Hasrat Terlarang Musuh

Hasrat Terlarang Musuh
Tatapan mata untuk Thomas


__ADS_3

Dia masih berada di sana untuk beberapa waktu, rasanya ingin langsung menghujam benda tajam ke ulu hati Thomas dan mengoyaknya bak mangsa dan ia akan membuangnya ke jurang kenistaan.


Rasa kesal masih menyelimuti, namun dia harus segera kembali. Sang ayah pasti akan menunggunya, ini tidak baik.


Dia akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat, mungkin saja besok.


Sang pria telah puas bernostalgia dengan tingkah lakunya yang diluar kewarasan itu.


Sang pria kembali tancap gas menuju rumahnya yang kini menjadi harta bersama sang kakak tiri.


Rumah yang Tuan Dimas wariskan kepada dua orang putra berbeda ibu.


Sang ayah berpikir, rumah sebesar itu bisa ditempati dua orang yang pasti semakin dekat, Tuan Dimas menyadari jika Thomas dan Rama memang memiliki masalahnya sendiri-sendiri.


Tidak ada kecocokan di segala bidang.


....


Beberapa menit kemudian ....


Pria tampan itu segera turun dari mobil saat dirinya sudah berada di depan rumah sang ayah.


Dia tidak menyangka jika Thomas menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Aku ingin bicara denganmu," jelas Thomas yang berada dekat dengan sang adik, dia masih duduk di kursi roda yang setia menemaninya kemanapun Thomas pergi.


"Oke, bicara saja," tukas sang adik tiri.


"Kita duduk di Taman belakang, biar lebih santai," pinta Thomas sambil memutar kursi rodanya demen perlahan.


"Oke, apa kau butuh bantuan?" tanya Rama dengan lembut.


Thomas berhenti sejenak, kemudian berkata," Tidak terima kasih, selama anggota tubuhku masih bisa berfungsi, aku akan melaju apapun sendiri, aku tidak ingin menjadi beban orang lain," jelas Thomas penuh harga diri.


'Cih! sombong sekali!' batin Rama.


Dia masih bersikap biasa saja, rasa kesal di dalam dada, Rama kubur dalam-dalam.


Dia sana juga sudah tersedia minuman jus buah kesukaan Rama.


"Duduklah," ucap Thomas.


Rama menuruti apapun yang dikatakan oleh Thomas.


Setelah duduk, sang pria tembok langsung mengutarakan maksud hatinya, meminta sang adik tiri berbicara berdua saja.


"Rama, aku dengar kau mempercepat hari pernikahanmu?"

__ADS_1


Deg!


Rama terkejut, dia tidak mengira sudah sejauh ini sang kakak tiri menyelidikinya.


Tatapan mata Rama sangatlah tajam, sorot netra miliknya, menyiratkan kekesalan.


"Daripada kakak tahu?" tanya Rama berusaha tenang meskipun jiwanya bergemuruh.


"Ayah, dia memberikan aku tugas untuk membantumu menyiapkan segalanya. Dia sedang sibuk, mendadak ada urusan," pungkas Thomas.


Mau tidak mau Rama harus mengikuti apa yang dikatakan oleh kakak tirinya, rasanya sangat panas hati Rama, namun dia tidak akan mungkin menghajar begitu saja orang yang sedang duduk di kursi roda.


"Kita membahas mengenai dekor, serta fitting baju," cakap Rama.


"Aku sudah menyiapkan segalanya tanpa kau minta, aku mengajakmu bercerita hanya ingin menyampaikan bahwa tanggung jawab ayah, aku yang melaksanakannya," cetus Thomas.


Rama agak ragu, dia tidak bisa serta merta mempercayai sang kakak tiri, tapi jika dia membangkang, kesempatan untuk balas dendam akan semakin menepis.


"Aku senang kakak, kau mau mengurus acara pernikahanku," jelas sang pria dengan senyum manis andalannya.


'Shiitttt! Thomas, kau sudah selangkah lebih maju dariku! tidak akan aku biarkan!" pungkas Rama.


Dia memeluk tubuh sang kakak tiri, kemudian memendam rasa kesal di sanubarinya saja.

__ADS_1


*********


__ADS_2