
Saat Catlyn memaksanya untuk mengatakan apa yang ada di hati Thomas mengenai tawarannya pergi bersama, serta masalah tentang Slovakia, tiba-tiba saja ponsel sang gadis berdering. Dia langsung meraih ponsel yang ada disaku celananya.
Dia menatap layar ponselnya kemudian senyum mengembang di bibirnya.
"Kak Rama? tumben menelpon? ada apa kak?" tanya sang gadis.
Catlyn sangat antusias dengan panggilan telepon dari cinta pertamanya itu.
"Sore ini kau berangkat ke Slovakia, ayahmu ingin mempercepat kepergianmu," pinta sang cinta pertama memberikan informasi terkini.
"Astaga, ayah tidak mengatakan apapun, aku belum beberes," ungkap sang gadis dengan raut wajah panik.
"Kau pelan-pelan saja segera menyiapkan segalanya, aku masih menunggu kedatanganmu dengan sabar," balas Rama dengan suara lembutnya.
"Oke Kak, aku mau beberes dulu ya? nanti kau bisa menelponku lagi," pungkasnya.
"Oke," jawab Rama singkat.
Panggilan telepon itu pun berakhir, kini saatnya beres-beres apa yang harus dibawa untuk tinggal di Slovakia. Sang ayah juga sedang sibuk, dia tidak akan bisa menemani sang putri menyiapkan segalanya.
Alhasil dia meminta bantuan Thomas.
Mau tidak mau, Thomas harus membantu.
Dia berjalan mengikuti langkah kaki sang gadis menuju kamar pribadinya yang ada di lantai dua. Bangunan itu sangat luas namun tidak terlihat ada lantai dua. Sang ayah membuat design yang luar biasa untuk rumah bentuk galery yang indah itu.
Sang gadis membuka pintu kamarnya, dia langsung mengambil koper yang ada di atas almari bajunya.
Setelah itu, dia mengambil baju dan memasukkannya ke dalam koper.
Thomas gerak cepat, dia langsung memungut buku-buku kuliah milik si gadis dan mencari kardus yang ada di bawah meja belajar Cat.
Sang gadis senang karena tidak salah mengandalkan Thomas.
Beberapa menit kemudian, semuanya telah beres. Kini tinggal menelepon sang ayah.
__ADS_1
Dia segera menghubungi Tuan Fabio yang masih mengajar di kampus.
"Ayah, kita berangkat sore ini, kau jangan lupa!" ujar sang gadis dengan senyum manisnya. Kata-kata yang Cat ucapkan juga terdengar sangat manis.
Thomas sedari tadi hanya menatap wajah itu, sampai lupa jika dia harus membawa barang-barang Cat masuk ke dalam mobil.
"Thomas?" tanya Cat.
Sang gadis heran saat Thomas tersenyum saat melihatnya, tapi senyum yang aneh.
Cat menepuk pundak Thomas lumayan keras, baru dia tersadar dari lamunannya.
"Oh, maaf Cat. Aku melihat bunga-bunga di wajahmu, eh ada sesuatu di wajahmu. Coba kau lihat, bercermin lah," pinta Thomas langsung kabur dengan kardus berisi buku-buku kuliah Cat. Dia berbalik dan menghela nafas lega.
Saat sang pria sudah keluar dari kamar Cat, sang gadis kemudian bercermin. Dia meraba seluruh wajahnya, namun tidak ada hal yang dikatakan olehnya Thomas.
"Mana? tidak ada kok," protes Cat.
Dia masih saja meneliti seluruh wajahnya yang mulus dan halus itu, mencari sesuatu yang Thomas katakan tadi.
Dia sangat antusias untuk pindah ke Slovakia, sang gadis sangat senang karena semakin dekat dengan cinta pertamanya.
Setiap hari bisa bertemu dengan sang pria idaman adalah impian yang akan menjadi kenyataan.
Cat berharap bisa menjadi pendamping sang cinta pertama, meski harus berjuang, dia akan melakukannya dengan gigih.
Sejak usianya 18 tahun, memang hanya Rama, pria pertama yang ia lihat sebagai orang yang berpotensi menempati hatinya untuk waktu yang lama.
Sejak saat itu, Cat mencintai Rama dalam diam, tidak ada hal yang baik, semuanya akan buruk saat Cat mencoba menghindar dari perasaan aneh yang selalu membuatnya gila.
Dia bahkan rela ikut menjadi pemandu sorak agar bisa bertemu dengan Rama.
Memang benar, dengan keikutsertaan menjadi cheerleader, Cat lebih dekat dengan Rama meskipun hanya menatap wajah tampan Rama dalam jarak lebih dekat. Ini menjadi suatu yang membahagiakan baginya.
Cat tersenyum lagi, saat teringat dirinya terjatuh saat latihan cheerleader. Kakinya terkilir, Rama yang bergerak cepat mengendong tubuhnya dan membawa ke UKS.
__ADS_1
Sang gadis sangat berbunga-bunga.
Sampai pada momen terindah ini, sang gadis masih berada dalam angan-angan yang memanjakannya hingga melupakan Thomas yang ada di depannya.
"Cat? Woy!" pekik sang pria tepat di telinga Cat.
"Thomas!"
Bug!
Dia memukul lengan Thomas cukup keras sampai sang pria meringis kesakitan.
"Astaga, pemilik sabuk besi ya? sakit sekali pukulanmu," protes Thomas.
Dia mengusap bagian yang terasa sakit, Cat merasa bersalah dan mengambil salep untuk meredakan rasa sakit di lengan Thomas.
"Hey, kau mau kemana?" tanya Thomas heran.
Bukannya minta maaf tetapi justru kabur.
Setelah beberapa menit kemudian, Cat datang lagi.
"Mana yang sakit?" tanya Cat dengan membawa salep di tangannya.
"Aku bisa sendiri burik," jawab sang pria.
"Iya Tuan Muda sok tampan, sok bersih, tapi kamarnya super berantakan!" Sang gadis mengatakan hal yang sebenarnya, tanpa ada yang ia tutupi.
Bukannya marah, Thomas hanya tersenyum.
"Gigimu kering nanti kalau senyum terus Thom, kau tersenyum, gigimu kelihatan semua," pungkasnya.
*******
********
__ADS_1