
“Maksud mama?” tanya zeno bingung,
“tidak apa-apa, sudah tidak usah kamu pikirkan” jawab mama seli yang masih menampilkan senyumnya.
Mama seli tidak mungkin mengatakan bahwa ada tanya bekas kissmark di leher fani, nanti ia pasti akan malu jika tahu.
“lebih baik ganti baju kamu zen” lanjut ucap mama seli yang melihat anaknya masih mengenakan kemeja dengan kancing atas terbuka dua.
Zeno melirikkan matanya kearah badannya dan benar saja bahwa ia masih mengenakan baju kemeja kerjannya.
“yasudah aku ganti baju dulu” ucap zeno lalu bangkit dari duduknya dan menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
saat zeno sudah masuk ke dalam kamar mandi, “mah, tunggu sebentar ya , aku mau siapain baju buat ka zen dulu” ucap fani kepada ibu mertuanya itu.
“iya sayang mama tunggu disini” ucap mama seli.
Fani berjalan kearah lemari dan membuka lemari itu untuk memilih pakaian apa yang pantas dikenakan oleh zeno.
Disaat mama seli menunggu fani, mama seli melihat koper berwarna merah dengan ukuran sedang, yang berada disamping ranjang, ia pun berdiri untuk melihat koper itu.
Fani yang sudah selesai mengambilkan baju zeno dan ia juga sudah meletakkannya diatas ranjang, ia melihat mama seli sedang menggeret koper. Fani yang penasaran itupun berjalan kearah mama seli dan bertanya “ mama sedang apa?” tanya fani
“ini koper kamu fan,? Tanya mama seli.
“mama merasa zeno tidak mempunyai koper seperti ini, apa lagi ini berwarna merah” lanjut mama seli.
“Hmmm, iya mah itu punya fani” ujar fani sedikit gugup
“memangnya kamu dari mana, kok kopernya ada disini kenapa tidak kamu letakkan didalam lemari saja”
Fani bingung akan menjawab apa lagi.
“it—itu” perkataan fani terhenti tak kala suara zeno mendahuluinnya
“aku dan fani kemarin liburan ke jogja mah, sekalian zen ada urusan kerjaan disana”ujar zeno berbohong dan tiba-tiba ada disamping fani hanya dengan mengenakan handuk sebatas pinggang.
“kapan kok mama tidak tahu, kalau kalian ke jogja” tanya mama seli.
“hanya sehari kita disana” ucap zeno lagi dan saat ini sambil mengenakan baju yang sudah disiapkan fani diatas ranjangnya.
tanpa diduga saat mama seli ingin menyerahkan koper itu kepada fani agar fani meletakkannya dilemari, tiba-tiba koper itu terbuka, yang artinya koper itu tidak tertutup rapat. dan ia pun terkaget saat melihat isi didalamnya
“ya tuhan” ucap mama seli kaget dengan sudah memegang lingering ditangannya.
Zeno yang melihat mamanya memegang lingering punya salsa itupun menelan ludahnya dengan susah payah, sesaat tenggorokannya terasa kering. Sedangkan fani hanya bisa diam, ia pun bingung apa yang dipegang oleh mama mertuanya itu.
Namun raut wajah yang diperlihatkan oleh mama seli, membuat zeno tampak bingung karena yang ia lihat adalah mama seli tersenyum kearah meraka.
“kalian” ucap mama seli sambil tersenyum lebar.
“zeno mama memang ingin mempunyai cucu, tapi kamu harus tunggu fani lulus sekolah dulu ya, jangan kamu hajar setiap malam” ucap mama seli yang masih menampilkan senyumnya.
zeno menghela nafasnya lega, ternyata mamanya mengira bahwa lingering itu punya fani.
Zeno mengambil alih lingering yang ada ditangan sang mama “sayang kamu simpan ini dilemari ya” ujar zeno kepada fani.
__ADS_1
Fani hanya mengangguk patuh dan memutar badannya untuk menuju kearah lemari, disaat ia akan meletakkan lingering itu didalam lemari sejenak ia melihat lebih teliti penampakan baju itu “baju ini mengerikan sekali” gumam fani yang melihat baju itu sangat kekurangan bahan. Selesai meletakkan lingering didalam lemari, fani kembali dihadapan mama seli dan juga zeno yang sudah duduk disofa kamar.
“sayang, selama kamu disini zeno memperlakukkan kamu dengan baik kan?” tanya mama seli kepada fani yang sudah duduk disamping zeno.
“iya mah,” ucap fani
“jika zeno macam-macam padamu, kamu harus lapor kepada mama ya” ucap mama
“fani itu istri aku mah, wajar bukan jika aku macam-macam padannya” ucap zeno
“maksud mama macam-macam, seperti kamu KDRT atau lainnya” jelas mama seli
“oh” ucap zeno singkat.
“ka zen, baik kok sama fani” ucap fani
“syukurlah, jika suami kamu baik,,makasih ya sayang, kamu mau menerima zeno dengan kekeras kepala annya dan keangkuhannya” ucap mama seli
“iya mah”
“yasudah mama pulang dulu” ucap mama seli kepada mereka.
“mama tidak makan malam disini?” tanya fani
“tidak usah sayang, mama makan dirumah aja bareng papa kamu” ucap mama seli dan bangkit berdiri.
“fani anter sampai depan mah,” ucap fani yang diangguki oleh mama seli.
Sesampainya diambang pintu appartemen, mama seli berbisik ditelinga kanan fani “nanti mama belikan lingering dengan model terbaru” ucap mama seli sambil tersenyum
“lingering?” batin fani, ia sangat asing dengan kata-kata itu. Namun fani hanya tersenyum menanggapi ucapan sang mertua.
Fani mencium punggung tangan mama seli “hati-hati mah”
“iya” balas mama seli dan berjalan meninggalkan fani yang masih berada diambang pintu.
Fani yang sudah tidak melihat mama seli dilorong appartemen itupun masuk dan menutup pintu.
“lingering” gumam fani sambil melamun
“mama sudah pergi?” tanya zeno yang sudah keluar dari kamarnya dan saat ini menyusul fani yang masih didepan pintu.
“sudah” jawabnya singkat.
“aku akan memasak untuk makan malam” ucap fani
“aku bantu” tawar zeno
“tidak usah, kaka tunggu diruang tamu saja”
“baiklah” ucap zeno
Fani berjalan kearah dapur untuk memasak makan malam untuk mereka.
Fani membuka kulkas dan terdapat ayam disana,
__ADS_1
“bikin ayam goreng aja deh” gumam fani.
Pertama-tama fani mencuci beras lalu memasaknya di reskuker dan selanjutnya fani hanya tinggal menggoreng ayam nya saja.
Disaat fani sedang menunggu ayam yang sedang digoreng matang, fani masih ada sedikit perasaan penasaran atas apa yang diucapkan oleh mama seli tadi, apa itu lingering.
Fani pun mengambil ponselnya yang tadi sempat ia bawa dan ia letakkan dimeja samping kulkas, disaat ia browsing dan mencari apa itu lingering. Fani melebarkan matanya, ternyata lingering adalah baju yang tadi sempat ia letakkan dilemari atas perintah zeno, dan lingering tadi adalah milik salsa, yang artinya zeno dan salsa sering melakukan hubungan suami istri dengan penampilan salsa seperti itu.
Fani tidak bisa membayangkan seperti apa penampilan salsa saat memakai lingering itu, dan zeno akan bereaksi seperti apa pula, ia juga tidak bisa membayangkan.
Sesaat kaki fani Nampak lemas seperti jelly tanpa tulang. Ia ingin menangis membayangkan salsa dan zeno saat melakukkan ITU!! Fani menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak bisa bayangkan dan tidak mau membayangkan suaminya tidur dengan wanita lain, ya walaupun fani sudah pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Lagi-lagi zeno menyakiti hati fani, air mata sudah menetes melewati kedua pipi chuby fani. Rasa sakit hati yang tadi sempat hilang kini muncul kembali, dan mungkin sakit hati kali ini lebih parah. Fani ingin menangis kencang dan menjerit untuk meredakan sakit hatinya saat ini.
Zeno yang sedang duduk disofa dengan sebelah kaki bersilang, mencium bau sesuatu “bau apa ini, seperti bau gosong” monolog zeno.
Zeno bangkit dan berjalan mengikuti arah bau itu dan berhenti diarah dapur, ia melihat punggung fani yang sedang berdiri tegak didepan wajan yang terdapat ayam goreng didalamnya.
“fani, kamu sedang apa” tanya zeno yang masih dibelakang fani.
Fani tidak merespon, zenopun berjalan mendekati fani dan disaat tepat tiba dibelakang fani. Zeno memegang punggung fani “sayang itu ayam gorengnya udah gosong” ucapnya yang sontak mengaggetkan fani yang sedang melamun.
Fani yang kaget itupun cepat-cepat menghapus air matanya dengan tangan kanannya.
“yatuhan” ucap fani dengan suara seraknya yang melihat ayam goreng didepannya sudah berwarna hitam pekat.
Fani langsung mematikan kompor dan mengangkat beberapa ayam goreng itu dari wajannya
“kamu sedang memikirkan apa” tanya zeno heran.
“tidak apa-apa” ucap fani
Zeno tidak percaya dengan jawabanya fani, terdengar dari suaranya, istrinya itu tadi sedang menangis.
Zeno menghadapkan badan fani dihadapannya dan saat ini mereka sedang tepat berhadapan, “kamu menangis?’ tanya zeno
Fani melepaskan kedua tangan zeno yang ada disisi kanan dan kiri bahunya dan berjalan kearah kulkas untuk mengambil ayam yang akan ia goreng lagi.
“jawab aku fan” ucap zeno lembut
“tidak, lebih baik ka zen, tunggu diruang tamu, akan ku buatkan lagi ayam gorengnya” ucap fani tanpa melihat zeno dan sibuk meracik bumbu ayam goreng.
“aku akan tetap disini sampai kamu mau cerita” ucap zeno
“terserah” jawab fani cuek
Zeno menggusar rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya “ ya tuhan kenapa lagi dengan fani, tadi baik-baik saja, sekarang cuek lagi” batin zeno dengan frustasinya,
Zeno masih memperhatikan fani yang sibuk memasak ayam goreng itu.
“fan” panggil zeno
“Fani” panggil zeno lagi.
Fani hanya berdehem sebagai jawaban
__ADS_1
“kamu ini kenapa??” tanya zeno
TBC