Heart Choice

Heart Choice
Episode 61


__ADS_3

Tadi fani meminta zeno untuk langsung saja kecafe nico, namun zeno yang mendengar perut fani berbunyi tanpa meminta izin dan tanpa sepengetahuan fani. Zeno membelokkan mobilnya ke restoran jepang untuk mereka makan siang bersama.


“kok kita kesini” tanya fani heran yang mendapati mobil zeno berhenti diarea parkir restoran jepang.


“aku lapar, jadi aku mampir kesini untuk makan, lagi pula aku juga belum makan siang”


“ayo turun” lanjut zeno mengajak fani untuk turun dari mobil


Fani pun mau tak mau turun dari mobil dan berjalan memasuki restoran itu.


Sepanjang perjalanan dari area parkir hingga ingin masuk menuju restoran semua mata pengunjung tertuju pada zeno. Zeno tampak tampan dengan masih mengenakan jas dan baju kerjanya dan taklupa menggunakan kaca mata hitamnya, badan yang gagah dan wajah yang tampan dengan postur tinggi badan yang pas, membuat kaum hawa menjerit tertahan melihatnya.


Fani yang melihat semua mata perempuan muda tertuju pada suaminya itupun tampak minder karna ia berfikir ia tidak sepadan jika berjalan bersama zeno, al hasil membuat fani yang berjalan dibelakang zeno itu pun menundukkan kepalanya kebawah.


Sesampainya diambang pintu masuk restoran zeno menghentikan langkahnya untuk menelusuri dan mencari meja mana yang masih kosong agar bisa dapat ditempati olehnya dan juga fani. Dan tiba-tiba saja zeno yang masih terdiam diambang pintu merasakan punggungnya tertabrak oleh sesuatu.


“BRUGG”


“Aww”ringis fani sambil memegang keningnya yang terkena punggung belakang zeno


“apa yang kamu lalukakan fan” tanya zeno yang tadi merasakan punggungnya tertabrak oleh sesuatu dan disaat ia melihat siapa yang menabraknya, ia pun terkejut yang ternyata fanilah yang menabraknya.


“tidak apa-apa” ujar fani malu


“sini” ujar zeno yang langsung merengkuh pinggang fani untuk berdekatan dan bersejajar dengan badannya.


Fani yang merasa risih atas rengkuhan zeno karna para pengunjung melihatnya itupun melepaskannya, namun usaha fani sia-sia, zeno malah semakin mengeratkan rengkuhannya.


“diam” ujar zeno yang merasakan pemberontakan fani


“dilihat orang tidak enak ka” ujar fani


“makanya kamu diam” ujar zeno kembali,


Zeno masih berdiri diambang pintu masuk, namun kali ini ia sudah disamping kanan pintu, jadi tidak mengganggu para pengunjung yang mau masuk atau pun keluar restoran.


“permisi tuan, ada yang bisa saya bantu” ujar pelayaan menghampiri zeno dan fani


“aku ingin memesan meja untuk dua orang” ujar zeno kepada palayan tersebut, karna zeno melihat semua meja sudah penuh.


“baik tuan, silakan ikuti saya”ujar pelayan itu menuntun zeno dan fani untuk menuju meja paling ujung.


Sesampainya dimeja itu, fani dan zeno duduk berhadapan “kamu mau pesan apa” tanya zeno yang membuka buku menu untuk melihat-lihat apa saja yang akan ia pesan.


“samakan saja dengan kaka” ujar fani


“kamu yakin? ujar zeno sambil tersenyum


“ya” jawabnya singkat

__ADS_1


“baiklah” jawab zeno


“mas, saya pesan sushi, yakitori, okonomiyaki, sama ramen dua dan untuk minumnya macha dua” ujarnya kepada pelayan dan pelayan pun mencatat semua pesanan yang disebutkan oleh zeno tadi.


“baik tuan, mohon ditunggu” ujar pelayan itu dan berlalu pergi


Selang beberapa menit pelayan kembali datang dengan membawa semua makanan yang dipesan oleh zeno tadi.


“silahkan dinikmati” ujar pelayan itu


“terima kasih” ujar zeno kepada pelayan itu dan dibalas senyuman oleh sang pelayan.


“ayo makan” ujar zeno kepada fani.


“Hmmm” balas acuh fani, sesungguhnya fani masih sedikit kesal dengan zeno atas kejadian tadi dimobil.


Zeno yang melihat fani makan dengan ogah-ogah yang seperti tidak niat itupun pada akhirnya Nampak kesal dan geregetan sendiri. Yang membuat ia berpindah duduk disamping fani, yang mulanya ia duduk berhadapan dengan fani yang dibatasi oleh meja.


Zeno mengambil satu potong sushi dengan sumpit dan ia arahnya kedepan mulut fani. “buka mulut mu” perintah zeno


“aku bisa makan sendiri,” ujar fani


“buka mulutmu” ujar zeno sekali lagi, yang dijawab oleh fani gelengan kepala


“keras kepala sekali” ujar zeno lalu mencengkam kedua pipi fani menggunakan tangan kiri zeno sedangkan tangan kanan zeno ia gunakan untuk memegang sushi menggunakan sumpit.


“dasar pemaksa” ujar fani akan tetapi kata-kata itu terdengar seperti gumaman, dikarenakan terdapat sushi didalam mulutnya.


“jika aku tidak memaksamu, kamu tidak akan makan”


“lagipula perutmu sudah bernyanyi dari tadi, dan itu menggangguku” ujar zeno kepada fani.


Fani malu ternyata zeno mendengar perutnya berbunyi, karna kepalang malu, fanipun pada akhirnya diam.


“AAAA” ujar zeno kepada fani dan mengarahkan satu potong sushi lagi kedepan mulut fani.


Fani memelengoskan wajahnya kesamping “aku bisa makan sendiri” Ujarnya lalu mengambil alih sumpit yang ada ditangan zeno.


“baiklah” ujar zeno dan tersenyum


Zeno yang melihat fani memakan sushinya yang kali ini dengan lahap itupun tersenyum “sepertinya dia menyukai sushi” batin zeno, dan ia pun kembali ingin memesan sushi lagi.


Ia pun mecari pelayan dan menyusuri matanya keberbagai arah untuk menemukan pelayan dan disaat mata nya menelusuri, sekilas ia melihat salsa yang akan keluar restoran dengan menggandeng seorang pria.


“salsa” gumamnya sambil menyiptkan kedua matanya supaya tidak salah lihat, dirasa yakin bahwa itu salsa, Sontak zeno berdiri dan berjalan kearah pintu masuk dan keluar, untuk mengejar salsa.


Sedangkan fani, hanya bisa melihat punggung zeno yang berlari keluar restoran untuk mengejar salsa. Fani juga tadi mendengar bahwa zeno menyebut nama salsa. Tentu fani mendengar zeno menyebut nama salsa, zeno saja sedang duduk disampinnya, jadi wajar bukan jika fani mendengarnya.


Meja yang diduduki oleh zeno dan fani cukup jauh dari pintu masuk restoran karna meja zeno diujung pojok. Dan disaat zeno berlari kecil untuk mengejar salsa, tanpa sengaja ada anak juga yang berlari dari arah berlawanan dengan zeno sambil membawa segelas minuman yang alhasil mereka bertabrakan dan anak kecil itupun terjatuh dengan minuman yang ada ditangannya ikut jatuh juga

__ADS_1


“PYARRR” suara gelas terpecah


Sontak semua pengunjung menolehkan kesumber suara.


“ya tuhan maaf kan aku” ujar zeno kepada anak kecil itu, akan tetapi matanya juga melihat kearah pintu keluar


“Attar” ujar ibu anak itu yang berjalan kearah zeno dan anaknya.


“kamu tidak apa-apa” ujar ibu itu kepada anaknya


“tidak ma, aku yang salah bukan Om ini” ujar attar nama anak itu


“maaf kan anak saya ya pak” ujar sang ibu mewakili permintaan maaf sang anak


Zeno yang takut kehilangan jejak salsa hanya menganggukkan kepalanya dan kembali berdiri lalu berlari kearah pintu keluar.


Disaat zeno sudah tiba dipintu keluar, ia tidak mendapati salsa disana “aku yakin itu salsa” ujar zeno bermonolog kepada diri sendiri.


“lalu siapa pria yang bersamanya tadi?” lanjut zeno


Merasa tidak mendapatkan hasil apa-apa, akhirnya zeno kembali kemejanya yang dimana ada fani disana.


Zeno kembali duduk disamping fani, dan meminum minumannya untuk menghilangkan dahaga. Dan, untuk sesaat meja yang dihuni zeno dan fani Nampak hening. Zeno yang masih diam dan melamun dengan pikirannya tadi melihat salsa sedangkan fani, merasa kesal dan diabaikan oleh zeno.


“kok makanannya gak diabisin” ujar zeno yang sudah tersadar dari lamunannya dan kembali fokus kepada fani, akan tetapi disaat ia sadar fani sudah tidak memakan makanannya dan malah memainkan ponselnya.


“kenyang” ujar fani cuek


“ini belom semua habis loh, ayo habisin” ujar zeno lembut.


“kaka denger gak sih aku bilang apa tadi , AKU KENYANG” ujar fani yang sedikit meninggikan nada suaranya.


sesungguhnya fani tidak ingin berbicara keras terhadap suaminya, tapi rasa sesak didadanya saat zeno menyebut nama salsa dan berlari untuk menemuinnya membuat fani marah, kesal, dan.. dan Entahlah, fani juga tidak tau kenapa ia bisa semarah ini kepada zeno, tapi fani menduga bahwa ia cemburu. Tapi apakah benar ia cemburu, sedangkan yang dicemburui saja saat ini dihati dan pikirannya sedang memikirkan wanita lain, yang lebih lama bersamanya.


Sedangkan Zeno, ia kaget dengan sikap fani yang menurutnya bukan karakter istrinya. Fani tidak pernah membentak ataupun bernada keras terhadapnya. Setau zeno istrinya ini adalah gadis yang penurut dan lemah lembut. Dan ini hal yang baru diketahui oleh zeno.


“aku ingin segara pergi ke café ka nico” ujar fani cuek tanpa melihat wajah zeno yang masih syok dengan sikap fani tadi.


Zeno hanya menganggukkan kepala dan “pelayan” panggil zeno kepada pelayan, Dan sang pelayan pundatang.


“berapa semuanya” lanjut zeno


Lalu sang pelayan memberikan bill kepada zeno, dan zenopun mengeluarkan kartunya untuk membayar semua makannya.


Dirasa semuanya sudah beres, zeno pun berdiri dan mengajak fani untuk keluar “ayo” ajak zeno dan meraih tangan fani untuk ia genggam. Namun, belum sampai zeno meraih tangan fani, fani sudah berdiri dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan zeno yang masih ditempat dan ia pun kembali terdiam dengan sikap fani.


Zeno memperhatikan tangan kirinya yang masih mengambang ditempat dimana fani berada, “apa dia mengabaikkanku?” monolog zeno.


TBC

__ADS_1


__ADS_2