
Wanita itu masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri Thomas dan Yusita.
"Thom, ayo kita temui Defril, dia mencarimu," ujar Grace.
Sebenarnya ini hanya trik agar Yusi tidak terlalu menempel dengan Thomas.
Secara sadar, Grace langsung memutar kursi roda Thomas dan membawanya pergi, Yusita cemburu. Ini kali pertama Thomas mau berbicara dengannya akan tetapi si Grace justru membawa Thom pergi.
Pada saat berada di depan pintu, tiba-tiba Dokter Berta datang.
"Grace, kau mau bawa kemana calon menantuku?" tanya sang dokter.
"Dia temanku, aku akan membawanya bersama Defril, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya," pungkasnya berkilah.
Thomas mencoba memberi kode kepada sang dokter agar tidak terlihat menghalangi keinginan Grace, karena wanita itu akan bertindak berlebihan saat keinginannya tidak terpenuhi.
Dokter Berta tidak memahami kode itu, sehingga Thomas lah yang mengatakan kepada Grace, dia menegur sikap sang wanita yang tidak biasa.
"Grace, jika kau ingin pergi bersamaku, setidaknya bertanya," ucap Thomas.
"Kau tidak mau pergi bersamaku?" tanya Grace dengan raut wajah memelas.
"Ada banyak orang di sini, apalagi aku sedang mengontrol kesehatanku," jelas sang pria memberikan pengertian kepada wanita yang sudah memilki anak tapi masih saja kekanakan.
"Tapi Thomas?" cakap Grace tidak mau kalah.
__ADS_1
"Pergi saja," ujar Yusita yang kini sudah berada di antara tiga orang itu.
"Iya, aku bilang, Thomas pergi saja dengan si manja ini," pungkasnya sambil menunjuk ke arah wajah Grace.
"Kau? beraninya!"
Kedua orang itu justru saling menjambak rambut, membuat suasana menjadi tidak kondusif.
Thomas yang berada di antara dua orang yang sedang berselisih itu, langsung mengatakan," Stop!! apa kalian anak kecil? ha?" pekik Thomas.
Dokter Berta yang sedari tadi juga membantu melerai dua orang itu ikut kalang kabut.
"Dia yang memulainya Thomas," gerutu Grace.
"Aku juga tidak memulai, tapi dia terlalu songong," sindir Yusita.
"Kau itu sudah tua, masih saja banyak ulah. Grace, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, stop mencari keributan," ungkap Thomas.
Dia menatap wajah Grace yang merah padam. Dia kesal.
"Tapi Thomas, aku masih ...." Grace tidak ingin secepat itu mengatakan hal yang sebenarnya.
Dia merasa sangat malu jika Thomas menolaknya tepat didepan sang rival.
"Ada apa? masih apa maksudmu? kau dan dia bukannya tidak saling mengenal?" tanya Yusita dengan melipatkan tangan di dadanya.
__ADS_1
Dia ingin mengetahui sejauh mana Thomas memiliki hubungan dengan sepupunya.
"Kami teman satu kampus," celetuk Thomas.
"Sorry, urusanku di sini telah usai. Pertengkaran kalian juga harus di selesaikan. Tidak baik membuat orang tua pusing," ungkap Thomas sambil melirik ke arah Dokter Berta yang hanya bisa menyimak.
Grace memilih tetap tinggal, Yusita juga sama.
Dua orang yang tidak mau mengalah.
Dokter Berta langsung menelepon kantor polisi.
"Halo kantor polisi? ya ... di sini ada dua wanita yang sedang membuat ulah, tolong ringkus. Mereka ada di jalan xxxx," tandasnya.
Sang dokter memiliki rencana jitu untuk membuat dua orang gila ini berhenti bertengkar.
"Ibu! tega sekali!" pekik Yusi.
"Biarkan saja! dua jam lagi pihak kepolisian akan datang, siap-siap untuk mendapatkan hukuman," jelas sang dokter.
Dua wanita itu bingung, Grace langsung mengulurkan tangannya.
"Maaf, aku yang salah."
Untuk pertama kalinya, si manja mau menuruti perkataan selain ayah dan ibunya.
__ADS_1
Yusi yang merasa lebih baik berdamai, menyambut baik uluran tangan itu.
*********