Heart Choice

Heart Choice
Episode 47


__ADS_3

Fani belum menjawab Pertanyaan yang dilontarkan oleh zeno, akan tetapi ia lebih dulu sudah mencium bibir.nya.


Disaat zeno akan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan fani, fani meringis “awss” ringisnya, dan melepaskan ciuman pada bibir zeno, yang tanpa sengaja tangan zeno menyenggol lengan fani yang terluka.


Zeno yang mendengar ringisan pelan fani pun “maaf aku tidak sengaja” ujarnya sesal.


“Hmm” gumam fani


“ya udah lebih baik kita selesaikan mandi mu” seru zeno, mata zeno menunduk kebawah, disana ulat pitonnya sudah berdiri tegah, celana zeno yang awalnya biasa saja kini, terasa sangat sesak. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan ia harus menahan mati-matian untuk menggagahi fani saat ini.


Fani menganggukkan kepala


“bahkan aku melupakan sesuatu, bahwa saat ini fani sedang terluka” batin zeno


YA, zeno melupakan bahwa fani sedang terluka, dan zeno tanpa malunya meminta hak.nya “mungkin lain kali” batin zeno kembali.


Selesai mandi zeno menggendong tubuh fani ala bridal style dan tentunya tubuhnya sudah dililit dengan handuk tebal berwarna putih, lalu zeno mendudukkannya di depan meja rias.


Dimeja rias itu terdapat banyak sekali berbagai jenis make up. Tentunya itu bukan milik fani melaikan milik salsa.


“tunggu sini, aku akan mengambil pakaianmu” ujar zeno,


“tunggu ka, biar aku saja yang mengambilnya” seru fani, ia berfikir jika zeno yang mengambil pakaian ia akan melihat BRA dan juga dalaman lainnya.

__ADS_1


“kamu yakin dengan kondisimu seperti ini bisa berjalan sampai kamarmu?”


“iya aku yakin” ujar fani lalu berdiri dan akan berjalan.


“sudahlah kamu tunggu sini, biar aku saja yang kekamarmu, lagi pula aku tau apa yang kamu pikirkan, bukannya tadi aku sudah melihat semuanya, jadi kenapa kamu harus malu” ujar zeno, pasalnya ia tau apa yang dipikirkan oleh fani, pasti ia malu jika zeno melihat ********** nanti.


lalu zeno melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menuju ke kamar fani dan mengambil pakaiannya.


Selang beberapa menit, zeno kembali dengan baju dan perlengkapan lainnya.


“ini pakailah” ujar zeno, fani mengambil pakaian itu dan beranjak dari kursinya, “disini saja,” seru zeno.


“ tapi ka”


“kenapa aku harus pergi, ini kamarku”


“yaudah kalau kaka gak mau pergi, biar aku aja yang pergi” ancam fani.


“baik-baik, biar aku yang pergi” zeno mengalah, dan berlalu keluar dari kamar.


Zeno duduk disofa depan tv, lelaki itupun merogoh saku celananya, sedari tadi saat sedang bersama fani, ponselnya selalu berdering akan tetapi zeno mengabaikkannya.


Zeno melihat layar poselnya yang terdapat beberapa panggilan tak terjawab, dan ia pun memijat pelipisnya merasa pusing tiba-tiba saat melihat siapa nama yang menelponnya sedari tadi.

__ADS_1


“apa aku sudah mulai bisa melupakan salsa” guman zeno, saat ia bersama dengan fani, dunianya terasa menyenangkan dan ia bahwan bisa melupakan salsa untuk sejenak.


Zeno lalu menelfon salsa untuk menanyakan ada apa ia menelfon sampai beberapa kali seperti ini.


“hallo, ada apa” ujar zeno saat dirasa salsa yang berada disebrang sana menjawab panggilannya.


“kamu tanya ada apa, zen kenapa kamu susah sekali dihubungi” seru salsa disebrang sana.


“maaf sayang, beberapa hari ini aku sibuk dengan pekerjaan kantorku” dusta zeno.


“benarkah, bukankah kamu asyik berduaan dengan gadis sialan itu”


“sudahlah sayang, untuk saat ini aku sedang tidak berminat berdebat dengan mu” ujar zeno mulai emosi


“lagi pula fani bukan gadis sialan sal, dari mana kamu bisa berkata bahwa fani gadis sialan” seru zeno, entah kenapa mendengar fani dihina seperti itu membuat emosinya memuncak, ia tidak terima fani di hina.


“dia itu mau merebut kamu dari aku zen, dan kenapa kamu tiba-tiba membelanya, bukannya dulu saat aku menghinannya kamu diam bahkan kamu ikut menghina nya, tapi kenapa sekarang kamu malah tidak terima jika aku menghina dia seperti itu, apa kamu sudah mencintainya, ingat ya zen, kamu itu hanya miliku dan akan tetap seperti itu untuk selamanya” ujar salsa di telfon dengan membara-bara.


“sudahlah sal, aku capek kita lanjutkan ini saat kamu sudah kembali” ujar zeno lalu mematikan telfonnya sepihak


“zen, zen, ZENO” teriak fani disebrang telfon


“berani-beraninya kamu mematikan telfon zen, hanya karna membela gadis sialan itu, awas aja jika kamu mulai menyukai nya, aku gak akan tinggal diam” seru salsa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2