Heart Choice

Heart Choice
Episode 71


__ADS_3

“lama banget lo ditoilet” ujar fitri saat melihat fani baru tiba dan duduk disamping nico.


“tadi antri banget, makanya lama” ujar fani.


Fitri menganggukkan kepalanya sedangkan nico, lelaki itu tau pasti tadi fani bersama dengan zeno, karna ia melihat zeno tidak ada dimejanya.


“lanjut makannya fan,” ujar nico, Fani membalas ucapan nico dengan tersenyum


“sayang, lama banget sih ke toilet aja” ujar salsa saat melihat zeno tiba dan duduk disampingnya.


Zeno tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh salsa barusan, lelaki itu lebih fokus melihat kearah fani yang sedang sibuk menikmati makannya.


“besok malam aku akan kembali keappartemenmu, pasti kamu sudah merindukkan aku bukan!” ujar salsa yang sudah bergelayutan di lengan kanan zeno.


“Hmm” ujar zeno sekenannya, dikarenakan lelaki itu masih menatap kearah fani.


Salsa dibuat geram sendiri dengan tingkah zeno yang sama sekali sejak kembali dari toilet tadi, tidak menatap ataupun berbicara banyak seperti biasannya.


“kamu lagi liatin siapa sih” ujar salsa yang mengikuti arah pandang zeno. Salsa mendengus kesal saat ia melihat ternyata zeno sejak tadi melihat kearah fani.


“sayang” panggil salsa sambil memutarkan wajah zeno untuk menatapnya.


CUPPP, salsa mengecup sekilas bibir zeno.


“kamu apa-apain sih, kalau diliat orang gimana?” tanya zeno


“lagian kamu, bisa-bisanya liatin gadis kampung itu terus dari tadi” ujar salsa kesal.


“Udahlah aku mau balik kekantor” ujar zeno.


“aku ikut mobil kamu ya” pinta salsa


“memangnya kemana mobil kamu?” tanya zeno


“aku kesini tadi nebeng temenku” ujar salsa, “ yaudah ayo” ujar zeno pada akhirnya.


Mereka berjalan keluar dengan bergandengan tangan, tapi diposisi bergandengan tangan itu, hanya salsa yang merangkul lengan kanan zeno, sedangkan zeno lelaki itu tidak membalasnya.


“eh fan, liat anak tante lo cabut tuh sama ceweknya” ujar fitri.


“udah biarin aja” ujar fani cuek dan tanpa melihat kearah zeno dan salsa.


***


Malam Pukul 21.00


Zeno duduk di meja Bar dan sudah meminum beberapa gelas Wiski. Selepas dari restoran itu dan mengantarkan salsa, ia memang kembali kekantornya, namun fikirannya entah kemana yang akhirnya membuat zeno memutuskan untuk pergi ke club.


“itu bukannya si zen?” ujar agam yang baru saja tiba di club malam bersama nico


“mana?” tanya nico yang tidak melihat zeno


“itu dimeja bar” ujar agam menunjuk kearah zeno.


“ngapain tu anak kesini, tumben banget” lanjut agam “yuk, samperin” lanjut agam kembali, yang diangguki oleh nico.


Mereka berjalan menuju kearah zeno berada,

__ADS_1


“woy, tumben lo kesini” tepuk agam kepundak zeno


Zeno menolehkan kepalanya kesamping dan tersenyum miring kepada nico


“si pengkhianat” ujar zeno setengah mabuk.


Agam mengangkat satu alisnya tanda tidak paham “siapa yang lo maksud” ujar agam


Zeno bangkit dari duduknya dan berusaha berdiri tegap “ni orangnya” ujar zeno sambil menepuk-nepuk pipi kanan nico.


“zen lo mabuk parah, gue anter lo pulang” ujar agam yang akan memegang tangan zeno untuk ia ajak pulang ke appartement


Zeno menepis tangan agam dan menatap nico dengan sedikit badan yang sudah sempoyongan “lo pengkhianat, lo mau ngerebut fani dari gue, IYA!!” bentak zeno tepat didepan muka nico.


“nic, maksud zeno apaan si, gak paham gue” tanya agam kepada nico


Nico yang sejak tadi hanya diam itupun mendorong tubuh zeno yang berada didepannya “kalau iya kenapa?” tanya nico kepada zeno dan sedikit mengencangkan suaranya, karna suara music di club ini juga tidak kalah kencang


“nic lo apa-apa sih, inget zen itu temen kita” agam memperingatkan nico


Nico tersenyum miring “lo mau tau kelakuan si brengsek ini gam, dia peluk-pelukan dan ciuman didepan mata fani dan didepan umum, apa dia masih pantes disebut sebagai seorang suami”


Agam kaget dengan ucapan nico, memang ia tahu bahwa zeno dan salsa masih berhubungan sampai saat ini, namum kalau sampai sejauh itu agam juga marah dengan zeno yang memperlakukkan fani seperti itu.


“gue akan ngerebut fani dari lo, si brengsek” ujar nico kepada zeno


Zeno yang mendengar itu langsung emosinya naik dan panas, tanpa aba-aba


“BUGHH”


Zeno memukul nico sampai nico tersungkur dan terlihat sudut bibirnya berdarah


“lo gak akan bisa rebut fani dari gue” ujar zeno dengan nafas yang ngos-ngosan


Nico bangkit dan membalas pukulan zeno BUGH..BUGHH


“Nic” ujar agam, “lo harusnya gak usah bales mukul zen, dia itu lagi mabuk” lanjut agam


Zeno terjatuh dan tersungkur.


“mabuk lo bilang gam,”


Zeno yang masih tersungkur itu pun kembali dihajar oleh nico beberapa kali dan terlihat wajah zeno sudah lebab dan berdarah


“Nico” teriak agam dan mencoba melerai mereka (nico dan zeno)


Zeno membalas pukulan nico, dan mereka saling pukul memukul


Orang-orang yang datang malam ini ke club itupun hanya menonton tanpa membantu agam untuk melerai mereka berdua.


“woy, bantuin BEGO” ujar agam kepada pegawai pria dibar itu


Pegawai pria itupun kegat “iy—iya tuan”ujar pegawai tersebut


Agam cukup kewalahan untuk melerai mereka, suara agam juga sudah cukup habis untuk berteriak kencang karna suara agam tidak sebanding dengan suara DJ dan music di club itu.


Pegawai tersebut memegang badan nico dari belakang sedangkan zeno dipegang oleh agam, saat nico dan agam sudah bisa dipisahan, agam berkata “inget kalian ini temen” teriak agam sambil ngos-ngosan

__ADS_1


Zeno meludah didepan nico “sekarang dia bukan lagi temen gue, tapi musuk gue” ujar zeno “gue gak butuh temen kayak dia, dan gue peringatin sama lo, jauhin fani” lanjutnya


“gue gak akan jauhin fani, malah gue akan ngerebut fani dari lo, lo itu Cuma bisa buat dia sakit hati zen, asal lo tau” teriak nico


“lo” ujar zeno dan mencoba untuk kembali memukul nico namun agam masih kuat memegang tubuh zeno


“zen udah” ujar agam


“lepasin gue” ujar nico kepada pelayan bar itu


Pelayan bar itupun melepaskan nico “gam, urus tuh temen lo” ujar nico kepada agam, dan setelah mengucapkan kalimat itu nico pergi meninggalkan mereka.


“nic, nico” panggil agam sambil berteriak


Setelah kepergian nico, agam melepaskan zeno “gue anterin lo balik zen, lo mabuk parah” ujar agam


“gak usah, gue bisa pulang sendiri” ujar zeno lalu pergi meninggalkan agam dengan langkahnya yang sudah sempoyongan.


Saat ini fani sedang merebahkan tubuhnya diatas ranjang sempitnya, ia melihat jam diponselnya yang menunjukkan angka 22.26. namun zeno tak kunjung pulang juga, sejujurnya fani sangat mengkhawatirkan zeno, walapun saat ini hubungannya dengan zeno bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja, namun kekhawatiran bersemayam dibenak fani terhadap suaminya itu.


Fani sudah mencoba untuk memejamkan matanya dan juga mencoba untuk tidak peduli kepada zeno, namun lagi-lagi hatinya berlawanan dengan egonya.


Fani bangkit dari tidurnya saat dirasa ia mendengar suara pintu appartemen terbuka dan ia berfikir itu pasti zeno.


Fani berjalan keluar kamar dan menuju keruang tamu saat sampai diruang tamu, fani kaget saat melihat zeno dengan keadaan yang sangat berantakan dan wajahnya dipenuhi luka pukul.


“ka zen” panggil fani dan berjongkok dipinggir sofa, karena saat ini zeno sudah merebakan tubuhnya ke sofa yang berukuran panjang,


Fani mengibaskan tanganya beberapa kali didepan hidungnya saat mencium aroma alhokol ditubuh zeno “ka zen, mabuk?” tanya fani.


Zeno masih diam dengan memejamkan matanya.


Fani berdiri dan menuju kedapur untuk mengambil kotak P3K. dan saat sudah mendapatkan kotak P3K, fani kembali keruang tamu dan mencoba mengobati luka yang ada diwajah zeno, beberapa kali zeno meringis kesakitan saat fani membersikan darah yang ada disudut bibir zeno.


“kenapa kaka bisa seperti ini” tanya fani yang masih belum juga dijawab oleh zeno.


Fani membersikan darah dan mengolekan saleb dibeberapa luka yang ada diwajah zeno lalu terakhir menempelkan handsaplas di bawah pinggir mata zeno.


“lebih baik kaka pindah kekamar” ujar fani yang lagi-lagi tidak dibalas oleh zeno, lelaki itu masih saja memejamkan matanya walau tadi sempat meringis kesakitan saat lukanya diobati oleh fani.


Fani mencoba membopong tubuh zeno untuk ia pindahkan kekamarnya, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk mengangkan tubuh zeno.


Zeno tiba-tiba saja menarik tangan fani dan seketika fani yang tidak mempersiapkan diri itupun oleng lalu terjatuh diatas tubuh zeno.


Zeno memeluk tubuh fani sangat kuat, yang membuat jantung fani seketika berdetak sangat cepat.


Zeno yang masih memejamkan matanya itupun berkata sambil mengeluarkan air mata, dan fani pun dapat melihat itu.


“kenapa kamu minta pisah?, jangan tinggalin aku fan, aku udah berusaha untuk lepas dari salsa, tapi gak bisa” ujar zeno


“bantu aku, bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari salsa, BANTU AKU” lanjutnya.


“ka zen, mabuk, Lepas ka” ujar fani yang menganggap bahwa ucapan zeno barusan ada igoan saja, karna zeno saat ini sedang dipengaruhi oleh alcohol


Perlahan zeno membuka matanya dan pertama yang ia lihat adalah wajah fani didepannya “aku memang mabuk, tapi aku masih sadar dan ingat apa yang aku ucapkan”


“tolong jangan tinggalin aku, aku mohon” ujar zeno sambil menangis didepan fani.

__ADS_1


TBC


__ADS_2