
Zeno yang sudah menyelesaikan aktifitas mandinya, keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas pinggang yang memperlihatkan badan sispacknya.
Zeno berjalan kearah nakas yang berada disamping ranjangnya dengan tangan kanannya mengusap-usap rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil berwarna putih.
Zeno ingin mengecek ponselnya, sesampainya didepan nakas, ia meraih ponsel itu dan membukanya, ada Sembilan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk, ia menyipitkan matanya tak kala salsa sang kekasih yang menelfonnya dan mengirimkannya pesan, zeno pun membuka pesan masuk yang dikirimkan salsa untuknya, zeno membaca satu persatu pesan itu, pesan itu berupa umpatan dan kemarahan salsa terhadap zeno yang tidak menjawab panggilan telpon dan pesannya, zeno lalu mendudukkan badannya disamping ranjangnya seraya memijat kepalanya yang terasa pusing kembali karna pesan dari salsa itu “pasti saat ini dia marah, aku harus menelfonnya” gumam zeno
Disaat zeno akan menelfon balik salsa, pintu kamar zeno terbuka memperlihatkan fani disana dengan membawa sebuah nampan yang berisikan bubur dan juga teh hangat.
“Kyaaaaa” jerit fani, seraya menutup kembali pintu kamar.
Zeno menautkan alisnya heran “kenapa dengan gadis itu” batin zeno, lalu zeno melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, sesampainya dipintu kamar, zeno membuka pintu kamar itu dan melihat fani masih tetap berada dibalik pintu kamar luar sambil memejamkan matanya“kamu kenapa” Tanya zeno heran,
“ke-kenapa kaka tidak memakai baju”ujar fani terbata yang masih memejamkan matanya.
Zeno mengarahkan matanya kebadannya “aku habis mandi, wajar bukan kalau belum memakai baju,” ujar zeno sambil menggapai tangan fani dan menyeretnya pelan untuk masuk kedalam.
Dirasa fani sudah masuk kedalam kamar, zeno pun menutup pintu kamar “buka mata kamu, aku ini suami kamu wajar jika aku bertelanjang dada didepanmu”
“ta-tapi, aku tidak terbiasa” ujar fani yang masih tetap saja menutup matanya
“mulai sekarang kamu harus bisa terbiasa, aku bilang muka matamu fani”
__ADS_1
Fani perlahan membuka matanya, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah dada bidang suaminya yang putih dengan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus.
Fani menelan salivanya, lalu gadis itu memalingkan pandangannya dan berjalan kearah nakas “ap-apa kaka masih pusing, ini fani buatkan bubur dan teh untuk kaka” kata fani sedikit gugup, sambil meletakkan nampan diatas nakas.
“sedikit” ujar zeno melangkahkkan kakinya menuju dimana fani berada.
Fani mengambil mangkuk yang berisikan bubur lalu menyerahkannya kepada zeno yang sudah duduk ditepi ranjang.
Zeno bukannya mengambil mangkuk itu, malah ia menarik pelan tangan fani yang menyebabkan gadis itu terduduk dipaha zeno “Suapi aku”
Fani sontak saja kaget dengan tingkah zeno yang tiba-tiba menyeret tangannya “ak-aku akan menyuapi kaka tapi, jangan seperti ini” ujar fani yang merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang.
“kenapa memangnya, aku nyaman dengan posisi kamu berada dipangkuanku, cepat suapi aku” ujar zeno santai.
“terserah”jawab zeno cuek.
Fani mau tak, mau menyuapi suaminya dengan ia yang berada dipangkuan zeno, saat sedang menyuapi zeno, fani merasakan sesuatu dibawah sana, fani membulatkan matanya “apa itu”batin fani.
Fani yang merasa sudah sangat tidak nyaman dengan posisinya saat ini, sontak berdiri yang membuat zeno kaget, disaat fani sudah berdiri dan menghadap zeno, tanpa tidak sengaja matanya melihat kearah paha zeno. disana ada sesuatu yang mengembung dibalik handuk yang dikenakan zeno, fani menyodorkan mangkuk yang berisikan bubur ke zeno “ka-kaka makan sendiri saja, aku melupakan sesuatu, tadi mama menyuruhku untuk menemuinya” ujar fani gugup dan berlari keluar kamar.
Zeno yang sudah ditinggalkan oleh fani, itu masih duduk diam di tepi ranjang sambil memegang mangguk bubur yang disodorkan fani tadi.
__ADS_1
Zeno menatap kebawah, ia berdecah sebal melihat juniornya dibalik handuk putih itu “kau ini tidak tau situasi”ujar zeno kesal kepada juniornya dibawah sana.
Kalau sudah begini mau tidak mau zeno kembali kemar mandi.
Tadi zeno sedang menikmati saat-saat fani berada dipangkuannya dan menyuapinya dengan lembut, zeno mencium bau harum yang berada di badan dan rambut fani. Saat sedang asyik-asyiknya menikmati itu semua, dengan sengaja juniornya malah bangun, yang menyebabkan fani berdiri dan berlalu pergi dari hadapanya.
Fani yang sudah keluar dari kamar suaminya, ia masih saja berdiri di balik pintu keluar kamar zeno, ia memegang dadanya yang berdegub kencang, fani tentu saja masih awam dengan kejadian tadi didalam kamar.
Fani menarik nafas pelan untuk menghilangkan kegugupannya, disaat fani sedang menarik nafas lalu membuang nafasnya.
Suara lelaki mengagetkannya,
“Fani..”panggil seseorang
“ka tama” jawab fani kaget
“sedang apa kamu didepan pintu kamar ka zeno” Tanya tama heran
“apa kamu tidak diperbolehkan oleh ka zeno untuk masuk kedalam” Tanya tama kembali
“tidak bukan, bukan begitu, aku baru saja dari dalam, ini aku akan kebawa untuk menemui mama”
__ADS_1
Tama, adik zeno menganggukkan kepala “ yasudah kalau begitu” kata tama yang berlalu pergi dari hadapan fani untuk menuju kamarnya yang berada tepat disamping kamar zeno.
TBC