
Thomas sebenarnya tidak ingin bersikap ketus dihadapan si gadis idamannya, namun apalah daya, rasa sakit tak berdarah itu mampu mengoyak sanubari terdalamnya.
Dia adalah pria dalam kondisi paling tersakiti kali ini, rasanya seperti ditusuk seribu sembilu.
Sang adik lebih dulu mencuri start, tidak ada kata menyerah sebenarnya, hanya saja dia harus mengalah demi sang ibu.
Saat ini, dia sedang menatap indahnya senyum manis yang terpancar dibibir sang wanita cantik berusia lebih dari 40 tahun.
Dia berada di sampingnya, menceritakan kebahagiaan tentang sang adik tiri yang akan menikah, meskipun bukan anak kandung, nyatanya Nyonya Dimas masih mampu menerimanya, mau menjadikan Rama Sadega anak tercintanya.
Nyonya Dimas tidak terlalu memikirkan masalah wanita malam yang notabene adalah ibu dari Rama Sadega, dia hanya berpikir setiap anak membawa kesucian jiwa masing-masing. Di kampusnya tidak ada anak haram, semua anak adalah suci.
"Ibu, apa kau baik-baik saja?" tanya Thomas.
Dia masih berada di kursi roda dan bermain puzzle bersama si kecil Defril.
Sang ibu menciumi Def dan segera menjawab pertanyaan sang putra agar tidak mendapatkan masalah, karena si anak jahil ini akan mengejar sampai ujung neraka jika kepo dengan sesuatu.
"Bahagia, memangnya kau tidak bisa melihatnya?" tandas sang ibu.
"Bukan itu ibu, hanya saja, aku sedikit lelah," jelasnya.
__ADS_1
Thomas mulai bersikap aneh, rasa galaunya akibat Cat, selalu gagal ia sembunyikan.
"Aku tahu kau memiliki perasaan dengan gadis itu, namun tidak perlu kau memberikan alasan, kau dan Rama harusnya saling menyayangi, bukannya merebut apa yang sudah menjadi milik yang lain," sindir sang ibu.
Nyonya Dimas tetap memegang teguh harga diri, sebaik apapun sikap, jika menjadi perusak rumah tangga orang lain, dia akan menjadi buruk selamanya.
Sang ibu tidak ini Thomas menjadi jahat seperti ibu Rama. Cukup Nyonya Dimas yang menderita akibat pelakor, untuk sang putra, tidak perlu membalas rasa sakit hati di masa lalu.
Semuanya telah usai, wanita malam juga telah tewas. Tuan Dimas lebih terarah hidupnya meskipun dia juga mendapatkan ganjaran atas apa yang dia perbuat.
"Dia musuhku, mana mungkin suka," ungkap Thomas mengelak.
Dia hanya bisa seperti itu, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.
Sang penjaga menjawab bahwa orang itu baru saja datang, dia menggunakan produk terbaru perawatan rambut dari salon miliknya, dia ingin merekomendasikan salon Grace menjadi salah satu tempat perawatan kecantikan serta salon no 1 di kota itu.
Grace sangat bahagia, impiannya menjadi pebisnis sukses akan terwujud.
Ini menjadi titik balik kehidupannya yang telah terpuruk.
"Thomas, salonku akan semakin terkenal, ada seorang yang merekomendasikan tempat ku menjadi no.1 di kota ini," pungkas si wanita bangga
__ADS_1
Sang pria masih memikirkan banyak hal, dia belum bisa fokus.
Sampai Defril memanggilku pun, Thomas tidak merespon sama sekali.
Bayangannya terbang bersama rasa luka yang menggangga.
Kau bisa Thomas!
Sugesti dari dalam jiwa Thomas, membuatnya menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
"Defril, ayah Thomas pergi ke kamar dulu ya?"
"Oke."
Defril meminta gendong pada sang ibu yang sedang sibuk bermain ponsel.
"Ibu," ucapnya.
Grace yang mengetahui sang anak memanggilnya, langsung mendekapnya.
"Iya Def? loh, ayah mana?" tanya sang ibu sambil clingukan.
__ADS_1
"Pergi."
*****