Hasrat Terlarang Musuh

Hasrat Terlarang Musuh
Pergi ke rumah sakit


__ADS_3

Thomas merasa bahwa dirinya harus segera pergi ke rumah sakit, dia tidak ingin jika keterlambatannya akan membuat Defril merasakan kesedihan.


"Def, kau tunggu ayah di ruang tamu, ayah akan ganti baju dulu," pinta Thomas.


"Oke, ayah," jawab si kecil sambil membawa mainan mobil-mobilan kesukaannnya.


Beberapa saat setelah mengenakan baju yang baru, dia melihat ada secarik kertas yang ia simpan di saku celananya, jatuh di lantai.


Thomas langsung mengambilnya, setelah itu membuka secarik kertas itu dengan perlahan.


Untuk Thomas, ada kalanya kita merasa aneh dengan apa yang ada di dunia ini. Aku ingin mengungkapkan perasaanku, namun terhalang oleh dinding yang sangat tinggi menjulang. Setelah kau pergi, kehidupan kami baik-baik saja, tapi saat Rama menjelaskan fakta kedekatan kita dulu, yang hanya rival, membuat rumah tangga kami goyah. Dia tidak mempercayai apapun yang aku katakan, Rama sangat kasar kepadaku. Aku kemari untuk meminta perlindungan darimu, tolong aku! aku sangat tersiksa Thomas! cinta pertama sudah berubah menjadi derita, rasanya sesak tak terkira.


"Isi pesan Cat, pria itu ternyata sudah melakukan hal yang buruk terhadap Cat, aku akan membantumu setelah semuanya usai, Grace harus berlaku selamatkan kemudian kau, maaf! aku tidak bisa mengutamakan untuk saat ini, Defril, dia adalah alasan utamanya," pungkas sang pria yang kemudian melipat kertas itu seperti semula dan menyimpannya laci nakas.


Dia keluar dari kamar utama kemudian menemui si kecil dan menggendongnya. Setelah itu membawanya, menuju garasi.

__ADS_1


Thomas menempatkan si kecil duduk di samping kursi kemudinya sambil memasangkan sabuk pengaman.


Setelah itu, dia tancap gas menuju rumah sakit.


"Ayah, kakak itu bilang padaku jika memiliki teman yang sama seperti ayah," ucap si kecil yang masih polos itu.


"Oh ya? apa yang dia ceritakan?" tanya Thomas.


"Kakak itu mengatakan jika teman saat masih bersekolah bernama tembok, aku tidak mengetahui apapun hanya mendengar nya saja, aku tidak memahami perkataan kakak itu," jelas si kecil dengan segala kepolosannya.


Dia tetap fokus menyetir meskipun harus membagi waktu berbicara dengan si kecil.


"Ayah ... ayah, aku rindu kekak di Jerman. Ayo kita pergi ke sana," rengek si kecil.


Thomas tersenyum menanggapi si kecil yang sangat menyukai Jerman, terutama sang kakek. Dia sangat betah bermain bersama ayah dari Grace itu, semua permainan ia mainkan bersama kakek, Defril sangat merindukan Tuan Yonas.

__ADS_1


"Iya, nanti ayah pesan tiket untuk pergi ke Jerman, tapi anak tampan ayah harus berjanji, jangan mengatakan apapun kepada ibu tentang kehadiran bibi dan paman tadi, oke?"


Thomas merasa khawatir jika Grace mengetahui ada keributan di rumah, pasti kesehatannya akan kembali menurun. Pengobatan Grace sudah lama ia lakukan, namun tidak ada gunanya jika gara-gara urusan sepele, semuanya menjadi gagal.


"Oke ayah."


Sang putra yang senantiasa membawa mobil-mobilan kesukaannya tersenyum menatap wajah ayahnya senyum manis.


Selanjutnya, tidak ada lagi obrolan tentang ayah dan anak itu.


Perjalanan keduanya ke rumah sakit juga dikategorikan lancar karena tidak ada macet sama sekali.


Hari ini terasa sangat berat bagi Thomas, di sisi lain ada anak dan ibu yang harusnya ia selamat kan, di sisi lain ada wanita yang juga sangat ia cintai, membutuhkan pertolongannya.


******

__ADS_1


__ADS_2