
Hari ini, setelah pemakaman ibunda dari Catlyn berhasil di laksanakan dengan lancar, semua anggota keluarga kembali ke rumah duka.
Mereka terus memberikan dukungan kepada Cat dan ayahnya, meskipun setelah kematian sang ibu, Cat lebih pendiam dan sangat murung.
Thomas yang selama ini mendampingi Gadis itu tidak pernah mengajaknya bersaing lagi.
Dia hanya bertugas untuk menjaganya, mengantarkan ke kampus ataupun pulang ke rumah.
Ini merupakan amanah dari Tuan Fabio yang mengetahui keduanya dekat selama ini meskipun saling ejek.
"Aku percayakan anakku kepadamu, entah apa yang akan terjadi jika kau tidak datang hari ini. Selama ini, aku tidak pernah merepotkan. Dia adalah putri yang mandiri, kau tidak perlu khawatir, sebenarnya aku bisa melakukan segalanya sendiri hanya saja aku butuh bantuanmu untuk menjaganya. Pekerjaanku setelah 10 hari kematian istriku masih banyak."
Tuan Fabio menepuk pundak Thomas, dia merasa sangat akrab meskipun baru berapa jam perkenalan.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu karena aku dan anakmu selama ini tidak pernah akur, tapi karena ini masih suasana berkabung. Aku mau mengikuti apa yang kau katakan." Sang pria mencoba bersikap lebih dewasa karena gadis yang menjadi rivalnya ini sedang mendapatkan kemalangan hari ini.
Sang ayah, dia tersenyumlah pada itu dan memintanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Akan tetapi, Thomas memilih menemani sang gadis yang sedang duduk termenung di depan rumah.
Pria itu mencoba mendekat, dia kemudian duduk di samping Cat.
"Aku juga pernah merasakan apa yang saat ini ku alami, rasanya sangat sakit dan tidak ada obatnya." Thomas langsung mengatakan inti pembicaraannya, dia harus membuat gadis di sampingnya segera bangkit.
"Aku sedang tidak ingin mendengarkan ceramah." Cat tidak merespon apapun selain melengos, dia malas menatap pria yang selama ini tidak menyukainya itu.
Sang pria tidak mudah menyerah, dia tetap mengatakan apa yang seharusnya ia sampaikan kepada sang gadis.
"Kita sama, tidak perlu merasa sendiri."
Sang gadis sepertinya tidak tertarik dengan ceramah yang disampaikan, telinganya sedang tidak ramah. Biasanya, dia kan mendengarkan setiap orang berbicara tetapi kali ini beda.
Saat sang gadis yang beranjak dari tempat itu, sang pria menarik pergelangan tangan Cat hingga tubuh gadis itu terjatuh di pangkuannya.
"Apa lagi? aku sedang tidak ingin bercanda ataupun bermain denganmu!"
__ADS_1
Plak!
Sang gadis tanpa basa-basi langsung nampar pipi Thomas, pria itu langsung melepaskan Catlyn.
Gadis itu pergi begitu saja dan masuk ke dalam rumahnya.
"Aaihh! tamparannya mantap juga, pipiku sampai merah." Sang pria mengikuti langkah sang gadis kemudian menemui Tuan Fabio.
Dia mencari sosok Tuan Fabio, tetapi tak kunjung ia temui.
"Thom?" panggil seseorang dari arah belakang.
"Astaga! Tuan Fabio?" Sang pria terkejut saat mendapati orang memanggilnya berada di belakang tubuhnya.
"Iya ini aku, dari tadi aku perhatikan, kau seperti orang kebingungan," ucap Tuan Fabio.
"Oh iya, tadi putrimu menampar pipiku. Sepertinya, aku kurang ajar kepadanya." Sang pria memahami kekurangan yang ada di dalam dirinya, dia memang tidak bisa berkata-kata yang indah untuk membujuk atau pun merayu agar seorang gadis menuruti apa yang ia inginkan.
__ADS_1
"Maaf kan dia, kau harus memahami bahwa hari ini dia sedang berkabung."