
"Astaga, gadis itu. Selalu tidak ada sopan santun, ada orang bicara, bukannya mendengarkan. Justru pergi dan menghilang."
Pria tembok enyah dari rumah Cat karena sudah tidak ada lagi urusan.
Saat dia masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Grace menelpon.
"Grace?" ucap Thomas sambil mengeryitkan dahinya, dia heran dengan sang kekasih yang tidak seperti biasanya.
Daripada penasaran, Thomas langsung menjawab panggilan telepon itu.
"Ada apa sayang?" tanya Thomas.
"Kita putus! maaf, aku tidak bisa bersamamu lagi!"
Tut ... tut ... tut ...
"Oh, ternyata tidak mau bertemu karena ini."
Sang pria tembok menyimpan ponsel di saku celananya kemudian berjalan menuju mobil mewahnya.
Setelah duduk di kursi kemudi, dia langsung tancap gas menuju tempat yang seharusnya ia datangi.
.....
Di sepanjang perjalanan, dia mengingat apa yang pernah Cat katakan.
Grace, memiliki pria lain di luar sana.
Si tembok benar-benar memikirkan hal ini, dia lebih mempercepat laju mobilnya. Dia akan datangi Grace untuk memastikan kebenarannya.
"Jika tidak ingin menjadi pengecut, aku harus menemuinya dan mengatakan hal penting."
Tatapannya sangat tajam, ketajamannya mampu mencabik wajah Grace yang kelak ketahuan berselingkuh dibelakangnya.
Beberapa menit kemudian, mobil pria tembok telah sampai di depan rumah Grace. Dia mengetuk pintu, akan tetapi pintu tersebut tidak dikunci.
__ADS_1
Thomas langsung menerobos masuk ke dalam rumah Grace.
Dia mencari gadis itu dimanapun, tetapi tak kunjung menemukannya.
Hingga suara aneh terdengar di kamar mandi yang ada di dapur, tempat itu memang jarang di gunakan.
Thomas penasaran dengan ada yang terjadi di kamar mandi itu.
Dia selangkah lebih dekat, saat dia ingin membuka pintu itu, dia mendengar ...
"Akh ... baby, lebih cepat! ya benar seperti itu!"
Suara menyebalkan seperti saat ayahnya dan wanita malam berhubungan dikala sang ibu menderita di rumah sakit.
BRUAK!
Thomas mendobrak pintu itu dan mendapati dua anak manusia yang tak memakai benang sehelaipun sedang melakukan hal yang membuat matanya malas untuk melihatnya.
"Oh, hanya seperti ini kesetiaan mu? oke, cukup tahu!"
Sang gadis bahkan tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Thomas.
Seketika itu juga, Thomas pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan gadis pengkhianat itu dan segera pergi dari rumah Grace mengendarai mobil mewahnya.
.
.
.
Saat dalam perjalanan, ponsel miliknya berdering.
Dia menghentikan mobilnya, dia sengaja menjawab telepon dari nomor baru itu sambil menepi.
"Siapa?" tanya pria tembok.
__ADS_1
"Aku lah tembok, siapa lagi?" jawab si penelepon sok misterius.
"Iya, aku itu ada namanya, siapa namamu?" tanya tembok kembali.
"Ribet banget, ini aku Catlyn." Akhirnya si penelepon mengungkapkan jati dirinya.
"Oh." Responnya hanya sekedar oh, membuat Cat heran.
"Astaga, irit sekali jawabannya."
"Memangnya aku harus bicara apa lagi?" Pria tembok menyenderkan tubuhnya di sandaran jok mobilnya.
"Ya marah-marah, mengejekku, aneh kalau kau diam saja."
"Kau suka aku marah-marah?"
"Suka? maksudmu?"
"Tadi kau bilang, ingin aku yang marah-marah? kau suka aku yang marah-marah?"
"Tidak juga, oh ya tembok, bukannya aku ingin menjelekkan gadismu. Akan tetapi tadi siang temanku bilang kalau bertemu Grace dan seorang pria, mereka berdua tertawa bersama di restoran mewah, kebetulan temanku itu sedang ada kumpul keluarga di sana," ucap Catlyn tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh." Lagi-lagi Thomas hanya oh, Cat kesal.
"Astaga! orang ini."
"Memangnya aku harus bagaimana? jungkir balik? salto? biarin lah, belum jodoh. Gadis kan tidak dia saja, masih ada kau dan yang lain."
"Aku?"
"Memangnya kau gadis atau janda?"
"Gadis! sialan, memangnya aku terlihat seperti janda?"
"Bukan itu maksudku, kau termasuk spesies gadis langka, jadi aku sungkan."
__ADS_1
"Haha ... oke, kau baru paham tentang saling menghormati sesama."
**********