
Setelah hari kematian sang ibu, Catlyn menjadi lebih pendiam. Dia yang biasanya cerewet sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Contohnya, seperti hari ini saat pertama kali dia masuk kuliah.
Thomas yang mendapat tugas mengantar dan menjemput sang gadis, selalu berada di sampingnya. Dia membelikan banyak snack dan jajanan sesuai perkataan Tuan Fabio karena sebelumnya sang gadis memang sangat menyukai makanan ringan.
Akan tetapi, sang gadis masih dalam suasana berkabung, dia belum bisa menerimanya dengan lapang dada.
Dari tatapan matanya, nampak kesedihan yang mendalam serta kepiluan luar biasa.
Bagaimana tidak? sang Ibu adalah poros, kehidupannya, sejak kecil dia sangat dekat dengan ibunya.
Sang Ayah yang seorang pelukis dan pengajar, selalu meninggalkan dirinya di rumah bersama ibunya karena padatnya jadwal sehari-hari.
Alhasil, selama lebih dari 20 tahun sang gadis menghabiskan waktu bersama ibunya siang dan malam.
Dia selalu menangis saat sang Ibu harus pergi lebih dari seminggu, meskipun dia sudah beranjak dewasa, tapi sifat terlalu bergantung dengan sang ibu masih sangat lekat dalam jiwanya.
Oleh karena itu, saat sang Ibu pergi meninggalkannya, dia sangat terpukul.
Hidupnya seperti tidak ada gunanya lagi, sudah tiga kali sang gadis kepergok ingin bunuh diri di kamar mandi menggunakan pisau dapur.
Untung saja, Thomas langsung bergerak cepat saat dirinya meminta bantuan. Dengan bantuan dari Thomas, Tuan Fabio mampu mengendalikan sang putri sehingga Catlyn berhenti melakukan tindakan yang berbahaya.
.....
Di dalam kelas ...
Thomas masuk ke dalam kelas bersama sang gadis, semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas itu merasa iba dengan Cat.
Satu persatu mendekati Cat dan memberikan dukungan, sang gadis hanya tersenyum kemudian duduk di kursi bagian belakang.
__ADS_1
Thomas mengekor langkah sang gadis dan duduk di sebelahnya.
"Cat, kau mau minum?" tanya Thomas.
Dia menyodorkan satu botol air mineral ke arah sang gadis.
"Tidak, terimakasih," balas Cat.
Thomas tetap memaksa sang gadis untuk minum, dia selalu mengatakan bahwa jika sang gadis tidak mau, aku akan bersedih disana. Catlyn sudah 5 jam yang lalu tidak minum air putih, wajahnya juga sangat pucat.
Sang pria memang rival tetapi melihat kondisi musuhnya sedang berkabung dia tidak tega untuk mengganggunya.
"Baiklah," sahut Catlyn.
Sang gadis meraih botol minuman yang ada di depannya kemudian membuka tutup botolnya, setelah itu ia meminum sedikit demi sedikit air mineral tersebut.
Ia menatap gadis di sampingnya yang selama ini menjadi rivalnya itu dengan tatapan yang lebih dari biasanya, sang gadis terlihat sangat cantik saat sedang meminum air mineral itu.
"Kau sangat cantik," tukas Thomas.
"Ha? apa kau mengatakan sesuatu?" tanya sang gadis.
Thomas terlihat gugup saat sang gadis menatap wajahnya, seketika itu juga dia menyadari bahwa apa yang dia katakan sesuai dengan kata hatinya, dia merasa malu kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Oh, tidak. Tidak ada, aku hanya mengatakan bahwa kau berhati-hati saat minum air mineral ini agar tidak tersedak," tandasnya.
"Akan tetapi, pokoknya mengatakannya dengan singkat? tidak sepanjang yang baru saja kau katakan," seloroh sang gadis.
Mengetahui dirinya semakin terpojok, sang pria kemudian mencari ide lain.
__ADS_1
Dia melihat seorang dosen wanita masuk kedalam kelasnya.
Thomas langsung mendapatkan ide yang cemerlang.
"Itu, Bu Erna sudah datang. Lebih kita tidak terlalu banyak bicara karena dia akan memarahi semua mahasiswa hanya karena kita berisik," ungkap Thomas.
"Oh, apa yang kau katakan benar juga. Oke, aku akan menuruti apapun yang kau katakan," balas Catlyn.
Wajahnya kembali murung saat dirinya teringat akan sang ibu.
Rasanya malas untuk mengikuti kelas hari ini meskipun dia harus menyelesaikan beberapa tugas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Thomas merasa khawatir.
"No, aku baik-baik saja. Kau fokuslah dalam kuliah, aku ingin ke kamar mandi dulu," pamit Catlyn sambil beranjak dari tempat duduknya.
Dia terlihat berjalan maju dan berpamitan dengan sang dosen, untuk biasanya sangat dekat dengan Cat, jadi tidak masalah jika dirinya pergi saat waktu kelas sudah akan dimulai.
'Astaga, jika dia bunuh diri di kamar mandi bagaimana?' gumam Thomas.
Dia ini menyusul sang gadis tapi langsung dihentikan oleh sang dosen.
"Thomas, duduk!" Sang dosen langsung memberikan peringatan kepada ada sang pria yang selalu usil itu.
"Baik Bu," balas Thomas.
Sang pria tidak bisa melakukan apapun selain berdoa agar tidak terjadi sesuatu dengan sang gadis.
*******
__ADS_1