Heart Choice

Heart Choice
Episode 40


__ADS_3

(mohon maaf sebelumnya jika masih ada typo, Happy reading)


Zeno dan Fani sudah berada dikamar untuk mengistirahatkan badannya, seusai mengobrol diruang tamu tadi om dan tante zeno kembali pulang ke hotel.


Zeno berbaring diatas ranjang dengan matanya melihat keatas atap rumahnya, pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan fani disana yang sudah menyelesaikkan aktivitas mandinya, fani melihat zeno sudah ada diatas ranjang, mungkin zeno ingin bersiap untuk tidur pikir fani, fani lalu melangkahkkan kakinya kesofa untuk tidur, zeno yang melihat fani berjalan menuju sofa dibuat heran, zeno pun lalu bertanya “ mau kemana kamu?”


Fani berhenti “ingin tidur”


“tidur?, kenapa malah menuju kesofa, bukan kesini? Tanya zeno heran sambil matanya melirik keranjang sampingnya yang masih kosong


“bukankah aku tidur disini” ujar fani sambil menujuk kearah sofa


Zeno baru ingin, bahwa dulu saat ia awal menikah dengan fani, ia sudah memberikan kesan buruk terhadapnya, zeno pun merasa bersalah “tidak, kemarilah tidur disampingku” ujar zeno lembut.


“kaka yakin?”tanya fani,


Zeno menganggukkan kepala dan menepuk-nepuk ranjang disampingnya yang masih terlihat kosong, fani lalu berjalan pelan kearah ranjang dimana zeno berada, sesampinya di ranjang, fani merebahkan badannya diatas ranjang itu.


Zeno lalu menyelimuti badan fani sebatas dada dan ikut merebahkan tubuhnya disamping fani.


Kedua manusia itu, tidur terlentang dengan matanya menatap keatap langit-langit


“fan” panggil zeno, yang posisinya masih menatap keatas.


“Hemmm” jawab fani


“maaf kan aku” ujar zeno

__ADS_1


“untuk apa” tanya fani, kali ini kepala fani ia telohkan ke zeno, zenopun ikut menolehkan kepalanya untuk menghadap ke fani, yang kali ini baik zeno maupun fani sama-sama saling berhadapan dengan posisi berbaring.


“semuanya, semua perbuatan burukku yang sudah aku lakukkan kepadanmu selama ini” ujar zeno


Fani tersenyum tipis “bukankah waktu itu kaka sudah meminta maaf, dan akupun sudah memaafkan kaka”


“kenapa kamu gampang sekali memaafkan aku” tanya zeno


“karna kaka suamiku, ibu dulu juga pernah berkata kita sebagai umat manusia harus saling memaafkan, manusia tidak pernah luput dari sebuah kesalahan bukan, lagipula aku memaklumi kesalahan yang kaka perbuat terhadapku”


“kenapa?” tanya zeno


Fani mulai mengeratkan kedua tangannya kepada selimut putih tebal itu “dulu fani juga sempat tidak mau menerima pernikahan ini, fani masih mempunyai cita-cita yang ingin fani gapai, fani ingin kuliah setelah lulus sekolah, fani ingin mempunyai toko bunga dengan usaha dan jerih payah fani sendiri, fani ingin mengajak ibu jalan-jalan keliling dunia, tapi khayalan ku dan semua cita-citaku itu harus fani kubur dalam-dalam disaat ibu malah pergi meninggalkan fani untuk selama-lamanya, disaat itulah fani berfikir bahwa fani sudah tidak mempunyai siapa-siapa didunia ini, akan tetapi tuhan masih baik kepada fani, fani dipertemukkan dengan mama seli, yang ternyata sahabat dari ibu. Ibu memberikan amanah untuk fani agar menikah dengan kaka, fani juga harus melaksanakan amanah yang diberikan oleh ibu walaupun itu sangat berat untuk fani, fani menerima pernikahan ini dan menjalaninya dengan iklas, fani menjadi istri yang baik buat ka zeno, fani tau walapun kak zeno tidak menerima fani sebagai istri ka..” fani ingin melanjutkkan upacannya akan tetapi jari zeno sudah lebih dulu menepel dibibir fani.


“usttt,, maaf kan aku” ujar zeno, ia tidak sanggup terus mendengar kata demi kata yang akan dilontarkan oleh fani itu, sudah terlalu dalam rasa sakit dan pedih yang zeno torehkan kepada fani


“perlu, aku perlu meminta maaf kepadamu fan,”


“aku sudah memafaakan kaka”ujar fani tulus dan tersenyum


Zeno tersenyum, zeno tau walapun beribu maaf ia lontarkan berkali-kali kepada fani, tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka yang sudah zeno berikan kepada istrinya itu, zeno jadi teringat saat ia dan salsa melakukan hubungan badan didepan mata fani dan tidak pernah menghargai semua yang fani lakukan dan juga menempatkan fani tidur dikamar pembantu, jika zeno mengingat itu membuat relung hati zeno seperti tercubit, terasa sakit. Zeno berjanji mulai sekarang ia akan memperlakukkan fani layaknya seorang istri


“tolong bantu aku untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu fan,” kata zeno


Fani tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mata mereka saling pandang sangat dalam, perlahan zeno memajukkan badannya agar lebih dekat dengan fani, fani yang merasa zeno semakin maju, ia paham apa yang akan dilakukan oleh zeno, fani pun memejamkan matanya sampai akhirnya bibir fani merasakan ada benda kenyal yang menempel dibibirnya, awalnya menempel akan tetapi lama kelamaan ciuman itu menjadi lu****n yang dalam, zeno mengexplor semua bibir fani dengan lembut. Fani hanya diam dan menikmati lu****n yang diberikan zeno terhadapnya cukup lama mereka melakukan itu, sampai akhirnya badan zeno sudah berada tepat diatas badan fani, tangan zeno mulai meraba-raba leher fani, dan mulai turun kebawah, akan tetapi pergerakan tangan zeno dihentikkan oleh fani, tak kala dering ponselnya berbunyi cukup kencang, “ka, ponsel kaka berbunyi” kata fani


“sudah biarkan saja” balas zeno, lalu mulai ingin melanjutkan aksinya.

__ADS_1


“angkat saja ka, siapa tau penting” ujar kembali fani


Zeno pasrah, lalu ia meraih ponselnya yang berada disamping ranjangnya diatas nakas, zeno ingin mencacii-maki orang yang berani-beraninya menganggu kegiatan aktivitasnnya dengan fani itu.


Akan tetapi zeno mengurungkan niatnya untuk mencaci maki orang yang mengganggunya, tak kala ia melihat nama yang tertera didepan layarnya.


Salsa, ya salsa yang menelfonnya malam-malam begini. Zeno melihat fani yang masih terdiam sambil melihatnya,” angkat saja, tidak apa-apa”ujar fani mengerti


Zeno menganggukkan kepala lalu menggeser tombol hijau di layar depan ponselnya “Hallo”


“….” Salsa


“iya, tadi aku sedang makan malam dirumah mama dan tidak memegang ponsel “ ujar zeno


“…” salsa


“iya, baiklah” ujar zeno


Zeno lalu mematikan panggilan telfonnya dengan salsa dan meletakkan kembali ponselnya diatas nakas, zeno tersenyum kepada fani “ tidurlah, ini sudah malam”ujar zeno lembut, yang diangguki oleh fani, fanipun mulai memejamkan matanya.


Zeno menatap fani lekat yang sudah memejamkan matanya, sangat lekat, zeno membelai-belai rambut fani dengan lembut dan sayang, kenapa zeno bisa melupakan salsa yang ada diantara hubungannya dengan fani, akan tetapi zeno sudah menyayangi fani dan merasa kehilangan jika fani tidak ada disampingnya, tapi zeno juga sudah berjanji kepada salsa bahwa ia tidak akan pernah mencintai fani.


Lalu bagaimana zeno harus bersikap, sebagai seorang lelaki ia harus mempunyai sikap tegas dan menentukkan pilihan, ya, zeno harus menentukkan pilihannya, zeno sudah yakin dengan hatinya dan dengan siapa yang akan ia pilih.


Zeno, pun ikut memejamkan matanya sambil mendekap fani kedada bidangnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2