
Zeno memasuki appartemen dengan langkah kaki yang besar, lelaki itu tidak sabar untuk segera menemui fani dan melihat kondisi fani.
Pintu appartemen pun terbuka, dengan sedikit berlari zeno langsung menuju kekamar fani. Pintu kamar fani sedikit terbuka, zeno langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu, disaat pintu kamar fani dibuka lebar oleh zeno, ia melihat fani yang sedang tertidur diatas ranjangnya dengan masih mengenakan seragam sekolah.
Zeno melangkah mendekati fani, ia duduk disisi ranjang dan mulai melihat fani dari atas sampai bawah, zeno melihat luka yang terdapat di tangan dan kaki fani, wajah fani sedikit pucat, zeno menyentuh luka yang berada dilengan fani, “hmmm” fani menggeliatkan tangannya yang disentuh oleh zeno, mungkin karna berasa ada yang menyentuhnya dan masih terasa nyeri.
“Fan,,”
“Fani” panggil zeno lembut dan pelan, sambil tangannya menngelus-elus pipi chubi fani
“hmm..”fani mulai membuka matanya perlahan, pemandangan yang didapat saat ia membuka matanya adalah sosok zeno yang tersenyum kearahnya.
“ka zeno” kaget fani lalu bangun dan memposisikan badannya untuk duduk, disaat ia akan mendudukan badanya tanpa tidak sengaja tangannya yang terluka menyenggol sedikit bantal dan “awss” ringis fani
“mana yang sakit” tanya zeno perhatian,
“tidak apa-apa ka” seru fani
__ADS_1
“kenapa bisa seperti ini?” tanya zeno sambil memegang luka dikaki fani dengan lembut.
“tadi aku bersama dengan fitri ingin menyebarangi jalan, akan tetapi tiba-tiba ada motor dan tanpa sengaja menabrakku” ujar fani menceritakan kronologinya.
“mulai besok, akan ada supir yang akan mengantar dan menjemputmu sekolah”
“aku tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali, dan mulai besok juga kamu tidak perlu berkerja dicafe itu lagi” ujar zeno
“tapi ka” seru fani ingin protes
“tidak ada tapi-tapian fan, lagi pula aku ini suami kamu sudah seharusnya kamu tanggung jawabku dan kamu juga harus mengikuti semua apa yang dikatakan oleh suamimu ini, “ ujar zeno mutlak
Fani ingin beranjak dari tempat tidurnya, ia ingin mengganti seragamnya dengan baju rumahan, akan tetapi disaat ia akan berdiri tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan ia pun sedikit oleng dan akan terjatuh, zeno yang melihat fani ingin jatuh itu pun dengan sigap menangkap tubuh fani “fan, kamu kenapa?, Ya tuhan badan kamu panas” ujar zeno yang merasakan suhu ditubuh fani panas.
“kepala ku pusing ka” seru fani pelan dan dengan wajah yang tampak sangat pucat.
Zeno kembali membaringkan tubuh fani ke tempat tidur “lebih baik kamu istrihat saja, mungkin karna efek yang ada diluka mu yang menyababkan suhu badanmu panas” seru zeno.
__ADS_1
Fani hanya menganggukkan kepala dan memejamkan matanya kembali, untuk membuka matanya saja terasa berat, ia merasa badannya terasa lemas dan tidak memiliki tenaga.
Zeno dibuat khawatir dengan kondisi fani seperti ini, ia pun bingung apa yang harus ia lakukan. Disaat zeno sedang berfikir apa yang akan ia lakukan. Ia yang masih mengenakan baju kantornya, merasa panas dan gerah ditubuhnya, “panas sekali diruangan ini”gumam zeno, sambil matanya menelusuri kamar fani yang kecil.
“bagaimana kamu bisa betah fan, berada dikamar yang pengap dan kecil seperti ini, maafkan aku karna sebelumnya aku telah membuatmu menderita” lirih zeno kepada fani yang memejamkan matanya,
Zeno yang sudah tidak betah berada dikamar fani itupun mengangkat tubuh fani untuk ia pindahkan kekamarnya, sesampainya dikamar zeno. Ia merebahkan tubuh fani diatas ranjangnya lalu menyelimutinya sampai atas dadanya.
Sejenak zeno, beranjak untuk menuju kekamar mandi, lelaki itu akan mandi untuk membersihkan badannya, selesai mandi zeno masih melihat fani memejamkan mata.
Zeno berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil baskom berukuran kecil yang ia isi dengan air lalu berjalan menuju kamarnya, sesampainya dikamar zeno mengambil sapu tangan didalam lemari untuk ia kompreskan dikening fani.
Dulu sewaktu ia kecil mama seli pernah melakukan itu kepadanya, zeno masih mengingat jelas kejadian masa kecilnya itu, oleh sebab itu ia akan melakukannya juga kepada fani.
Zeno mulai mengompres fani dengan sapu tangan yang ia taroh di kening fani, ia mengelus pipi fani dengan lembut dan sayang, zeno sangat menyukai jika menyentuh pipi fani yang chubi ini, zeno tersenyum melihat wajah fani yang damai dan menurutnya sangat cantik saat sedang memejamkan mata.
“maaf atas kesalahan yang aku perbuat sebelumnya, aku janji akan mengubah itu semua,” ujar zeno lalu mencium pipi fani.
__ADS_1
TBC