Hasrat Terlarang Musuh

Hasrat Terlarang Musuh
Mengutamakan Def dan Grace


__ADS_3

Thomas menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia meminta Grace dan Defril tetap di dalam mobil sedangkan dirinya ingin membelikan gula kapuk.


Baru beberapa langkah berjalan, ia melihat sosok Rama bercumbu mesra bersama wanita lain didepan sebuah Cafe, Thomas melangkahkan kakinya lebih cepat dan menghampiri sang adik.


"Rama? apakah tidak malu dengan tindakan mu ini?" tanya Thomas saat berdiri tepat di belakangnya.


Rama yang mendengar suara dari arah belakang kemudian menoleh.


"Oh, ada pria kursi roda yang mendapatkan keberuntungan, untuk apa kau mengikutiku?" ledek Rama sambil terus bercumbu dengan gadis di depannya, membuat sang pria kesal.


"Kau harusnya kembali ke kotamu! jangan mengotori kota ini dengan tingkah bejatmu!" ucap Thomas.


Bug!


Thomas langsung memukul wajah pria kurang ajar itu, rasanya puas saat bogem mentah berhasil ia berikan kepada wajah kurang ajar Rama.


Rama meminta gadisnya untuk menunggunya di dalam mobil. Dia tidak ingin sang gadis terluka karena tindakan brutal Thomas yang dipenuhi amarah.


Adik dan kakak saling menatap, tiba-tiba suara Grace dan Defril memanggilnya.


"Ayah!"


"Thomas!"


Kedua orang yang sangat menyayangi Thomas itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan pria yang selalu membantunya itu.


Saat Grace akan menyebrang jalan dengan Defril berada di gendongannya, Thomas langsung pergi meninggalkan Rama.


"Awas kau! kita masih ada urusan!" Thomas meninggalkan sang adik tiri dengan tatapan membunuhnya.


"Hah! pria penakut!"


Thomas tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Rama.


Dia segera menyebrang jalan dan menemui Grace yang sedang menggendong putranya.


....


Sesampainya di tepi jalan...


"Thomas? kau sedang berurusan dengan siapa?" tanya Grace.


"Dia? hanya pria tidak berguna yang bertemu di jalan," jawab Thomas.


"Mana gula kapuk?" sahut Defril.


"Haha ... astaga, ayah lupa. Oke, ayo kita masuk ke dalam mobil. Ayah akan membeli gula kapuk di jalan xxx, di sana banyak penjual gula kapuk," bujuk Thomas.


"Oke."


Defril bersemangat. Dia tidak merasa sedih lagi.


Ketiga orang itu masuk ke dalam mobil, kemudian Thomas segera tancap gas menuju jalan yang dimaksud untuk membeli gula kapuk.


....


Sepanjang perjalanan, Thomas masih teringat akan kejadian yang baru saja ia saksikan.


Bisa-bisanya Rama bercumbu dengan wanita lain saat berada di tempat umum.


Thomas gelisah, dia memikirkan nasib Cat.


'Jika Rama pergi dengan wanita lain, berarti Cat?' batin pria itu bergejolak.


Dia merasa bersalah, dia tidak mampu pergi untuk menyelamatkan Cat, saat wanita yang paling ia sayangi dalam masalah yang pelik.


"Aku bodoh!" ucapnya.


Grace mendengar apa yang Thomas katakan.


"Thomas? apa kau baik-baik saja? siapa yang bodoh?"


"Pria tadi, dia telah melakukan penindasan terhadap istrinya dan pergi dengan wanita lain."


"Apa kau mengenal pria itu?"


"Tidak, Aku kan sudah bilang dia itu hanya pria yang tidak sengaja aku kenal di jalan, Aku tidak suka seorang pria melakukan tindakan yang buruk terhadap seorang wanita."


Ucapan Thomas, membuat Grace tersenyum. Dia merasa bahagia saat bisa bersama dengan Pria yang baik seperti Thomas.


Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain disisi Thomas sampai kapanpun.


Dia memang masih mencintai mantan kekasihnya itu, dia tidak memungkiri akan mengutarakan perasaan yang selama ini ia pendam.


"Thomas, setelah sampai rumah apa kita bisa bicara?"


"Bisa, memangnya kau akan membicarakan tentang apa?"


"Tentang suatu hal yang selama ini aku pendam."


"Ya, kok bisa mengatakan segalanya nanti setelah kita membeli gula kapuk dan pulang ke rumah."


Grace menganggukkan kepalanya dan dia merasa bahagia karena Thomas lebih perhatian kepadanya setelah keduanya menjadi mantan kekasih.


....


Beberapa menit kemudian mobil itu telah terparkir di samping penjual gula kapuk yang dijanjikan oleh Thomas.


Sang pria turun dari mobil kemudian menghampiri penjual gula kapuk apa itu, cara memesan 3 gula kapuk.


Setelah mendapatkan makanan manis itu, Thomas segera mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribuan.


Saat sang penjual akan memberikan kembalian, Thomas mengatakan jika uang kembaliannya itu untuk sang penjual saja.


Sang penjual merasa sangat bahagia karena dia belum laku hari.

__ADS_1


"Terimakasih Tuan, semoga kau segera mendapatkan jodoh dan bahagia dengan anak dan istrimu."


"Sama-sama Tuan, semoga Tuhan juga laris dalam berjualan."


Sang penjual mengangguk-anggukan kepalanya dia tersenyum bahagia.


Thomas segera meninggalkan sang penjual dan masuk ke dalam mobilnya.


"Satu untuk Def, satu untuk ibu Grace."


Thomas membagikan gula kapuk kepada Grace dan anaknya.


Di tangannya juga ada gula kapuk.


Thomas, Def dan Grace menikmati kapuk di dalam mobil.


Mereka bertiga menikmati makanan itu dengan sangat lahap, padahal hanya gula kapuk tetapi sangat menyenangkan jika dinikmati bersama keluarga.


"Thomas, aku melihat kau berbicara dengan penjual tadi."


"Iya, dia sepertinya belum laku jualannya."


"Kau memberinya uang atau bagaimana?"


"Aku memberikan kembalian yang seharusnya Ia berikan kepadaku, dia sangat senang atas apa yang telah aku lakukan. Padahal hanya bantuan kecil, tapi sangat berguna untuknya."


"Iya, terkadang apa yang kita lakukan, sepertinya biasa saja, namun sangat berarti untuk orang lain."


Thomas menatap Defril dari kaca tengah mobil.


Dia terdengar sedang menyanyikan sebuah lagu yang ia sukai.


"Wah, ada yang sedang bahagia?"


Grace memahami apa yang dikatakan oleh Thomas.


"Wah iya nih."


Thomas dan Grace menirukan apa yang dinyanyikan oleh sang putra.


Seketika itu juga, Defril terdiam karena malu.


Thomas dan Grace tersenyum.


Mereka berdua merasa bahagia melihat perkembangan Defril yang luar biasa.


Sebelum Thomas datang, Defril terlihat seperti bocah yang murung, dia tidak memiliki semangat untuk bermain.


Defril mendapatkan perlakuan buruk dari ayah kandungnya yang memiliki banyak wanita di luar sana.


Sejak Thomas sembuh dari kakinya yang bermasalah, pria itu selalu menjadi pelindung utama bagi Grace dan Defril.


Dia tidak mau egois, jika rasa cintanya kepada Cat harus ia korbankan, dia melakukannya meskipun dia juga pedulikan nasib dari Cat yang kini mengalami banyak kesulitan.


Namun, dia lupa jika perasaannya hanya untuk Cat, ini akan menyulitkan dirinya jika perasaan itu benar-benar menggebu dan tak terkendali, karena Grace juga memiliki perasaan cinta itu.


....


Tak terasa, mobil Thomas telah sampai di depan rumahnya.


Dia merasa senang karena hari ini bisa dilewati dengan lancar dan tanpa halangan meskipun ada masalah sedikit yang mengganjal.


"Sampai rumah! hore!" ucap Defril merasakan kegembiraan yang mendalam.


"Iya sayang."


Grace turun dari mobil bersama Defril.


Wanita itu langsung menggendongnya.


....


"Defril masuk ke dalam rumah dlu ya, beres-beres mainan Def yang akan di bawa ke Jerman. Ibu dan ayah ingin bicara sebentar."


"Oke ayah."


Defril terlihat sangat gembira hari ini, dia tidak terlihat muram seperti sebelumnya.


Thomas dan Grace menatap punggung mungil sang putra yang semakin lama tak terlihat saat putra tercintanya tercintanya masuk ke dalam rumah.


Kini hanya dua orang yang berjenis kelamin berbeda berada di dalam situasi yang canggung.


Grace merasa dirinya akan mendapatkan keberuntungan yang lebih banyak.


Dia berharap jika pria yang ada didepannya ini merespon ucapan yang dia anggap adalah pernyataan cinta.


"Thom? Aku mencintaimu."


Seketika itu juga, Grace mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


Thomas terkejut dengan pernyataan yang disampaikan oleh Grace.


"Kau mencintaiku?"


"Iya, selama ini aku memendam perasaan ini. Rasa sakit yang aku rasakan selama ini, aku tahan hanya untuk dirimu. Aku berharap kau tetap bersamaku sampai akhir hayat. Aku kau jika umurku tidak lama lagi, setidaknya kau mau hidup bersamaku dalam ikatan pernikahan."


Deg!


Thomas dalam dilema yang luar biasa, dia tidak mampu jika menolak ataupun menerima.


Dia sama sekali tidak mencintai Grace, dia yang hanya menganggap wanita itu teman dan mau menemaninya sampai dia sembuh setelah itu dia akan tetap menjadi ayah bagi Defril tapi tidak menjadi suaminya.


"Thomas? apa kau mendengar perkataanku?"


"Grace, maaf aku tidak bisa bersamamu. Selama ini, aku hanya menganggapku sebagai teman dan Defril adalah anakku. Kita tidak mungkin bersama."

__ADS_1


Sang wanita sangat terpukul, dia merasa pusing seketika.


Brug!


Grace tiba-tiba pingsan.


Thomas panik, dia segera menelpon sang dokter.


"Dok? Grace pingsan."


"Memangnya ada apa?"


"Dia meminta pernikahan, aku tidak bisa mengabulkannya ada dia kecewa."


"Sebentar, tunggu di rumah. Aku akan datang."


Thomas langsung menutup panggilan telepon itu dan menggendong sang wanita masuk ke dalam rumah.


Defril yang sedang menata mainannya dan memasukkan ke dalam tas besar terkejut melihat sang ibu dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Dia langsung berlari menuju kamar utama.


"Ada apa ayah? apakah ibu sakit lagi?"


Si pandai memang sangat peka jika sang Ibu mendapatkan masalah.


"Tidak sayang, dia baik-baik saja. Defril tidak perlu memikirkan hal lain, ayah sudah memanggil dokter. Sebentar lagi, dia apa datang ke rumah kita."


"Oke ayah, aku akan menunggu Ibu di sini bersama ayah."


Thomas terharu dengan apa yang dilakukan oleh anak kecil itu, anak kecil yang lahir dari rahim seorang wanita yang memiliki kelakuan buruk, ternyata memiliki tingkat kedewasaan yang lebih dari anak seusianya, dia bangga mampu mendidik Defril menjadi bocah kecil yang tegar dan tidak pernah mengeluh meskipun baru beberapa bulan bersama.


....


Tok ... tok ... tok ....


Pintu utama terdengar ada mengetuk.


Thomas langsung menghampiri pintu tersebut dan membukanya.


"Dok, Grace ada di dalam kamar."


Sang dokter langsung masuk ke dalam format utama dan melihat keadaan Grace.


Dia duduk di tepi ranjang kemudian memeriksa Grace dengan saksama.


"Dia syok Thomas, usahakan kau selalu mengatakan hal yang baik saja saat di depannya."


"Tapi dok, aku tidak bisa mengatakan ya di depannya."


"Lakukan dengan baik, setidaknya demi Defril."


Thomas meratap devil yang sedang mencium wajah sang ibu.


Thomas merasa iba dengan apa yang ia lihat.


Sang pria merasa tidak boleh egois, jika tidak bisa bersama, melakukan semua ini demi rasa kemanusiaan sepertinya lebih baik.


Dia berpikir dengan cepat dan mendapatkan keputusan final.


"Baik dok, aku akan mengatakan ya, untuk bersamanya. Demi Defril dan kesehatan Grace."


Dokter tersenyum atas kerelaan Thomas berkorban demi orang lain.


....


Thomas meminta dokter untuk mengontrol sang wanita tiap harinya, dia akan membayar berapapun uangnya.


Sang dokter mengerti apa yang dimaksud oleh Thomas, dia akan senantiasa memantau keadaan Grace.


....


Beberapa menit setelah melakukan pemeriksaan terhadap wanita itu, Defril dan Thomas mengantar sang dokter keluar dari rumahnya.


Kini ketika orang itu berada di halaman rumah.


"Terima dok, sudah menyempatkan datang kemari."


"Sama-sama Tuan Thomas, posisi kita sama seperti aku muda dulu. Berkorban untuk orang lain akan memberikan efek yang baik untuk kita di masa depan, aku menikahi pasienku karena si pasien hanya condong kepadaku saja waktu itu. Aku dan keluargaku tidak tega melihat kondisi pasien semakin memburuk, beberapa hari kemudian kami menikah dan puji Tuhan, kehidupan kami menjadi lebih baik dan bahagia setelah istriku sehat."


Thomas mencoba mengikhlaskan segalanya, tentang Cat dan semua kenangan nya di masa lalu.


"Iya, semoga kita bisa saling menguatkan karena kita senasib."


Thomas, tersenyum mendengar pernyataan sang dokter.


Dia merasa terhibur dengan apa yang dikatakan olehnya, secara tidak langsung sang dokter mendukungnya dalam menjalani setiap cobaan yang sedang menimpanya.


Sang dokter berpamitan untuk kembali ke rumah sakit karena ia masih banyak pekerjaan, seketika itu juga sang dokter masuk ke dalam mobil dan langsung pergi meninggalkan rumah Thomas.


"Dia sangat baik, tapi sayangnya aku tidak sekuat dia."


Sang pria kemudian mengajak Defril untuk masuk ke dalam rumah, dia ingin melihat kondisi lebih jauh dari Grace.


Tap ... tap ... tap ....


Langkah keduanya terhenti saat Grace tiba-tiba berada di depannya.


"Grace, apa kau sudah baik-baik saja?"


"Berikan anakku," ucap Grace terlihat kesal.


Thomas langsung memberikan Defril kepada Grace. Dia terlihat marah.


Bruak!

__ADS_1


__ADS_2