
Thomas masih berada di dalam mobil saat dirinya bimbang atas keputusannya yang memilih kabur untuk menghindari perasaannya yang sama sekali tidak menentu itu.
Sang pria langsung memutuskan jika dirinya memang harus kembali ke bandara kemudian mengatakan apa yang ada di dalam hatinya bahwa ada perasaan lain untuk Catlyn.
Thomas sangat bersemangat.
“Cat, maafkan aku, tetapi perasaan benci kepadamu justru menjadi suatu bentuk kasih sayangku kepadamu. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi tanpa kepastian tentang rasa ini. Jika kau menolakku oleh sebab permusuhan kita, aku tidak perduli. Kau hanya akan menjadi milikku Cat!” ungkap sang pria.
Thomas dengan senyum khasnya yakin akan perasaannya kini.
Perjalanan menuju bandara tidak terlalu ada halangan karena jalan ramai lancar, Thomas menyempatkan diri untuk membeli sekuntum bunga mawar merah yang dijual oleh seorang bocah di pinggir jalan. Dia melihat sang bocah dengan senyum sendu menatap ke arahnya, Thomas menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan.
“Belum laku paman, jangan beli satu, beli semua ya?” rayu sang bocah kecil dengan menyodorkan kotak kardus berisi dua puluh biji bunga mawar merah yang segar.
“Astaga kasihan sekali, oke. Ini dua ratus ribu untukmu,” ucap Thomas sambil menyodorkan uang dua lembar uang pecahan seratus ribu kepada penjual bunga itu.
Namun, sang bocah ragu.
“Paman ingin memberikan bunga ini kepada kekasih?” tanya sang bocah menerka.
“Kau tahu darimana?” jawab Thomas heran karena bocah penjual bunga mengetahui apa yang ada di hatinya.
“Dua hari yang lalu, ada orang yang seperti paman membeli bunga di tempatku, tetapi dia menangis saat bertemu denganku lagi,” seloroh sang bocah.
“Kenapa bisa begitu?” sahut Thomas penasaran.
“Dia gagal menyatakan cinta, paman cepatlah pergi, sebelum cinta paman tak akan tergapai seperti apa yang paman itu alami,” ucap sang bocah.
__ADS_1
Thomas langsung mengerti apa yang dikatakan oleh bocah penjual bunga. Setelah membawa satu kardus bunga dan membayar kepada si bocah, Thomas meletakkan bunga itu di samping kursi kemudinya dan tancap gas untuk menemui Cat di bandara.
Beberapa menit kemudian...
Dia mencoba menanyakan pesawat dengan tujuan Slovakia take off jam berapa kepada seorang petugas bandara. Senyum Thomas masih mengembang saat sang petugas bandara mengatakan jika pesawat itu belum lepas landas, namun kekecawan langsung datang kala salah satu petugas bandara yang lain mengkonfirmasi jika pesawat jurusan Slovakia telah take off dua puluh menit yang lalu.
Thomas terpaku dengan senyumnya yang khas.
“Gagal,” ucapnya.
Thomas benar-benar remuk hatinya karena mengetahui bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengan Cat. Akan tetapi dia masih memiliki kesempatan, yaitu akan mengatakan lewat panggilan telepon jika Cat sudah sampai di Slovakia.
.....
Thomas memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, tapi saat dia dalam perjalanan menuju rumahnya, ada seseorang yang berniat mencelakainya dengan menabrak mobilnya dengan sengaja, alhasil kecelakaan tidak terhindarkan.
....
Tap ... tap ... tap ....
Terdengar derap langkah orang yang turun dari mobil yang sengaja menabrak Thomas tadi.
Terlihat seorang pria dengan stelan kemeja berwarna biru tua mendekat ke arah Thomas.
“Jika dia tidak mati, aku pastikan dia akan lumpuh seumur hidupnya,” ucap pria misterius.
Dia kemudian mendapatkan amukan masa karena dengan jelas melakukan kejahatan di jalan raya yang ramai dengan kendaraan lalu lalang serta para pejalan kaki.
__ADS_1
Setelah itu, suara sirine mobil ambulance berbarengan dengan suara sirine mobil polisi perlahan menuju tempat kejadian perkara.
Para tenaga kesehatan menghampiri Thomas yang bersimbah darah dan segera mengeluarkannya dari dalam mobil ambulance.
Sedangkan mobil polisi mengurus sang tersangka yang tidak melakukan perlawanan sedikitpun.
*************
Dua Tahun kemudian ...
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, saatnya Thomas harus kontrol kesehatan ditemani sanga ibu. Sejak kejadian kecelakaan itu, Thomas hanya menghabiskan waktu di rumah karena kakinya yang lumpuh.
Akan tetapi, dia tidak berpangku tangan. Meskipun tidak pergi keluar, dia bekerja di rumah membantu sang ayah yang kini mengurus WO. Dua tahun lalu, sang ayah mendapati dirinya dituduh korupsi dan kariernya merosot tajam.
Bersamaan dengan Thomas yang koma dua hari lamanya.
Kini sang ayah menjadi lebih akrab dengan Thomas karena merasa bersalah, dia yang telah memperlakukan anak dan istrinya dengan buruk, kini mendapatkan ganjarannya.
Dia sudah tobat, apalagi dia dan wanita simpanannya memutuskan untuk tidak berhubungan lagi, kecuali jika sang adik tiri akan menikah.
Thomas yang kini merasa hidupnya lebih baik, senantiasa rajin kontrol kesehatan agar dia segera sembuh dan mampu beraktifitas seperti sediakala.
“Thomas, jangan pernah minder dengan keadaanmu yang saat ini, kelak kau akan menjadi anak ibu yang sehat kembali, mampu berjalan dengan kedua kakimu dan mengendong ibu sambil berlari,” ucap sang ibu.
Sang ibu memberikan penghiburan terhadap pria yang tetap semangat meskipun rasa di dada sesak mendapati sang anak harus menderita lagi dan lagi.
***********
__ADS_1