Heart Choice

Heart Choice
Episode 72


__ADS_3

Esok paginya,


Perlahan zeno membuka kedua matanya, dan pertama yang ia rasakan adalah kepala yang terasa sedikit masih pusing. Mungkin, dikarenakan pengaruh alkohol semalam. Zeno bangkit dari tidurnya dan mendapati bahwa saat ini ia tidur diatas sofa ruang tamu dengan selimut tebal berwarna putih yang menutupi tubuhnya.


Zeno tersenyum simpul, dan berfikir bahwa setidaknya fani masih mempedulikannya.


Zeno berdiri dan berjalan kearah dapur untuk mengambil segelas air putih untuk menghilangkan pening yang ia rasakan saat ini. Saat ia akan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin, zeno melihat dimeja makan sudah tersaji beberapa potong sadwitch dan juga susu putih diatas meja. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menuju kearah kulkas dan lebih memilih duduk dikursi makan. Zeno dapat melihat secarik note berwarna kuning yang tertuliskan “aku sudah menyiapkan sarapan untukmu” begitulah tulisan yang tertera diatas note itu.


Zeno mengambil satu potong sadwitch lalu memakannya, selang beberapa menit iapun sudah menyelesaikkan sarapan yang dibuatkan oleh fani. Zeno bangkit dari kursi makan dan berbalik untuk menuju ke kamarnya. Namun saat ia akan berjalan menuju kamarnya, ia melihat pintu kamar fani terbuka sedikit.  Dan, zeno pun berjalan kearah kamar fani dan berniat ingin menutup rapat pintu kamar istrinya, namun, lagi-lagi niat itu ia urungkan saat zeno melihat kipas dikamar istrinya itu masih menyala, fikir zeno mungkin fani lupa untuk mematikannya,


Zeno masuk kedalam kamar fani dan mematikan kipas angin itu, selesai mematikan kipas angin,zeno berbalik untuk keluar dari kamar. namun, sebelum zeno keluar dari kamar fani, zeno menelusuri seluruh ruangan itu dan tersenyum pahit.


Hatinya merasa tercubit melihat betapa pengap dan kecilnya kamar istrinya. Mungkin kamar ini lebih cocok disebut sebagai kamar mandi, karna ukuran kamar ini sesuai dengan ukuran kamar mandi zeno, mungkin saja ukuran kamar mandi zeno lebih besar dari kamar ini.


Zeno berjalan kearah ranjang dan duduk diatas ranjang, zeno mengambil bantal dan mencium dalam aroma dari bantal yang sering dan setiap saat fani gunakan untuk menopang kepalanya. Aroma khas rambut fani menempel dibantal dan zeno menghirup dalam aromanya.


Saat dirasa puas dengan menghirup aroma fani yang terdapat dibantal. zeno meletakkan bantal itu keposisi awal, saat akan meletakkan bantalnya zeno melihat sebuah buku berwarna biru laut tergeletak diatas ranjang.


“apa ini buku deary fani?” gumam zeno


Merasa penasaran zeno mengambil buku itu, dan membuka lembaran awal yang terdapat foto fani dan ibunya sedang berselfi.


Melihat itu zeno tersenyum simpul, dan kembali membuka lembaran berikutnya. Zeno mulai membaca setiap lembar isi dari buku yang ditulis fani, sampai akhirnya dilembar akhir dari buku itu, zeno meremas ujung seprai yang ada diranjang dengan mata yang mulai memerah saat membaca isi yang tertera diatas kertas dengan tinta hitam didalamnya.


“ Tuhan, apa aku salah jika aku mencintai suamiku sendiri?


Apa aku salah jika aku egois, ingin memiliki suamiku sendiri seutuhnya tanpa adanya rasa sakit yang saat ini aku alami.


Dia adalah cinta pertamaku, dia yang mengajarkan ku apa itu cinta dan dia pula lah yang mengajarkanku apa itu rasa sakit hati yang sesungguhnya. Zeno Wicaksono, ya dia adalah suamiku, suami yang sangat aku cintai, aku sadar bahwa tidak ada cinta dipernikahan ku dan dia, dia menganggam bahwa pernikahan ini adalah bencana untuknya, karna kehadiranku adalah benalu dalam hubungannya dan kekasihnya. Aku ingin merasakan apa itu cinta, aku ingin merasakan dicintai oleh seseorang yang begitu sangat mencintaku, dan aku ingin mendapatkan itu semua dari sosok suami yang saat ijab Kabul berjanji akan menjagaku, melindungiku dan membimbingku menjadi istri yang baik dan patuh.


Aku ingin merasa dilindungi, dijaga dan diperhatikan layaknya seorang istri pada umumnya, aku telah kehilangan sosok ibu yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesalku.


Aku masih ingat,  Saat mama seli menikahkan ku dengan sosok pria yang aku anggap akan menggantikan sosok ibuku yang telah tiada, aku merasa sangat senang dan bahagia, karena aku berfikir pria itulah yang akan menggantikan peran ibuku dalam urusan melindungi, menjaga dan mendengarkan curahat hatiku disaat aku merasa kesepian. Namun, aku sadar khayalanku memang terlalu tinggi untuk sebuah pernikahan atas dasar perjodohan, tapi tidak apa, aku anggap ini ujian dalam sebuah pernikahan. Namun lagi-lagi aku berfikir sampai kapan ujian ini akan berakhir TUHAN. Aku lelah sunggu lelah. Aku mencoba bertahan atas ujianmu ini, namun setiap manusia pastinya mempunyai batas kesabaran dalam porsinya masing-masing. BUKAN!


Aku ingin bertahan dalam hubungan yang rumit ini, aku ingin mempertahankan suamiku, namun, apa bisa?, jika suamiku saja tidak mencintaiku bahkan menganggapku ada pun tidak.


bukankan dalam sebuah pernikahan harus ada yang namanya saling mencintai, menghargai dan melengkapi?.


sekali lagi TUHAN, beri aku sedikit lagi rasa kesabaran untuk berada disisinya.


dan jika lelahku sudah ada dititik paling rendah, aku pun akan menyerah. YA aku menyerah untuk memperjuangkannya.


Zeno semakin meremas kain sprai itu sehingga menampakkan kuku tangan yang memutih, ia menutup buku deary milik fani dengan perasaan hancur yang tak beraturan. Ia mengusap kasar air matanya dengan sekali usapan. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar dengan suara pintu yang terhantam sangat keras, ya zeno menutup pintu kamar fani dengan sangat keras sehingga menimbulkan suara dentuman yang sangat keras.

__ADS_1


Ia berjalan kearah ruang tamu guna mencari ponselnya, dirasa ia sudah menemukan dimana ponselnya berada ia mencari kontak seseorang dan menelfonya.


“temui aku dikantor jam makan siang” ucap tegas zeno.


Selesai mematikan panggilan itu zeno berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap kekantor.


 


***


Saat ini fani sedang menunggu bus dihalte dekat appartemen zeno. Fani duduk dikursi besi yang ada dihalte tersebut dengan menundukkan kepala sambil kedua kakinya ia ayunkan naik turun. Saat asyik dengan lamunan kosongnya, ia tersentak saat suara klaskon mobil mengagetkannya.


“Pagi fan..” sapa seseorang dari dalam mobil


Fani bangkit berdiri dan mendekat kearah mobil “ ka nico,”


“masuk fan” ajak nico


“eh, gak usah ka, fani naik bus aja” tolak fani


“udah ayo, liat ni udah jam berapa” ujar nico melihat jam dipergelangan tangannya “nanti kamu telat” lanjutnya.


Fani pun ikut melihat jam yang berada ditangannya dan membulatkan matanya sempurna tak kala melihat jarum jam menunjukkan angka 7 lebih 10 menit. Sudah dipastikan jika ia kekeh untuk menunggu bus disini pasti ia akan terlambat, fani menghembuskan nafas pendek.


“aku yang nawarin kamu buat aku anterin kesekolah, itu artinya kamu gak ngerepotin sama sekali fan. Udah ayo masuk nanti keburu telat” ujar nico.


“baiklah,” ujar fani pada akhirnya dan masuk ke mobil nico “ makasih ka” ujar fani setelah duduk disamping nico dan sudah pula memasang sadbalt.nya


“belum juga nyampek udah bilang makasih aja” canda nico sambil melajukan mobilnya.


“muka ka nico kenapa, kok kayak abis dipukul gitu” tanya fani tak kala melihat lebam diarea wajah nico.


“oh ini” ujar nico sambil menyentuk area wajah yang terluka “ biasalah fan, anak cowok” lanjut fani.


“pasti masalah cewek deh” tebak fani.


Nico sekilas menolehkan wajahnya untuk menatap fani, namun pandangan itu tak berlangsung lama. Karna nico kembali menghadap depan kearah jalan.


“iya bener banget tebakan kamu” ujar nico


“ kamu tau fan?” tanya nico yang masih fokus kearah depan sambil mengemudikan mobil.nya


Fani menggeleng tanda ia tidak tau, dan itupun dapat dilihat nico dari ekor matanya.

__ADS_1


“aku mencintai seorang wanita yang sudah bersuami” ujar nico


“ka—” ucapan fani terpotong saat nico melanjutkan kalimatnya.


“tapi apa salah jika aku ingin membebaskan wanita yang aku cintai dari pria yang brengsek dan bajingan seperti dia"


“Maksud kaka?” tanya fani bingung.


Nico tersenyum miring “suami dari wanita yang aku cintai berselingkuh dan lebih parahnya lagi ternyata mereka selingkuh terang-terangan bahkan didepan wanitaku”


“apa aku salah jika aku ingin membebaskan dia dari pria brengsek itu”


“bagaimana jika posisi wanita yang aku cintai ada diposisimu saat ini, apa yang akan kamu lakukan?” tanya nico


Fani yang awalnya menanggapinya dengan biasa, tapi saat nico mempertanyakan pertanya terakhir itu iapun dibuat bingung.


“Heemm, jika aku diposisi wanita yang kaka cintai itu, aku akan mempertahankan suami ku” ujar fani


“kenapa?” tanya nico sambil menatap fani intens


“karna aku mencintai suamiku, aku tahu bahwa ini salah. Aku tahu itu, tapi—” ucapannya terhenti saat nico menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang sekolah.


“sudah sampai” ujar nico


Fani diam dan bingung “udah gak usah kamu pikirin omongan kaka tadi, lebih baik kamu sekolah yang rajin. Karna sebentar lagi kamu akan ujian bukan?”tanya nico yang diangguki oleh fani.


“ yaudah kak aku turun ya, makasih ka nico” ujar fani tersenyum tulus kearah nico


“sama-sama” ujar nico sambil mengelus rambut fani.


“udah sama sekolah yang rajin”


Fani pun turun dari mobil dan berjalan kearah gerbang.


Nico masih memperhatikan punggu fani yang perlahan menghilang. “aku gak sanggup fan, denger kata yang akan kamu lanjutkan tadi” ujar nico lalu melajukan mobilnya kearah café.


 


TBC


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2