Hasrat Terlarang Musuh

Hasrat Terlarang Musuh
Masih bersama


__ADS_3

Grace memilih untuk mengikuti langkah sang kekasih, sedangkan di tempat parkir Thomas dan Cat berada di dalam mobil.


"Apakah kau yakin ingin mengemudikan mobil ini?" tanya Thomas.


Sang pria meragukan kemampuan Cat, karena sejauh ini sang gadis belum pernah sekali pun terlihat menyetir di depannya.


"Belum coba, belum tahu?" ucap Cat.


Dia sangat percaya diri dengan perkataannya. Sang gadis langsung menunjukkan skill mengemudinya.


Tidak terduga, sang gadis ternyata lebih ahli dibandingkan dirinya yang sangat senang dengan balap liar.


"Astaga! ternyata kau lebih mengerikan dari apa yang aku bayangkan," balas Thomas dengan memegang handle mobil saat sang gadis mengemudikan mobilnya secepat angin berhembus.


"Haha ... kau tidak tahu jika aku juga suka balap liar," sahut sang gadis yang seperti ratu jalanan.


"Kau bilang tidak mau berjudi, apa kau bohong?" tanya Thomas merasa senang saat melihat Catlyn memiliki hobi yang sama dengannya.


"Sebelum ayah melarangku, aku pernah ikut dua kali pertandingan. Akan tetapi bukan perjudian," jelas Cat.


Sang gadis hanya suka berkumpul dengan teman-temannya saat berada di klub mobil mewah, dia sama sekali tidak mengambil keuntungan saat bermain dengan mobil mewahnya.


Dia mengikuti klub mobil itu atas nama solidaritas saja.

__ADS_1


Sudah beberapa kilometer si gadis membuat mobil sang pria berasa ikut balapan, pada akhirnya setelah puas menunjukkan kemampuannya yang lain, Catlyn berhenti.


Namun, yang menghentikan adalah anggota kepolisian.


Sang polisi langsung mencatat plat mobil Thomas.


"Tolong buka jendelanya," pinta sang polisi sambil mengetuk kaca mobil Thomas.


Mau tidak mau, Cat harus membuka jendela mobil itu, dia langsung kena tilang.


"Surat tilang," cakap sang polisi dengan surat tilang di tangannya.


Saat mencatat plat mobil itu, sang polisi tersenyum kecut.


"Kau lagi pak polisi, mengapa kau selalu di mana-mana? sepertinya kau menyukai ku ya?" canda Thomas sembari mengerlingkan sebelah matanya.


"Cih! aku males berurusan dengan, sana pergi! beruntungnya kau menjadi anak walikota," jelas Pak Polisi yang lebih memilih melepaskan Thomas daripada mendapatkan masalah lagi.


"Haha ... kau ternyata lebih paham daripada aku," timpal sang pria.


"Bukan karena kau, ini karena walikota tidak ingin nama anaknya tercoreng. Dia sangat mencintaimu, seharusnya segera pulang. Bukan balapan liar seperti ini," celetuk Pak Polisi.


"Jangan mengatakan tentang dia di hadapanku, jika sudah melepaskan lebih baik kau menyingkir dari jendela mobilku," pinta sang pria dengan tenangnya.

__ADS_1


"Astaga, kau telah berbuat salah dengan aparat kepolisian. Hm ... cepat pergi sebelum aku berubah pikiran," urai sang pria berseragam itu.


Setelah sang polisi sudah memindahkan kedua tangannya dari tepi jendela mobilnya, Thomas berkata, "Iya, bawel! oke, aku akan pergi!"


Dia meminta Cat segera mengemudikan mobilnya.


Wusshhh!


Sang gadis langsung tancap gas, namun kali ini tidak kebut-kebutan lagi.


Setelah beberapa menit meninggalkan Pak Polisi, Thomas memberitahu kepada sang gadis bahwa polisi tadi adalah pamannya.


"Ha? yang benar? astaga! aku seperti gadis bar-bar di depannya," ujar sang gadis yang merasa menjadi orang lain.


"Kau tetap cantik dan baik," balas Thomas.


"Tidak juga, aku hanya seorang anak piatu, oh ya Thomas, dua hari lagi aku akan pindah kampus di Slovakia," tandasnya..


Deg!


Sang pria terkejut bukan main, raut wajahnya seketika berubah masam membuat sang gadis bertanya-tanya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Cat sambil melirik dan mendapati perubahan wajah dari rival rasa teman itu.

__ADS_1


******


__ADS_2