
Setelah kesalahpahaman usai, Rama dan Cat saling menggengam tangan menuju butik langganan Nyonya Dimas. Di sana banyak sekali pilihan baju pengantin yang kece dan sangat indah.
Cat tidak terlalu ribet masalah baju, dia menyerahkan segalanya kepada Rama yang lebih memahami masalah ini.
"Kak Rama, semuanya aku suka. Pilih saja mana yang terbaik," ujar sang gadis.
"Oke baby, kau duduklah di sofa itu, biarkan aku yang memilih," cetus si kakak ganteng, calon suami Cat.
Sang gadis menuruti ucapan Rama.
Saat sang calon suami memilih gaun pengantin untuk mereka berdua, seorang karyawan butik menghampiri Cat.
"Nona? apa yang anda cari? apa nona kesulitan saat menemukan gaun yang cocok? mari, saya bantu memilih," ucap sang karyawan.
"Tidak, terimakasih atas penawarannya, tapi saya sedang menunggu calon suami memilih baju untuk pernikahan kami."
Cat tidak terlalu menggubris apapun perkataan si gadis yang menjadi karyawan butik itu, selain mengganggu, gadis itu juga sok kepo tentang Rama.
"Wow, ini luar biasa kakak, anda memiliki calon suami yang sangat hebat dan pengertian. Kalau boleh saya tahu, apa dia? suami anda? Tuan Rama Sadega, putra mantan walikota?" tanya si karyawan seperti seorang wartawan.
Cat malas meladeni, namun sang karyawan justru membahas Thomas saat menceritakan perihal Tuan Muda Rama.
"Nona, saya sudah bekerja di sini sejak usia 18 tahun, sejak Tuan Rama dan Thomas tinggal bersama, berpisah, sampai kembali lagi bersama, usiaku sudah tidak muda lagi, 26 tahun tepatnya. Semua orang yang datang ke tempat ini mengira aku adalah seorang gadis, padahal tidak begitu kenyataannya. Mengenai Tuan Rama, apa kau memahami sesuatu? bahwa dia anak wanita malam yang menjadi perusak rumah tangga mantan walikota dan istrinya?" pungkasnya.
Sang karyawan menceritakan segalanya kepada Cat, tapi calon istri Rama itu tidak memperdulikannya.
Catlyn lebih memilih untuk bermain ponselnya yang kebetulan mendapatkan sebuah pesan.
__ADS_1
"Nona? maaf jika saya terlalu banyak bicara, permisi," jelas sang karyawan yang kemudian pergi dari hadapan Catlyn.
Cat sama sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh karyawan itu.
Dia lebih fokus kepada pesan masuk yang ternyata adalah Thomas.
Pria itu menggunakan nomor ponsel lamanya.
Thomas 📲 : Cat? apa kau sudah selesai fitting baju? aku mencoba menelepon Rama tetapi dia tidak menjawab panggilanku.
Catlyn 📲 : Belum tembok, aku rasa beberapa menit lagi.
Thomas 📲 : Oh, oke. Aku hanya mengingatkan bahwa setelah fitting baju, jangan lupa check gedung pernikahan kalian, semuanya sudah aku persiapan. Aku meminta Rama untuk memeriksa apa yang kurang, biar nanti aku yang melengkapinya.
Cat tersenyum saat membaca pesan dari Thomas, dia tidak pernah menyangka jika rivalnya cekatan dalam mengurus pernikahannya dan Rama.
Beberapa detik setelahnya, sang gadis masih asik dengan gadgetnya, sampai lupa jika ada Rama di depannya.
"Baby? aku sudah selesai memilih baju, kau suka yang ini atau ini?" tanya sang calon suami.
Cat yang masih saja asik dengan gadgetnya, langsung mendapatkan teguran dari Rama.
"Letakkan dulu ponselnya sayang, aku sedang bicara," ungkap sang pria dengan raut wajah yang masam.
Saat Cat menyadari bahwa sang suami berada di depannya, dia langsung memasukkan ponsel miliknya.
"Bagus sayang, maaf! dari tadi aku tidak mendengar suaramu, ada penting yang harus aku bahas jadi tidak mendengar apapun," tukas sang gadis.
__ADS_1
Selain Thomas, ternyata sang gadis masih banyak pekerjaan, setelah sehari lalu dia tidak melakukan tugasnya ke sekolah gratis, ada banyak laporan dari kawan-kawannya yang ikut mengelola tempat itu.
Ada kerusakan akibat meja dan kursi yang sudah lapuk serta beberapa buku yang karena rayap.
Memang beberapa hari lalu, sekolah gratis sempat diberhentikan karena ada banjir bandang yang mengenai kawasan itu.
Banyak kerugian yang ia alami namun tidak menyurutkan semangatnya tetap berkarya di sekolahan tersebut untuk menjadikan para siswa-siswi berprestasi.
Rama yang kini telah berbeda dari sebelumnya, tidak mempermasalahkan jika calon istrinya berbicara ataupun mengirim pesan kepada orang lain, karena kamu menyadari bahwa seorang gadis juga butuh kebebasan dalam melakukan banyak hal.
"Aku suka yang berwarna biru muda, Aku tidak tahu konsep pernikahan yang kau rencanakan itu seperti apa?" ujar Rama.
Si pria tampan duduk di samping sang kekasih kemudian memangku baju pernikahan yang ia bawa untuk menjadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
"Kebetulan baju yang kita pakai juga warna biru, kita akan mengadakan resepsi yang indah dan megah, setelah pernikahan, aku harus pergi ke Dubai, seorang teman memanggilku kesana dan memintaku bekerja sama dalam bidang minyak bumi, dia sebagai perantara yang mengolahnya," cakap Rama.
Sebenarnya, dia tidak terlalu menyukai hal ini, tapi jiwa bisnis yang meronta-ronta untuk segera di penuhi.
Perusahaan minyak terbesar kedua di dunia ingin bekerjasama dengannya, mengolah minyak bumi dalam skala besar adalah jalan menuju kesuksesan di masa depan, dia tidak ingin menelantarkan anak dan istrinya jika setelah pensiun nanti.
Akan banyak biaya untuk lima bayi kecil idaman pasangan serasi itu.
Cat menatap wajah sang kekasih, rasanya sesak saat pemerintahan itu terlontar dari mulut Rama.
"Tak bisakah kau menjadi suami yang hanya ada di rumah? bekerjalah di kota ini saja jangan ke Dubai, aku harusnya ikut kan?" tandas sang gadis.
Dia merenggek, Cat tidak ingin ditinggalkan saat sudah resmi menjadi istri Rama nantinya.
__ADS_1
*****