
Thomas mengampit tubuh yang memberontak itu dengan kedua tangan dan kakinya.
Cup!
Thomas mendaratkan ciuman penuh makna kepada Cat, seakan-akan dia iri. Sang rival merasa jika dirinya yang harus mendapatkan ciuman itu, bukan si Rama.
Bukannya menolak, justru Cat menikmati ciuman itu dengan perasaan sadar. Dia bahkan menarik tengkuk Thomas sampai si pria benar-benar menindihnya.
Thomas menyadari jika apa yang dilakukannya akan membuat keadaan semakin buruk.
Dia langsung melepaskan pertautan bibir itu.
Thomas berdiri dan berbalik, dia malu menampakkan wajah aslinya di depan gadis pujaannya.
“Apa ini tembok? Kau menciumku dengan penuh cinta?” sahut Cat.
Dia mendekati Thomas dan mencengkeram pundaknya.
“Aku calon adik iparmu, mengapa kau mau bermain api dibelakang Rama?” cakap sang gadis yang kini menggoda Thomas.
Sang gadis bahkan memeluk tubuh itu dari belakang dan mengaitkan lengannya di pundak sang pria.
“Kau mencintaiku?” tanya sang gadis berterus terang.
Thomas masih diam, dia terjebak permain-nya sendiri.
__ADS_1
“Katakan sesuatu, jika kau sangat menginginkan ku,” jelas Catlyn.
Seketika Thomas tidak melanjutkan khilaf nya, dia memikirkan sang ibu.
Dia memukul kepalanya sambil komat kamit.
Tiba-tiba suara seorang gadis menegur aksinya.
“Tembok? kau baik-baik saja?” tanya gadis itu yang ternyata adalah Cat.
Cat kebingungan dengan ulah tembok yang sedari tadi hanya melamun menatapnya.
“Maaf Cat, aku khilaf,” ungkap Thomas.
Rama sudah standby di samping Cat dengan tangan melingkar di pinggangnya.
“Kakak ada perlu apa dengan calon istriku?” tanya Rama.
Dia mengeratkan tangan yang sedari tadi berada di pinggang aduhai Cat. Thomas akhirnya menyadari bahwa apa yang terjadi hanyalah khayalannya semata.
“Tidak, hanya saja tutup pintu kamarmu jika sedang bermesraan. Ada anak kecil disini, matanya bisa ternoda karena ulah kalian berdua,” tandasnya.
Thomas membalikkan badannya kemudian merasa sangat buruk. Raut wajahnya malu setengah mati.
“Ini akan menjadi pengalaman terburuk,’ gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Dia kembali ke habitatnya, harusnya dia tidak terlalu membayangkan hal aneh saat menatap wajah Catlyn.
....
Setelah Thomas enyah dari hadapan keduanya, Nyonya Dimas terlihat berjalan ke arah calon menantunya.
“Kau mau pulang nak?” tanya Nyonya Dimas.
“Iya ibu, ada banyak hal yang harus aku kerjakan,” jelasnya.
Catlyn sangat repot hari ini, dia harus melakukan banyak hal di sekolah khusus pengemis dan anak jalanan yang ia bangun di bekas lapangan tenis yang berada dekat dengan lingkungan rumahnya yang masih asri. Dia memang penggiat sosial anak-anak kurang mampu yang masih dan memiliki minat tinggi dalam belajar.
Sang ibu mertua memahami hal ini, dia segera meminta Cat pulang ke rumah, karena sang ayah tidak ada di rumah, Cat tidak bisa bertemu dengan calon ayahnya.
Saat dia berjalan melewati ruang tamu. ada Grace, Thomas dan Defril terlihat bermain bersama dalam kebahagiaan.
“Thomas, adik iparmu mau pulang,” cakap sang ibu.
Nyonya Dimas merasa Cat dan Thomas tidak saling menyukai satu sama lain. Dia ingin Thomas tetap bersikap baik meskipun dengan adik ipar saja.
“Hm,” kata Thomas dengan suara deheman yang terdengar malas.
Dia masih duduk di kursi roda, tempat satu-satunya yang menjadi tumpuan hidupnya kini.
***
__ADS_1