Hasrat Terlarang Musuh

Hasrat Terlarang Musuh
Sebutan ayah


__ADS_3

Saat dua orang itu berdamai, seorang anak kecil menerobos masuk ke dalam ruangan itu dan langsung duduk di pangkuan Thomas.


"Ayah Thomas, aku mau bermain denganmu di luar," ujar si kecil Defril.


"Oke, ayo!" Thomas tidak terlalu mempermasalahkan panggilan si kecil untuk dirinya. Pada intinya adalah dia tidak ingin menyakiti hati seorang bayi yang sedang bahagia karena menemukan seseorang yang nyaman untuk ia peluk.


Grace merasa menjadi pemenang karena Thomas memilih bersamanya Dan si kecil.


Dokter Berta meredam amarah dari Sang Putri kemudian mengajaknya duduk.


"Biarkan saja, kau tidak pernah marah, dia adalah teman Thomas," jelas sang ibu memberikan informasi yang tidak bisa diganggu gugat.


"Tetap saja, aku merasa kesal saat melihatnya sombong seperti itu," cakep si Yusita.


Dia sudah berdamai dengan Grace, wanita itu masih saja membuat ulah.


Grace membiarkan dua orang di dalam ruangan itu membicarakan tentang dirinya, dia tidak peduli kedua telinganya panas karena menjadi bahan gunjingan akibat dirinya terlalu percaya diri mendekati seorang pria yang dahulunya adalah mantan kekasih yang telah ia campakkan.


Grace mendorong kursi roda sambil menata keakraban antara anak dengan mantan kekasihnya.


"Kau sangat cocok menjadi ayahnya defril," ungkap Grace mencoba memprovokasi sang putra agar Thomas mau menjadi ayah sambung dari putranya.


"Aku tidak menyukai ayah selain ayahku," jelas si bocah yang masih kecil itu tapi sudah pandai mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


Grace ternyata salah terka, dia tidak mengetahui bahwasanya sang putra lebih memilih mantan suaminya yang terlihat sangat jahat itu.


Pada dasarnya semua ayah untuk Defril itu sama saja menurut Grace, yang terpenting adalah sayang kepadanya dan sang putra. Namun, sepertinya dia lebih condong kepada pria yang ada di depannya.


"Thomas, ternyata kesan baik itu masih melekat di hati anakku, dia masih kecil untuk mengerti bahwa sang ayah memiliki wanita lain saat dia masih berada di kandungan," bisik Grace.


"Jangan pernah mengatakan apapun kepada anakmu, dia adalah putra ku juga, selama kau masih menganggap berteman," tukas Thomas.


Sang wanita merasa gembira karena Thomas segar kepadanya.


Harapannya untuk mendapatkan chitato masih terbuka lebar.


Yusita siap mundur pelan-pelan.


Dia sampai menarik baju Thomas agar sang pria mau menuruti apa yang dia inginkan.


Thomas dengan senyum manisnya menganggukkan kepala.


"Hore! jalan-jalan dengan ibu dan ayah! aku sangat senang sekali," pungkasnya.


Si bocah langsung mencium pipi dan kanan Thomas kemudian memeluknya dengan erat.


Sang ibu sangatlah bahagia melihat putranya memiliki harapan hidup kembali saat bertemu dengan anak kecil.

__ADS_1


Nyonya Dimas yang sedari tadi menerima panggilan telepon dari suaminya sambil terus menatap Thomas ikut bahagia dengan keadaan ini.


"Suamiku, aku rasa dia harus menikah dengan Grace," ucap Nyonya Dimas.


"Grace? siapa dia?" tanya Tuan Dimas sambungan telepon.


"Dia sepertinya teman Thomas waktu kuliah," tandasnya.


Keduanya kemudian berbincang mengenai perjodohan antara Grace dan Thomas.


Mereka untuk menjodohkan dua orang itu dalam satu ikatan yang suci.


Setelah perbincangan itu usai, Nyonya Dimas masukkan ponsel ke dalam tasnya kemudian berjalan menghampiri sang putra yang sedang bermain dengan Defril.


"Oma!" pekik Defril.


Thomas terkejut saat Defril memanggil ibu dengan sebutan oma.


"Oma?" tanyanya.


Pria itu masih kurang memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya, aku yang memintanya untuk memanggil oma, dan memanggilmu dengan sebutan ayah," tegas sang ibu.

__ADS_1


********


__ADS_2