini hanya diam tidak terlalu banyak bicara, dia hanya berbicara sekitar permainan yang berantakan karena kedatangan paman jahat.
Thomas menanggapinya dengan penuh kasih, sang ayah pembantu buah hatinya membereskan permainan yang ada di lantai.
Segala Lego dan mobil-mobilan, sudah Thomas masukkan ke dalam kotak permainan milik kecil.
"Ayah, hari ini ibu akan pulang, kapan ayah akan menjemputnya?" tanya si kecil.
Dia terlihat sangat merindukan sang ibu.
__ADS_1
"Astaga! ayah hampir lupa, oke. Nanti kita jemput ibumu ya?" pungkas sang ayah.
Defril merasa senang. Thomas pun demikian, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada senyum Defril.
Saat dia ingin membawa Def ke meja makan, telepon rumahnya berdering.
Dia menempatkan si kecil di tempat duduk favoritnya, sedangkan Thomas telah menyiapkan sereal dan susu kesukaan Def.
"Sayang, ayah akan menjawab panggilan telepon itu dulu ya? nanti ayah temani lagi," ucap Thomas sambil mengusap rambut si kecil lembut.
Si kecil mengangguk, dia langsung menikmati semangkuk sereal itu dengan lahap.
Sang ayah tersenyum dan perlahan meninggalkan si kecil yang tengah sibuk dengan sereal dan nyanyian indahnya di pagi hari.
"Halo? siapa ini?" sapa Thomas.
"Thom, ini aku. Grace," jawab si penelepon yang ternyata adalah ibu Def.
"Grace? kau sudah bisa menelepon? apa kau sudah selesai dengan pengobatan? syukurlah! Def sudah menunggumu, dia sangat merindukanmu," ungkap Thomas.
Pria itu terdengar antusias dengan segala ucapannya.
__ADS_1
"Thomas, sebelum aku mati. Bisakah kita pergi liburan ke Jerman?" tanya Grace yang semangat hidupnya mulai menurun, terdengar dari suaranya yang sendu.
"Hey! apa yang kau katakan! kau harus hidup Grace, demi Def, dia sangat bahagia saat kau akan kembali hari ini, jangan mengecewakannya, atau aku akan marah padamu!" jawab Thomas.
Dia seperti anak kecil yang sedang memarahi orang dewasa.
"Aku senang kau peduli padaku dan Defril, terimakasih."
Keadaan mengharu biru, Thomas tersenyum dia merasa tidak keberatan.
Semua yang ia lakukan demi Def dan Grace semata-mata karena rasa sayangnya Thomas terhadap sang teman.
"Kau adalah temanku yang selalu ada saat aku terpuruk, rasanya sesak saat mendapati orang yang kita sayang bersama pria lain, dan kau selalu ada untukku, membantuku menjadi istri pura-pura, ini adalah balasan atas semua kebaikanmu," tukas sang pria.
Thomas memang sudah berada di titik rapuhnya kala itu, saat Def memeluknya, saat itu juga, dia memilih pergi dari kota dimana Cat dan Rama hidup bersama.
Dia tidak ingin membuat Cat goyah dengan alasan menjalani kehidupan bersama Grace dan si kecil Defril.
Kedua orang tua Thomas, sudah mengetahui rahasia pernikahan pura-pura itu, demi kesehatan Grace yang sudah mencapai tahap mengkhawatirkan.
Untung dua bulan setelah kepergiannya, kakinya perlahan membaik, dia siap menjalani kehidupan tanpa Cat di sisinya.
__ADS_1
*****