
Suara pintu yang dibanting terdengar sangat nyata, Thomas yang mengetahui hal ini merasa bimbang.
Grace terlihat egois. Dia tidak mau mengalah dengan rasa didalam dadanya.
Wanita itu masih menjadi orang yang belum mampu mengendalikan diri saat sesuatu tidak sesuai dengan apa yang Grace inginkan.
Thomas memahami hal ini, dia menghampiri kamar Grace, mengetuk pintunya perlahan, namun tidak ada tanda-tanda sang pemilik kamar membuka pintu tersebut.
"Grace, jangan bawa-bawa anak kita. Aku menjelaskannya padamu."
Tidak ada suara sedikitpun dari kamar tersebut. Thomas mulai cemas.
"Oke, aku yang salah. Baiklah, mari kita menikah."
Thomas mengikuti saran dokter agar mengalah dan tidak memberatkan pasien.
Sang pria tidak bisa melakukan apapun selain mengalah, dia berhadapan dengan seorang pasien yang sedang dalam keadaan kritis.
Jika terlalu egois juga tidak baik, dia akan membunuh 1 nyawa dan membiarkan anak kecil menjadi yatim piatu.
KLEK!
Pintu kamar sang wanita terbuka, dia menangis sambil menggendong kecil dan langsung memeluk tubuh Thomas.
"Sayang, maafkan aku. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di hatiku, hidupku tidak lama lagi dan aku ingin bahagia bersamamu sebelum Tuhan menjemputku."
Grace berurai air mata saat mengatakan hal yang membuatnya sangat bahagia meskipun terasa aneh karena Thomas pasti melakukannya dengan keterpaksaan.
Thomas mencoba melakukannya dengan tulus dan apa adanya.
Grace terus saja menangis membuat si kecil bertanya-tanya.
"Ayah, ibu? kalian kenapa? mengapa mata Ibu menangis? apakah ayah jahat pada ibu?"
"Tidak sayang, ayah dan ibu akan menikah setelah ini. Nanti ada adik baru untukmu."
Thomas sudah dalam mode pasrah dan tidak akan melakukan kesalahan lagi untuk kedua kalinya.
Dia mengikrarkan diri akan menikahi Grace, keputusannya sudah sangat bulat.
Si kecil hanya bisa tersenyum karena tidak memahami apa yang kedua orang dewasa itu katakan.
Di dalam hatinya, Def hanya ingin kedua orang tuanya bahagia dan selalu bersamanya sampai kapanpun.
Grace meminta Def untuk turun dan bermain di kamar, sang Ibu ingin membicarakan sesuatu kepada ayahnya.
Dengan senang hati Def memberikan waktu kepada ibunya.
Defril anak yang baik dan penurut, dia tidak rewel dan selalu bermain sendiri.
....
Setelah Def masuk ke dalam kamar dan main game, Grace langsung memeluk Thomas dan mencium pipinya.
"Aku akan memanggilmu baby, aku sangat menyayangimu baby!" ucap Grace dan kebahagiaan yang membuncah.
Thomas mengimbangi rasa cinta itu dan mencium pipinya juga.
Sang pria tidak bisa sepenuhnya menolak karena Grace pasti akan kembali dan tidak baik untuk kesehatannya.
"Iya baby, aku juga sangat menyayangimu. Apa kita langsung menikah hari ini juga?"
"Aku mau baby."
Grace sangat antusias dalam menyanggupi pernyataan Thomas sepertinya ingin segera mengakhiri sandiwara ini dengan pernikahan yang yang menurutnya akan membawa Grace dan anaknya menjadi satu keluarga yang utuh tanpa perlu memikirkan penyakit dan kenangan masa lalu yang membuat anak dan ibu itu terluka.
Thomas menelpon salah satu temannya dan meminta persiapan sebuah pernikahan di gereja dengan tema yang sederhana.
Sang teman terkejut karena dia mengetahui bahwa Thomas sangat mencintai Cat, nama Grace yang pria itu ucapkan membuat sang teman bertanya.
"Sob! kau ingin menikahi seorang wanita yang tidak kau cintai?"
"Ada kalanya kita harus berkorban untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup ataupun membahagiakan orang lain."
Sang teman yang mendengar kata-kata Thomas, tidak bisa berkata apapun selain salut dengan pengorbanan yang pria itu lakukan.
Kebanyakan pria sangat egois dengan pilihannya, namun Thomas tetap mengedepankan rasa kemanusiaan serta cinta kasih meskipun dadanya sesak karena menghadapi wanita dengan title pasien yang harus ia jaga serta seorang anak kecil yang sangat menyayanginya.
Sang teman langsung mengatakan bahwa semua biaya untuk pernikahan di gereja dia yang akan menanggungnya, Thomas terima beres saja.
Thomas tidak menerima hal yang gratis, dia akan tetap membayar tapi sang pemain mengatakan bahwa jika pria itu membayar pertemanan keduanya akan hangus.
Thomas tertawa mendengar tentang pertemanan yang hangus. Dia merasa teman yang bernama Franky, memahami apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Pernikahan gratis yang ia berikan kepada Thomas, adalah wujud kesetiakawanan keduanya karena sejak beberapa tahun baru Thomas dan Franky memang berteman baik sebagai kolega.
Dia tidak melupakan jasa Thomas saat dia dalam keadaan terpuruk dan sang teman selalu dalam lingkaran untuk mendukungnya sampai keadaan membaik dan dia bangkit dari keterpurukan.
....
Panggilan telepon telah usai, Thomas segera menghubungi kedua orang tuanya serta kedua orang tua Grace.
Thomas mengatakan ingin pernikahan yang singkat dan sederhana, dia tak bisa menunggu lama karena penyakit Grace semakin parah.
Kedua orang tua dari Thomas dan Grace sangat setuju dengan pernikahan dan saling merestui.
Mereka hanya bisa menyaksikan dari jarak jauh Karena masih dalam pekerjaan.
Thomas tidak mengharuskan keduanya hadir pada intinya adalah restu.
....
Dia menutup panggilan telepon setelah selesai melakukan perbincangan dengan keluarganya.
Thomas menatap wajah Grace semakin lama semakin cantik saja, dia terpesona dengan wajah itu.
'Sial! Grace seperti malaikat saja wajahnya sangat bercahaya,' batin Thomas yang merasa jika mantan kekasihnya sudah jauh membaik.
Keadaannya semakin baik saat menikah dengannya.
Grace yang diam-diam berada di dapur kemudian membuatkan secangkir teh untuk Thomas, kesadaran menghampiri pria itu yang sedang berdiri menatapnya.
"Duduk baby, aku mendengar apa yang aku katakan kepada orang tuaku. Aku bahagia karena kau sangat gentle."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di depan, kedua orang tuamu itu selalu pro denganku."
"Haish! sombongnya, aku tahu kau sangat dekat dengan mereka."
Grace meminta Thomas duduk di sofa ruang tamu dan menikmati teh buatannya.
__ADS_1
Thomas menyanggupi apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Baby, aku sudah menyiapkan segalanya ke berapa jam lagi kita akan menikah, aku akan membawamu dan anak kita pergi ke gereja yang berada dekat dengan rumah Franky."
"Baik baby, aku sangat bahagia karena aku menikah denganmu."
Cup!
Sang wanita langsung mencium bibir Thomas, dia masakan desa selain karena rasa cinta yang memuncak kepada pria itu.
Untuk Thomas, dia hanya diam saja karena tidak berselera untuk bercumbu.
Grace memahami hal ini tetapi dia tetap melakukannya.
"Ibu!" pekik si kecil membuat Grace yang sedang mendominasi bibir Thomas, terperanjat karena suara lengkingan si kecil berada dekat dengan telinganya.
"Astaga! ada apa sayang?"
Grace dan Thomas seperti orang sibuk yang ketahuan melakukan.
"Game onlinenya tiba-tiba mati dan aku sangat benci, bagaimana bisa mati? aku selalu melakukan serangan yang baik untuk musuh dan milikku sendiri aku jaga."
Defril kesal karena jagoannya di game online telah mati dan penjahat merajai dunia gamenya.
Thomas tersenyum karena melihat si kecil cemberut.
"Tidak masalah sayang, setelah ini ayah dan ibu akan bermain denganmu tapi nanti ikut dengan kami ya? kejutan yang bagus untuk Defril."
"Ehm oke."
Defril terlihat malas-malasan dalam menjawab apa yang dikatakan oleh Thomas.
Rasa kecewanya tentang game yang sedang dimainkan dan tidak sesuai dengan keinginannya membuat si kecil menjadi badmood.
Grace itu dan mengajaknya bicara.
"Ayo kita jalan-jalan."
"Kemana ibu? ke tempat yang akan menyatukan kita menjadi satu keluarga yang utuh."
Defril tidak memahami apa yang dikatakan oleh ibunya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika kau tidak mengerti apa yang dikatakan oleh ibumu, ayo kita pergi bersama mengendarai mobil untuk jalan-jalan ke tempat itu."
Thomas awalnya untuk keluar dari rumah, pintu utama langsung berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
Ketiganya masuk ke dalam mobil, Thomas langsung tancap gas menuju gereja yang dimaksud.
"Ayah, kita akan ke tempat apa ya?"
"Kita akan ke gereja sayang."
"Hore! aku suka."
Defril memang sangat menyukai gereja karena di sana saya bisa bertemu dengan teman-teman dan berdoa.
Dia mengikuti kegiatan rohani di tempat itu bersama anggota keluarga yang lain saat berada di Jerman.
Sepanjang perjalanan, Defril kembali mengulang cerita beberapa bulan lalu.
Dia sangat bahagia, membuat Thomas dan Grace terharu karena perkembangan otak sang buah hati contoh pesat dan tidak ketinggalan dengan yang lainnya meskipun dia mengalami trauma atas perlakuan buruk ayah kandungnya.
"Dia sama sepertiku, bukan kau."
Grace yang berada di jok belakang bersama sang putra tersenyum karena kebahagiaan itu benar adanya di depan mata.
Grace tidak pernah menyangka bahwa pernikahan ke dengan Thomas akan segera dilaksanakan tepat pada hari ini.
Semuanya dipercepat dan dan sangat luar biasa.
....
Sesampainya di gereja ...
Di depan gereja, sama teman sudah menunggunya. Dia membawa pasangan pengantin itu masuk ke dalam mobil dan mendandaninya. Dia mengajak seorang make up wedding profesional untuk melakukan ini.
Hanya butuh beberapa menit saja semuanya telah usai, baju pengantin juga sudah mereka kenakan.
Defril terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang memukau.
Dia menatap ayah dan ibunya menghadang kedua tangannya.
"Ayah dan Ibu sangat tampan dan cantik."
"Terimakasih kasih sayang."
Thomas dan Grace menjawab secara bersamaan.
Ketiga orang itu bersama beberapa pengantin yang telah dipersiapkan oleh Thomas masuk ke dalam gereja.
Keduanya jalan menuju pendeta yang sudah siap untuk menikahkan keduanya.
Setelah berada di depan pendeta, keduanya mengucap janji pernikahan dan telah resmi menjadi pasangan suami.
Keduanya sering berciuman dan merasakan kebahagiaan yang mendalam.
"Akhirnya hal yang melakukan pernikahan," ucap ibu dari Grace yang menyaksikan pernikahan itu melalui video call bersama sang suami.
Franky menyediakan fasilitas agar kedua orang tua mempelai bisa menyaksikan pernikahan anak mereka secara hikmat walaupun lewat video call.
Setelah pernikahan yang sangat sederhana tetapi menyentuh jiwa itu, kedua mempelai memutuskan untuk pergi ke pantai untuk honeymoon mendadak.
Pantai yang mereka kunjungi adalah sebuah tempat dimana Thomas pernah membayangkan akan bersama Cat di sana.
Franky dan semua teman-teman yang membantu berlangsungnya acara pernikahan juga ikut bersama Thomas dan Grace pergi ke pantai dengan biaya yang ditanggung oleh Thomas.
Butuh waktu 2 jam perjalanan untuk sampai ke pantai itu, pantai yang berjuluk pantai kasih sayang mampu membuat Thomas terobsesi untuk pergi ke sana karena tempatnya sangat indah.
Meskipun pergi kesana tidak dengan Cat, dia merasa bahagia karena mampu menyenangkan orang lain, mampu membuat seorang wanita mendapatkan kebahagiaan kembali setelah beberapa tahun menuai keburukan karena perbuatannya sendiri.
...
Sesampainya di pantai ....
Tiga mobil membawa sama orang yang ikut bersama Thomas, parkir di depan sebuah resort yang sangat indah.
Di depannya terdapat pemandangan laut yang luar biasa memanjakan mata.
"Suamiku, ini sangat indah. Aku tidak percaya kau menemukan tempat seperti ini."
__ADS_1
"Aku adalah seorang petualang jadi bisa saja menemukan apapun di kota ini yang tersembunyi, istriku sekarang jadi mari kita membangun rumah tangga yang lebih baik kedepan."
Thomas menatap wajah Grace, meskipun rasanya sulit tapi pria itu tetap mengedepankan rasa kemanusiaannya dan menyampaikan cinta kasihnya terhadap sang istri dengan lemah lembut tanpa ada kecanggungan.
Franky dan teman-teman tidak sabar bermain pasir di pantai, dia Thomas, untuk membawa sang putra ikut bersamanya.
Sang pria memberikan izin dan dia sebenarnya juga ingin ikut, tapi Grace ingin berdua di kamar bersamanya.
"Kita sudah menjadi suami istri, aku juga ingin memberikan yang terbaik untukmu."
"Lakukan apa yang yang ingin kau lakukan."
Thomas membopong tubuh wanita itu dan berjalan perlahan menuju pintu utama.
Setelah pintu utama terbuka, dia berjalan lagi menuju kamar pengantin yang yang tidak ada bunganya, dia sama sekali belum mempersiapkan hal ini.
"Meski tidak ada bunga-bunga dirancang nya kau masih suka kan?"
"Haha ... itu hanya aksesoris aja yang penting kita akan melakukan hal yang lebih baik."
"Kau baru saja pulang dari rumah sakit, hanya akan memelukmu dan membuatmu tertidur lelap."
Deg!
Seketika itu juga Grace langsung memeluk tubuh itu, dia sangat mencintai Thomas karena pria itu selalu menjaganya, memberikannya kehangatan tapi tidak pernah merusaknya sama sekali.
"I love u Thom."
"Love u too Grace."
Cup!
Kedua anak manusia itu kembali bercumbu, namun Thomas masih dalam kendali. Dia tidak akan melakukan apapun kepada pasien.
Thomas masih memiliki rasa iba, sang istri adalah seorang pasien yang baru saja pulang dari rumah sakit, tidak ada niat untuk menyakiti sang istri.
Beberapa menit keduanya bercumbu.
Sang istri membuka kancing baju Thomas, sang suami mencegahnya.
"Nanti saja sayang, kau istirahat dulu."
"Tapi ... aku ingin."
"Kau masih lemah."
"Aku kuat."
"Jangan, kau harus menjaga kesehatanmu."
Grace menjauh dari Thomas, dia merasa kecewa.
Thomas mendekat ke arah Grace.
"Baby, kau harus bersabar."
"Tidak mau."
.....
Suasana menjadi hening, Grace duduk membelakangi Thomas.
Thomas mengingat pesan dokter. Dia tidak boleh membuat pasien merasa terluka atau pun cemas.
Sang pria menyentuh pundak Grace.
"Mari kita lakukan dengan perlahan."
Thomas tak menyangka jika ajakannya membuat si pasien langsung menyerangnya.
"Baby, pelan-pelan saja."
"Hmmm ... maaf baby, aku sangat menginginkan dirimu."
Seketika itu juga, Thomas kopi apa yang selama ini wanita itu inginkan.
Thomas memberikan sentuhan lembut di bibir sang wanita, dia tidak ingin menyakiti sang pasien jadi dia melakukannya dengan sangat hati-hati.
Setelah itu, Thomas turun ke leher dan berhenti di dada.
Dia tidak ingin melanjutkannya karena melihat wajah Grace yang semakin pucat.
"Grace, kau pucat. Aku tidak mau melanjutkan ini."
Thomas beranjak dan mengenakan baju itu di tubuh Grace.
Grace tidak bisa melakukan apapun, memang kepalanya merasakan sangat pening.
Thomas mendekat wanita itu dalam pelukan kemudian menidurkannya sampai terlelap.
Saat sang wanita masuk ke dalam mimpi indahnya, akan beranjak dari ranjang itu tetapi tangan Grace mencegahnya.
"Jangan pergi Thom, jangan temen wanita itu dan tetaplah bersamaku."
Thomas merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini, dalam hatinya selalu ada Cat tapi dia menipu Grace dengan pernikahan palsu yang terencana.
"Aku tidak akan pernah pergi kemanapun bersamamu."
Grace mengeratkan pelukannya kemudian merasakan kebahagiaan yang nyata.
Namun, bagi sang pria sendiri, posisi ini sangatlah sulit untuknya.
Dia tidak bisa pergi.
....
Beberapa kemudian wanita itu telah terlelap, kenapa tidak sadarkan diri dalam mimpinya.
Thomas perlahan meletakan tangan sang wanita yang dari tadi memeluk pinggangnya di atas ranjang.
Dia turun dari ranjang dengan hati-hati dan berusaha tidak bersuara agar Grace tidak terbangun.
"Okelah, hari ini cukup ya Grace."
Thomas keluar dari kamar itu dan segera menghubungi ayah dan ibunya.
Dia meminta kedua orang tuanya untuk segera pulang, banyak hal yang harus ia lakukan dan membutuhkan bantuan mereka.
******
__ADS_1