
"Thomas, bagaimana kabarmu?" tanya Grace. Dia terlihat bahagia saat bertemu orang yang spesial di hatinya.
"Baik Grace, kau semakin cantik, benar kan Def?" tandas sang pria sambil menatap wajah si kecil.
"Benar ayah, ibu seperti kucing tetangga, sangat cantik," ucap si Def dengan polosnya.
Spontan Grace dan Thomas tersenyum saat mendengar kata-kata lucu dari Defril.
"Haha ... berarti ibu imut ya? kucing itu Brenda kalau gak salah," pungkas sang ibu.
Grace tahu nama kucing itu karena si Brenda adalah anak dari kucing miliknya yang berada di rumahnya yang lama.
Brenda, kuning betina yang imut jenis Persia.
"Def, kau tidak nakal kan? jangan merepotkan ayah," tanya sang ibu.
Dia khawatir jika Def mempersulit Thomas.
"Tidak, Def bobok dan pipis sendiri, ayah yang mengajariku, makan juga bermain, aku tidak mengganggu waktu ayah bekerja, aku anak baik," ungkap sang putra tampan dengan segala kelucuan logat bicaranya.
Defril yang cerdas, selalu menuruti apapun yang Thomas katakan, pria itu mengajari banyak hal kepada putra tampannya itu.
Thomas tidak pernah marah pada Def tanpa alasan yang jelas, Def juga mengerti jika sang ayah marah padanya, selain sedang lelah, pasti karena Def melakukan kesalahan.
"Grace, tidak perlu mengkhawatirkan anak kita, kau dan Def adalah tanggung jawabku, tidak ada hal paling sempurna di dunia ini tanpa senyum kalian berdua," ungkap Thomas.
"Ayah, cium ibu, seperti ayah mencium keningku setiap hari," pinta sang putra.
__ADS_1
Thomas dan Grace kikuk, karena keduanya tidak pernah seperti ini setelah putus, selain merangkul pundak, tidak ada hal lain yang mereka lakukan.
Thomas tidak menunjukkan jika dia dan Grace bukan pasangan, semua ia lakukan untuk Defril agar tidak kehilangan sosok ayah yang telah pergi meninggalkannya.
"Ayo ayah! ibu! ayo!" desak Defril.
Si kecil terus saja mendesak, membuat Thomas tidak ada pilihan lain, dia harus mencium kening Grace.
Cup!
Dengan lembut, bibir Thomas menempel di kening Grace, wanita itu merasakan sensasi berbeda.
Sentuhan itu mampu mengembalikan kenangan indah bersama Thomas.
Dia akan lebih bahagia jika bersama Thomas waktu itu.
"Hore! ayah dan ibu, aku sayang kalian berdua."
Defril berjingkrak di atas paha Thomas, sang ayah merasa kebas, raut wajahnya tidak bisa dibohongi.
Grace menegur Defril," Nak, jangan berjingkrak di paha ayah, dia kesakitan. Kasihan ayahmu."
Sang bocah langsung diam dan memeluk ayahnya.
"Ayah, maaf. Def tidak akan nakal lagi," jelas si bocah yang masih polos itu.
"Iya, tidak masalah sayang, sudahlah Grace, kasihan dia," pinta Thomas lembut.
__ADS_1
"Tapi dia nakal Thom," ucap Grace.
"Dia hanya bahagia, bukan nakal."
Thomas lebih memahami Def, Grace tersenyum bahagia.
...
Beberapa menit kemudian, muncul seseorang pria berjas putih. Dia mendekat ke arah pasien.
"Tuan Thomas? apa kabar?" tanya pria itu yang ternyata adalah seorang dokter.
"Baik dok, bagaimana kondisi istri saya?" sahut Thomas.
"Dia baik Tuan, Nyonya Grace boleh pulang hari ini. Jaga kesehatan istri anda, saya akan memberikan beberapa obat untuk Nyonya Grace, kelak Tuan Thomas akan bertemu dengan dokter Aldo. Dia akan menggantikan saya karena selama dua bulan ini, saya mendapatkan tugas ke luar kota, ini nomor ponselnya, saya sudah mengatakan kepada dokter Aldo, selama ini dia juga membantu saya merawat Nyonya Grace, jadi dia paham."
Sang dokter memberikan kartu nama itu, dan Thomas menerimanya.
Saat dia membaca nama lengkap Aldo, dia tersenyum kecut.
"Astaga, aku harus berurusan dengan jomblo tiga dimensi ini, Haisssh!" ucap Thomas.
"Tuan mengenal dokter Aldo?" tanya si dokter penasaran.
"Iya, dia teman satu kampus saya yang nyasar sekolah kedokteran."
Seketika itu juga, sang dokter menahan tawanya karena memahami sifat dokter Aldo yang kocak dan lebih kepada seorang pelawak daripada tenaga kesehatan.
__ADS_1
*****