Heart Choice

Heart Choice
Episode 51


__ADS_3

Zeno membuka pintu kamar mandi, disaat ia sedang mengusap-usap kepalanya yang basah dengan handuk kecil, ia melihat fani sudah bangun dari tidurnya, lalu zeno melangkahkan kakinya mendekati fani dan CUP.


Zeno mengecup bibir fani sekilas lalu berkata “ Pagi” ujarnya sambil tersenyum


Fani yang bibirnya masih sedikit bengkak karna entah apa sebabnya bisa seperti itu, bukannya tersipu malu karna di kecup oleh zeno akan tetapi gadis itu malah meringis “ awsst” ringis nya sambil memegang bibirnya


“Kenapa?” tanya zeno dibuat khawatir.


“kenapa dengan bibir bawahmu?” lanjut zeno sambil tersenyum jahil


“aku juga tidak tau, aku bangun tidur sudah seperti ini” ujar fani sambil memegang bibir bawahnya


“apa kamu bermimpi sedang berciuman panas denganku, makanya bibirmu bisa sampai seperti itu” goda zeno


“ti-tidak,” ujar fani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat.


Zeno melihat wajah fani yang memerah, ia malah semakin gencar untuk menggodanya, zeno mendekatkan wajahnya kedepan wajah fani, sedangkan fani gadis itu memundurkan wajahnya kebelakang.


“kalau tidak kenapa wajahmu memerah seperti ini?” tanya zeno.


Fani menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya, dan berkata “ aku akan menyiapkan kaka sarapan” ujarnya mengalihkan topic, dengan suara yang gugup lalu beranjak dari ranjang untuk keluar dari kamar zeno.


Zeno yang melihat fani keluar dari kamarnya dengan pipi memerah seperti itu tertawa. Mungkin mulai saat ini menggoda fani adalah Hobi barunya.


Zeno sudah rapi dengan pakaian kerjanya, ia keluar kamar dan menuju ke meja makan,


Disana diatas meja makan, sudah tersedia roti dengan berbagai jenis selai yang berjejer dan juga susu putih hangat, akan tetapi zeno tidak mendapati fani disana, lalu ia berjalan kearah kamar fani dan membuka pintu kamar fani dengan tiba-tiba.


“astaga” ujar fani kaget, yang mendapati pintu kamarnya terbuka dan menampakkan zeno disana.


“apa yang kamu lakukan pada lukamu?” tanya zeno sambil berjalan mendekati fani.


Fani yang saat ini posisinya sedang duduk di bangku rias itupun menjawab “ ini aku sedang mengoleskan salep dilengan dan kakiku” ujar fani yang kembali fokus mengoleskan salep dilengannya, tanpa melihat zeno yang saat ini sudah berada didepan fani sambil berjongkok.


“berikan padaku” ujar zeno kepada fani yang meminta saleb yang ada ditangan fani untuk diberikan kepadanya.


“tidak usah, lebih baik kaka sarapan, aku sudah siapakan roti dan susu untuk kaka dimeja makan”


Zeno tidak merespon ucapan yang dilontarkan oleh fani barusan, akan tetapi zeno langsung saja merebut saleb yang berada ditangan fani

__ADS_1


Lalu zeno mengoleskan saleb itu ke lengan fani yang terluka sambil mulut zeno meniup-niup kecil ke luka fani supaya salepnya cepat mengering, sedangkan fani, wanita itu hanya diam sambil memperhatikan wajah zeno “ aku ingin moment seperti ini tidak hanya sementara tuhan, aku ingin pria yang ada dihadapanku saat ini bersamaku untuk selamanya” batin fani yang masih memperhatikan wajah zeno.


“apa sakit?” tanya zeno kepada fani akan tetapi fokus zeno masih kepada lengan yang ia oleskan saleb, pasalnya zeno khawatir, ia mengoleskan saleb itu terlalu kasar.


Merasa tidak mendapatkan respon dari fani, zeno mendongakkan kepalanya keatas, disana ia mendapati fani sedang melamun sambil melihat wajahnya.


Senyum jahil menghinggapi zeno “ aku tau suamimu ini memang sangat tampan, jadi kamu tidak perlu memperhatikannku sampai segitunya” ujar zeno sambil tersenyum.


Lamuman fani buyar saat suara zeno tepat berada sangat dekat didepan wajahnya, fani yang merasa ke GEP telah memperhatikan wajah zeno itupun dibuat malu “si-siapa yang memperhatikan kaka” ujar fani terbata


“kamu, memangnya disini ada orang lain selain kita?” ujar zeno yang masih memposisikan wajahnya berada didepan wajah fani, mungkin hanya berjalan satu centi.


Fani merasakan aroma nafas zeno yang mint dan segar menyeruak dipermukaan wajahnya, yang menyembabkan jantung fani berdetak lebih cepat dan seperti ada kupu-kupu berterbangan diperutnya. Wajah fani kembali memerah.


Zeno yang melihat wajah fani kembali memerah itupun dibuat semakin gemas, pasalnya menurut zeno fani sangatlah cantik jika pipi chubynya itu memerah seperti buah tomat dengan bibir pink yang natural dan lembut.


CUpp” zeno mencium sekilas bibir fani,


“kaka” ujar fani


CUpp” zeno kembali mencium bibir fani.


“apa yang kaka lakukan?” lanjut fani.


“mungkin mencium mu dengan pipi merona seperti itu adalah hobi baru ku” ujar zeno.


Fani mendengus kesal, lalu beranjak dari duduknya dan ingin keluar dari kamarnya dan meninggalkan zeno disana, akan tetapi suara zeno menghentikan niatnya “ mau kemana” tanya zeno


“mau sarapan” ujarnya


“duduk” perintah zeno.


“tapi ini sudah lebih dari jam 7, aku takut kaka terlambat kekantor”


“kantor itu milikku jika kamu lupa” ujar zeno


“jadi kemarilah, lagipula aku belum selesai mengoleskan salep dilukamu” lanjut zeno kembali


Fani mau tak mau mengikuti ucapan zeno, ia pun kembali duduk dihadapan zeno.

__ADS_1


Zeno kembali mengolekan luka dilengan dan kaki fani, selang beberapa menit kegiatan itupun selesai.


“sudah selesai” ujar zeno, lalu berdiri dari jongkokknya tadi, sebenarnya selama berjongkok tadi zeno merasakan pegal dan kesemutan pada kakinya, akan tetapi ia menampik dan menahan itu semua.


“terima kasih ka” ujar fani tersenyum kepada zeno.


Zeno menganggukkan kepalanya dan tersenyum, lalu ia mengambil tangan kanan fani dan menggandengnya untuk ia bawa keluar dari kamar fani untuk menuju ke ruang makan.


Sesampainya dimeja makan zeno duduk di bangku utama dan fani duduk dibangku sebelah kanan zeno.


Fani mengambil sehelai roti dan mengoleskan selai coklat diatasnya lalu ia serahkan keatas piring zeno.


“ makasih” ujar zeno tersenyum kepada fani


“sama-sama, oh iya aku akan buatkan susu lagi untuk kaka, yang ini sudah dingin” ujar fani mengambil susu yang ada dihadapan zeno yang sudah mendingin dan tidak hangat lagi.


“tidak usah, aku minum ini saja, kamu mulailah sarapan” ujar zeno.


Fani menganggukkan kepala dan mulai mengoleskan selai diatas rotinya lalu memakannya.


Selesai sarapan, fani mengantarkan zeno kedepan pintu appartemen “ jika kamu membutuhkan sesuai segera hubungi aku, dan ingat jangan kembali bekerja kecafe itu, tetap lah dirumah sampai aku kembali” ujar zeno.


“iya”


“yasudah aku berangkat dulu” ujar zeno


Fani mengangguk lalu mengambil tangan kanan zeno untuk ia cium dipunggung tangannya.


Zeno yang melihat fani mencium punggung tangannya itupun, tiba-tiba dadanya bergemuruh dan mendapatkan desiran yang entahlah tidak bisa ia jabarkan dengan kata-kata.


“hati-hati ka” ujar fani yang sudah melepaskan tangan zeno


“Iya”


Lalu zeno pun keluar dari appartemennya. Disaat berjalan menyusuri lorong appartemen ia mengangkat tangan kanannya yang tadi dicium fani sambil memperhatikannya dengan sangat lekat, ia tak lepas dari senyuman yang melekat dibibirnya “ padahal ini bukan yang pertama kalinya fani mencium punggung tanganku, tapi kenapa ini sangat membahagiakan bagiku" ujar zeno kepada diri sendiri.


TBC


Zeno dan Fani

__ADS_1




__ADS_2