Hasrat Terlarang Musuh

Hasrat Terlarang Musuh
Suara Pria Asing


__ADS_3

Thomas berbincang dengan Tuan Fabio sebelum dirinya pulang kerumahnya. Perbincangan yang terlihat hangat dan penuh dengan ramah tamah. Tuan Fabio menyampaikan keluh kesahnya tentang jodoh untuk anak gadisnya.


Dia khawatir tidak dapat melihat putrinya menikah dan mengedong cucu, dia benar-benar mengkhawatirkan masa depan.


Rasanya seperti hancur seketika, saat gelombang kepiluan datang tanpa permisi.


Kepergian sang istri sangat mengejutkannya. Tuan Fabio belum mampu menerima kenyataan bahwa belahan hatinya harus pergi lebih cepat darinya. Padahal baru beberapa jam yang lalu, keduanya bercanda, menyampaikan pendapat masing-masing tentang pria yang pantas untuk sang putri tercinta.


Namun apalah daya, takdir Tuhan sudah memutuskan bahwa dirinya harus merelakan sang istri tercinta pergi keharibaannya.


Thomas menangkap bulir bening itu, bulir yang perlahan menetes dari sudut mata yang mulai berkerut, padahal usia pria itu masih sekitaran 40an tahun.


Tuan Fabio dan sang istri memang menikah di usia sangat muda yaitu, 18 tahun. Pernikahan bak Siti Nurbaya yang tak bisa dihindari, tidak mampu pergi ataupun bertahan.


Tuan Fabio awalnya terpaksa menerima perjodohan ini, akan tetapi, rasa iba terhadap gadis yang masih sebaya dengannya waktu itu, membuat dirinya belajar memahami keadaan meskipun sangat sulit dan menyakitkan.


Pada akhirnya, dia dan sang istri kala itu harus berkompromi dan perlahan menerima hal yang tidak akan pernah mereka duga akan mendapatkan kebahagiaan lepas dari segala pro dan kontra yang ada di kedua hati dalam menjalani biduk rumah tangga itu.


Ingatannya melayang jauh mencari ketenangan, walaupun bayangan sang istri tak mampu hilang dari ingatan.


Thomas meminta restu kepada Tuan Fabio untuk menemui anak gadisnya.


"Tuan, aku mau menemui Cat sebelum pulang," pinta Thomas meminta izin.


Saat dia merasa di dalam hatinya ada yang mengganjal, dia langsung mengutarakannya kepada ayah sang gadis.

__ADS_1


"Jika kau memang ingin mendengar dia marah-marah, tidak masalah," jawab Tuan Fabio sembari melirik ke arah pria yang ada disampingnya.


"Haha, mengapa Tuan menatap saya dengan tatapan aneh seperti itu? aku jadi takut." Thomas merasa pria tua yang menyatakan dirinya sebagai ayah Cat, mencoba mentransfer energi positifnya agar tak terjadi hal buruk saat menemui Catlyn di kamarnya nanti.


"Ini kan mataku, mengapa kau protes?" tukas Tuan Fabio dengan mata melotot.


"Haha, astaga! kau ini sedang berkabung Tuan, apa kau lupa?" jawab Thomas sekadar mengingatkan.


"Iya, tapi kau sangat unik, jadi aku tidak bisa berhenti ingin mengerjaimu. Aku masih berduka, kau saja yang tidak paham." Tuan Fabio tidak akan memperlihatkan apa yang ada di hatinya, dia akan menyembunyikan segalanya.


Dia sudah lebih dari 20 tahun hidup bersama Nyonya Fabio, aneh rasanya jika tidak kehilangan, dia ingin kesedihannya untuk dirinya sendiri tanpa terkecuali.


Thomas tetap memperhatikan raut wajah Tuan Fabio agar dia tidak merasa bersalah karena di saat berduka justru tertawa.


"Maaf Tuan, bukannya aku mau tertawa seenaknya, ini sedang berkabung dan aku justru seperti orang gila," tutur Thomas merasa bersalah.


Thomas menjadi salah tingkah karena apa yang Tuan Fabio katakan seolah-olah merestuinya untuk menjalin hubungan lebih serius dengan putri semata wayangnya.


Thomas memilih enyah dari hadapan Tuan Fabio. Ia membalikkan badannya kemudian berjalan yakin masuk ke dalam rumah Tuan Fabio.


Tap ... tap ... tap ....


Derap langkah kokohnya terdengar jelas, dia menuju kamar dengan pintu berwarna merah muda dengan stiker tingker bell di papannya.


Tok ... tok ... tok ....

__ADS_1


Dia segera mengetuk pintu kamar sang gadis, berharap mampu meminta maaf karena dia merasa terlalu berlebihan tadi.


Sepuluh menit kemudian ....


Sang gadis tak kunjung membuka pintu kamarnya, karena penasaran, dia menggenggam handle pintu dan segera membukanya.


KLEK!


Dia membuka pintu itu dengan hati-hati.


Saat pintu terbuka sedikit, dia mengintip apa yang di lakukan oleh sang gadis di dalam kamarnya.


Samar-samar dia mendengar suara pria ....


'Aku ikut berduka Cita Catlyn, maaf aku belum bisa datang ke rumahmu,' tutur si pria di dalam panggilan telepon.


'Terima kasih atas kepeduliannya, aku kira kakak lupa kepadaku,' terang Catlyn.


Suara isak tangisnya, masih terdengar sangat kentara.


'Apakah dia sedang berbicara dengan cinta pertamanya?' batin Thomas. Dia langsung berjalan mundur dan pergi.


"Haha ... bodohnya aku," imbuh Thomas.


Sang pria tembok merasa menjadi seorang pecundang.

__ADS_1


******


__ADS_2