
Fani membuka matanya perlahan, ia merasakan dikeningnya terdapat benda yang menempel, ia pun mengambilnya dan ternyata terdapat sapu tangan “apa ka zen, yang mengompresku” gumamnya pelan, ia melirik ke sisi kanan ranjang, ternyata suaminya tertidur dengan posisi duduk. Fani yang tidak tega melihat posisi zeno tidur seperti itu pun membangunkannya.
“ka zen,” panggil fani pelan, sambil mengelus kepala zeno pelan.
Zeno yang merasa disentuh dibagian kepala itupun, perlahan membuka matanya dan menegakkan badannya “ bagaimana kondisimu sekarang, apa masih pusing?” tanya zeno sambil menggenggap tangan kanan fani
Fani tersenyum simpul, “ sudah tidak pusing, tapi masih sedikit lemas saja” ujar fani
“kenapa aku bisa berada dikamar ini?” tanya fani heran.
“mulai sekarang kamu akan tidur disini, bersama ku”
“Haa, lalu salsa?” tanya fani
Zeno gelagapan ingin menjawab apa, pasalnya ia lupa bahwa masih ada salsa diantara mereka, kenapa disaat zeno bersama fani, ia melupakan itu semua.
“salsa akan kembali keappartemennya” ujar zeno santai.
Fani menganggukkan kepala,
Fani beranjak dari ranjang, ingin menuju kekamar nya, ia ingin mandi dari pulang sekolah tadi ia belum juga mengganti seragamnya “ mau kemana kamu” tanya zeno
“aku ingin kekamarku, ingin mandi” ujar fani
Fani berjalan perlahan keluar dari kamar zeno dengan jalan pelan, karna kakinya masih terasa sakit, zeno yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik fani merasa kasian, ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan kearah fani.
“KYAAAAAAAAAAAA, ka zen,” pekik fani kaget, pasalnya zeno mengangkat tubuh fani tiba-tiba.
“lebih baik kamu mandi disini saja” ujar zeno, yang melangkahkan kakinya dengan mengangkat tubuh fani kearah kamar mandi yang berada dikamarnya.
“bagaimana dengan pakaianku” tanya fani
“akan aku ambilkan” ujar zeno
Zeno lalu mendudukan fani disisi bathup, sesudah ia mendudukkan fani disana, zeno masih berdiri didepan fani “ kenapa kaka masih disini” tanya fani heran.
__ADS_1
“apakah kau tidak memerlukkan bantuanku?” tanya zeno.
“untuk apa?” tanya fani
Zeno tidak menjawab perkataan fani, akan tetapi ia memfokuskan matanya kearah tangan fani, fani yang paham dengan hal itu pun berkata “aku tidak memerlukkan bantuan kaka, aku bisa sendiri” ujar fani percaya diri.
“benarkah!!” Ujar zeno
“iya lebih baik kaka keluar, bagaimana aku mau mandi, jika kaka disini” ujar fani kembali.
“baiklah” kata zeno dan berlalu untuk keluar dari kamar mandi.
Dirasa zeno sudah keluar dari kamar mandi, fani mulai membuka bajunya, akan tetapi saat ia ingin membuka bajunya tangannya terasa sangat sakit dan nyeri, ia menyoba untuk membuka bajunya kembali, tapi tetap saja sakit yang ia rasa.
Benar apa yang dikatakan zeno, ia perlu bantuan dari suaminya itu.
Sesungguhnya fani gengsi untuk meminta bantuan zeno, tapi ia juga tidak bisa melakukannya sendiri bukan, yang pada akhirnya fani melangkahkan kakinya untuk menuju kepintu kamar mandi dan keluar.
Disaat ia membuka pintu kamar mandi, ia mendapati zeno berdiri diambang pintu itu.
Sebenarnya sejak keluar dari dalam kamar mandi tadi, zeno masih berada diambang pintu, ia yakin dan percaya bahwa istri kecilnya itu pasti akan membutuhkannya, dan benar bukan, bahwa fani keluar untuk mencarinya dan membutuhkan bantuannya.
Fani menganggukkan kepalanya, sesungguhnya ia sangat malu dan tensin.
Zeno menuntun fani untuk kembali ke sisi bathup, “tutup mata kaka” ujar fani.
Ia malu jika fani melihat tubuh polosnya.
“kenapa aku harus menutup mata” tanya zeno
“aku malu” ujar fani lirih, dan pipinya memperlihatkan rona merah
“aku ini suami kamu, wajar bukan jika aku melihat tubuh polosmu”
Fani diam, jika zeno sudah berbicara seperti itu, fani tidak bisa berkutik, perlahan zeno mulai membuka baju fani, dan memperlihatkan BRA yang berwarna putih.
__ADS_1
Zeno menelan salivannya dengan susah payah, tubuh fani sangat putih dan mulus, fani yang merasa zeno melihat kearah dadanya itu pun menutup dadanya dengan kedua tangannya, walaupun pa****ra fani masih diselimuti oleh BRA akan tetapi fani masih tetap merasa malu.
“sudah lebih baik kaka keluar, aku sudah bisa melakukannya sendiri” ujar fani, yang mengagetkan zeno.
“yakin kamu?, apa kamu bisa mandi dengan tangan seperti itu?” tanya zeno kembali.
Fani menghela nafas panjang, benar juga bagaimana ia bisa menggosok dan menyabuni punggungnya jika tangan nya saja dalam kondisi terluka seperti ini.
“yasudah tapi, kaka tutup mata ya” ujar fani.
“iya baiklah” ujar zeno, ia akan menuruti kata fani.
Fani mulai memasuki bathup yang sebelumnya sudah diisi air dan juga sabun yang menyebabkan terdapat banyak busa didalam bathup itu.
Fani memunggungi zeno, zeno pun mulai menggosok dengan pelan dan lembut punggung fani.
Disaat sedang mengosok tubuh fani dengan spon, zeno berkata “ fan”
“Hmm” seru fani.
“apakah aku boleh meminta hak ku,?” tanya zeno.
POV ZENO ON
Aku mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh fani, dirasa pakaian itu sudah aku lepaskan dari tubuh fani, aku menelan salivaku dengan susah payah, aku melihat tubuh fani yang mulus dan putih tanpa noda itu.
aku melihat pa*****a fani yang menegang, aku perfikir jika aku genggam pa*****a itu mungkin akan pas ditanganku.
Aku melihat leher jenjang fani yang putih, ingin rasanya aku memberikan kissmark disana. Aku lelaki normal, jika melihat seperti ini aku merasa ingin menerkamnya saat ini juga, tapi aku berfikir kembali untuk melakukkan itu semua.
Aku mulai menggosok punggung fani dengan lembut, aku diam-diam mencium punggung fani yang harum dengan aroma sabun, tubuh fani sangat lembut yang membuat juniorku dibawah sana sudah berdiri sejak tadi.
Aku menahan mati-matian, akan tetapi rasanya aku sudah tidak tahan dengan ini semua. Aku pun memberanikan diri untuk memanggil fani dan mengucapkan “apakah aku boleh meminta hak ku,?”
POV ZENO OFF
__ADS_1
TBC