Hasrat Terlarang Musuh

Hasrat Terlarang Musuh
Otw Jerman


__ADS_3

Usai menjenguk Grace, Thomas dan putranya segera membawa sang ibu untuk pulang ke rumah.


Sang dokter mengatakan selamat kepada Grace agar terlihat lebih nyata jika wanita itu memang akan segera sembuh.


Ini adalah cara terbaik yang bisa dokter lakukan untuk memberi kesan kebahagiaan kepada keluarga kecil itu.


Dokter merasakan kesedihan yang mendalam jika mengetahui penyakit yang sudah terlalu lama di derita oleh Grace, saat pertama kali masuk ke rumah sakit itu dia langsung menanganinya.


Akan tetapi kondisinya sudah level parah, dengan segala pengobatan yang telah dilakukan, tidak bisa memungkiri bahwa kuasa Tuhan lebih unggul dari pengobatan dokter sendiri.


Ini pernah dokter sampaikan kepada Thomas, pria lajang yang harus menjadi suami dan ayah untuk si Grace.


"Thomas, jaga anak dan istrimu baik-baik."


"Siap dok, kalau begitu, kami pamit dulu."


"Ya, kau hati-hati di jalan."


"Baik dok."


Thomas membawa pulang Grace, dia berencana terbang ke Jerman setelah ini.


Dia meminta bantuan temannya yang bekerja di agen tiket pesawat untuk memesan tiket ke Jerman sore ini.


Saat berjalan menuju tempat parkir, Thomas mendapat teguran dari Grace karena terlalu terpaku dengan ponsel.


Sang pria menjawab bahwa dirinya sedang memesan tiket untuk ke Jerman.

__ADS_1


Grace seketika memeluk tubuh Thomas dan berterima kasih.


Defril masih fokus dengan permennya, dia tidak terlalu memperhatikan kedua orang tuanya yang sedang berpelukan.


"Ayah, ayo. Mengapa kalian lambat sekali jalannya?" ungkap si kecil yang berjalan di depan Grace dan Thomas.


"Ayah sedang memeluk Ibumu, biar dia bahagia," jelas Thomas.


"Oh, bagus itu ayah."


Ayah bocah itu kemudian mengendong Defril.


"Kau seperti pria dewasa dengan permen lolipop," tegur sang ayah, pria itu memang sering kali melihat Def memakan permen lolipop tanpa sepengetahuan Grace.


Sang ibu tidak menyukai Defril yang sering makan permen, ini akan menyebabkan giginya semakin rapuh dan mudah berlubang.


Dia selalu mengandalkan Thomas untuk menghentikan kebiasaan ini.


"Sayang, permennya sudah ya? ayah akan pergi ke Jerman, apa kau mau ikut? di sana banyak permainan yang lebih manis daripada lolipop itu. Ada kakek yang senantiasa menemanimu bermain, ada Nemo, Sharla dan Arian. Semua teman-temanmu pasti senang saat kau mengunjungi mereka."


Rayuan maut Thomas, sepertinya bekerja dengan baik, sang pria mampu membujuk si kecil.


Permen yang tersisa sedikit, langsung si kecil buang ke tempat sampah.


Grace tersenyum ke arah sang pria tampan.


"Kau paling bisa membujuknya."

__ADS_1


"Aku ayahnya, jadi tentu paling hebat."


Deg!


Grace merasa jika Thomas nyata baginya, bukan hanya suami pura-pura, rasanya ingin bersama Thomas sampai kapanpun.


Dia tidak bisa memungkiri jika masih ada cinta untuk Thomas, tapi janji pertemanan menjadi penghalang.


Grace terpaku di tempat yang sama selama beberapa bulan ini.


"Grace? kau baik-baik saja?" tanya Thomas.


"Baik, aku hanya sedikit pusing."


"Mau aku gendong?"


"Tidak, terimakasih."


Thomas menatap Grace yang berwajah pucat itu, dia merasa ada hal aneh di matanya.


Seperti ada bulir bening ingin jatuh.


Tanpa basa-basi, Thomas mengendong tubuh Grace, sang wanita awalnya terkejut, semakin lama, wanita itu terbiasa.


Dia menatap wajah tampan Thomas.


Seandainya, kau mau menjadi suamiku yang sesungguhnya.

__ADS_1


******


__ADS_2