
Thomas teringat akan Cat yang masih dalam keadaan menyedihkan di bar. Dia belum bisa datang, dia masih dalam kondisi sulit.
Beberapa menit kemudian, ponsel pria itu berdering. Thomas mengetahui siapa yang meneleponnya, dia segera menjawab panggilan itu.
"Cat, maaf aku belum bisa datang." Thomas mengatakannya dengan hati yang penuh luka, dia tidak mampu membantu secara langsung, itu yang membuatnya kesal.
"Tak masalah Thomas, aku tahu kau dalam situasi sulit, aku mencintaimu juga. Itu jawabanku atas semua perasaan yang kau pendam untukku."
Deg!
Thomas terlihat rapuh, dia merasakan dirinya dalam satu kesulitan yang tak berujung. Di satu sisi, Thomas harus mengurus Grace dan di sisi lain ada cinta sejatinya yang membutuhkan bantuannya.
Sesak sekali di dadanya kala mengetahui fakta bahwa Cat, tidak bahagia.
Padahal sebelumnya, dia mau melepaskan Cat karena ingin wanita itu bahagia dengan Rama.
Namun, harapan tinggal harapan, cinta itu berbuah petaka bagi Cat.
Wanita itu tak mampu menahan rasa sakit di dadanya, saat mengetahui bahwa Thomas tidak mau datang padanya saat dia terpuruk tak berdaya.
Dia harus menerima keadaan sulit ini.
"Thomas, apa kau benar mencintai Grace?" tanya sang wanita dengan nada yang serius.
"Aku hanya mencintaimu." Thomas langsung to the point.
Deg!
Sang wanita langsung terdiam, Thomas tak mendengar suara apapun dari balik ponselnya.
"Cat, kau masih ada di sana?" Thomas memastikan jika Cat tidak pingsan, karena pernyataan cinta yang tiba-tiba ini, pasti membuat Cat syok.
Beberapa detik kemudian ....
"Thomas, mengapa kisah kita seperti ini?" tanya sang wanita dengan nada yang sendu.
"Sudah takdir kita Cat, tidak bisa kita hindari begitu saja. Apa yang ada di depan kita dalam sebuah hal yang harus kita jalani, tidak boleh kita menghindarinya. Jika kita menghindar, justru akan timbul masalah baru. Aku akan tetep membantumu, cinta ini aku korbankan untuk membantu Cat yang tidak berdaya, dia membutuhkanku," pungkas Thomas menjelaskan.
"Aku juga Thomas!" Sang wanita menegaskan apa yang dirasakannya, dia juga membutuhkan kehadiran Thomas.
"Aku paham, setelah ini, aku akan meminta temanku untuk menjemputmu. Dia seorang wanita, kau bisa tinggal bersamanya. Maaf, untuk saat ini, hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu."
"Kau sangat baik, dan aku bodoh."
"Kau baik-baik di tempat temanku Cat, dia seorang psikolog. Kau bisa menceritakan apapun, maaf Cat, aku benar-benar sedang dalam masalah, aku mohon kau mau memahamiku."
Tut ... tut ... tut ....
Thomas tak mampu menahannya lagi, dia tidak bisa berbohong kepada dirinya sendiri mengenai rasa cintanya terhadap Cat.
....
Beberapa menit kemudian ...
Setelah merenungkan apa yang terjadi, serta menghubungi temannya agar mau menolong menampung Cat, dia segera masuk ke dalam kamar utama.
Dia menatap wajah Grace.
"Grace, maaf. Aku memang bukan pria yang baik, tapi aku pastikan kau akan sembuh dengan sempurna."
Thomas sangat berharap jika istrinya mau bersabar untuk melakukan malam pertama, dia belum siap.
__ADS_1
Thomas yang duduk di tepi ranjang, hanya mampu menaikkan selimut yang turun ke kaki.
"Baik-baik Grace, kau akan sembuh."
Thomas memberikan energi positifnya, jiwa kemanusiaannya menuntun Thomas untuk mencium kening Grace.
Setelah itu, dia membelai rambut sang istri.
"Grace, aku tahu kau sangat mencintaiku. Akan tetapi rasa cinta yang kau miliki tidak ada dalam hatiku. Kita hanya akan menjadi teman dan tidak ada hal lain. Maaf Grace," ucap Thomas.
Saat dia hanyut dalam rasa sesal itu, Grace tiba-tiba mengigau.
"Thomas ... jangan tinggalkan aku," ujar si wanita dengan suara yang lirih.
Grace terlihat pucat dan berkeringat dingin, Thomas langsung menenangkan sang istri.
"Grace, aku masih ada untukmu, aku tidak akan kemana-mana."
Thomas memeluk tubuh itu, mendekapnya. Mengusap peluh yang mengalir di wajah cantik Grace.
Beberapa menit berlalu, sang wanita tidur kembali.
Thomas tetap bersama Grace di ranjang.
Dia menemani Grace hingga tertidur.
****
Keadaaan di pantai ....
Si kecil sedang bermain dengan para teman Thomas, Defril terlihat sangat bahagia.
Franky segera mengendong tubuh itu kemudian masuk ke dalam resort.
Dia menenangkan sang bocah tapi tak kunjung mendapatkan pencerahan.
Mau tidak mau, Franky harus mengetuk pintu utama dan memanggil Thomas.
Namun rasanya tidak mungkin mengganggu pengantin baru saat menghabiskan waktu bersama di dalam kamar.
Franky mengambil jalan tengah yaitu menelpon sang pria.
Dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya kemudian menghubungi Thomas.
"Thom? apakah tidur? apakah kau menghabiskan waktu bersama istrimu?
Sang teman langsung bertanya banyak hal.
"Tidak, tidak melakukan apapun karena aku sedang menunggu istri tidur, baru saja penutup mata tetapi kau menelponku jadi aku terkejut."
"Maaf Thom aku mengganggumu tapi anakmu ingin bersamamu."
"Aku akan keluar setelah ini."
"Ya."
Panggilan telepon itu pun terputus.
Franky menunggu kedatangan ayah dari sang bocah.
Beberapa menit kemudian, Thomas datang.
__ADS_1
"Ayah!!!"
Sang bocah langsung memeluk ayahnya, tangisnya yang tadi tersedu-sedu, terhenti dengan sendirinya.
"Kau kenapa?"
"Aku ingin mandi dan tidur bersama ayah."
Sang ayah mengakui jika Defril sangat dekat dengannya.
Hal kecil apapun, selalu mereka bagi bersama.
"Frank, aku minta tolong kau pantau Cat, sudah meminta temanku yang seorang psikolog yang mendampinginya."
"Aku tahu kau masih mencintai wanita itu kan?"
"Pada intinya, aku ingin Grace sembuh."
Thomas memalingkan kemudian berjalan ke kamar kedua yang merupakan kamar untuk Defril.
Franky ini kan langsung melakukan tugasnya.
Dia menelpon teman Thomas yang merupakan temannya juga.
"Bu Dok, kau sudah sampai di bar itu?"
"Tinggal beberapa menit lagi, aku terjebak macet."
"Oh, oke. Aku hanya memastikan juga kau sudah berada di bar atau belum."
"Ya, aku akan mengabarimu dan Thomas jika sudah sampai."
"Siap."
Sang teman bertanya banyak hal mengenai sang wanita yang ingin dia temui.
"Wanita itu siapa Franky?"
"Orang yang sangat Thomas cintai."
"Oh, dia Cat? aku sudah mendengarkan saat Thomas bercerita."
"Dia adalah istri dari adik tirinya yang kurang ajar."
"Astaga!"
"Iya, kau hati-hati saat bertemu dengan wanita itu. Jangan mengatakan jika Thomas sudah menikah, ini akan berdampak buruk padanya."
"Aku tidak menyangka jika Cat akan memiliki kehidupan yang lebih buruk. Aku hanya berharap Cat dan Thomas bisa bersama untuk selamanya."
Sang teman berharap yang terbaik untuk Thomas.
Rasanya sakit memang, jika tidak bisa bersama yang kita cintai, tetapi mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi dan kita hanya bisa menjalaninya saja.
"Dok, sudah dulu ya? aku masih ada pekerjaan lain."
"Siap, jalannya juga sudah lancar. Aku akan tancap gas menuju bar."
Panggilan telepon itu pun terputus, Franky menyimpan ponselnya, kemudian pergi dari resort itu.
*******
__ADS_1