
Saat ini fani sedang berada dikamarnya, sebenarnya zeno memintanya untuk tidur bersamanya dikamar utama apparetemn itu, dimana lagi kalau bukan dikamar zeno wicaksono. Namun, fani menolaknya. Setelah zeno menceritakan semuanya tadi saat diruang tamu, fani bingung akan memberi tanggapan apa atas cerita zeno.
Fani duduk dimeja rias sekaligus yang ia rangkap menjadi meja belajar, fani saat ini tengah berusaha memfokuskan fikirannya terhadap beberapa buku yang berada diatas meja itu, namun lagi-lagi pikirannya lebih berfokus kepada masalahnya dengan zeno.
Fani juga seorang wanita, tentunya tahu betul bagaimana perasaan salsa saat itu, saat dimana zenolah orang pertama yang merenggut mahktotanya (salsa), dalam artian zenolah yang mengambil kesucian salsa, dan zeno pula lah yang menyebabkan janin yang dikandung salsa saat itu meninggal atau keguguran, semua itu akibat ulah zeno suami fani.
Fani bingung apa yang harus ia lakukan saat ini, fani terngiang kata-kata yang diucapkan oleh zeno tadi,zeno akan selalu ada untuk salsa dan selalu mencintai salsa, apa itu artinya tidak ada peluang untuk fani?, fani tersenyum miris jika mengingat kebodohannya selama ini.
“apa yang harus aku lalukan tuhan” monolog fani.
“apa aku harus mengalah?” lanjutnya.
Tanpa diminta setetes air mata jatuh membasahi kedua pipinya, lagi-lagi tanpa diminta air mata itu jatuh dengan sendirinya jika fani memikirkan rumitnya rumah tangganya saat ini.
Sedangkan zeno lelaki itu sama juga seperti fani, memikirkan tentang rumitnya rumah tangganya.
Zeno merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua tangannya ia taruh dibelakang kepala dengan matanya menatap langit atap rumahnya.
Zeno sadar bahwa ia sudah mencintai fani, ia takut kehilangan fani, ia frustasi bila diacukkan oleh fani, dan ia juga merasa hampa jika fani tidak ada didekatnya.
Zeno mulai sadar bahwa saat ini ia hanya merasa mempunyai tanggung jawab kepada salsa karna ulah dia lah salsa menderita.
“ARghhh” zeno menjerit sekencang-kencangnya sampai-sampai urat dilehernya terlihat, ia bingung dengan semua ini, kenapa ia sangat susah sekali merasakan kebahagian, dan kebahagiannya adalah bersama fani.
Zeno menjerit beberapa kali sampai-sampai air mata keluar dari pelupuk matanya, zeno menangis? YA!! Dia menangis, menangisi kisah hidupnya yang rumit.
__ADS_1
Zeno sadar bahwa ia sangat mencintai fani, namun lagi-lagi fakta menampar dan menyadarkannya bahwa ada salsa yang harus ia jaga karna itulah janjinya dulu.
***
Fani sudah siap dengan seragam sekolahnya, ia melihat jam yang menempel dipergelangan tangannya, masih jam 7 kurang akan tetapi ia sudah siap untuk berangkat kesekolah, entahlah ia berangkat pagi-pagi seperti ini hanya demi menghindari zeno, ia belum siap jika harus bertatap muka dengan suaminya. Pikir fani mungkin menghindar adalah cara yang tepat untuk saat ini.
Sebelumnya fani sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya itu, dan meninggalkan note yang tertempel digelas dengan berisikan susu putih didalamnya.
Fani berjalan keluar kamar untuk menuju kepintu appartemen, dan disaat langkah kakinya sampai di ruang tamu ia melihat zeno duduk disofa, dengan sudah mengenakan pakaian rapinya untuk pergi kekantor.
Fani sedikit kaget dengan adanya zeno disana dan berfikir tumben sekali suaminya itu sudah rapi seperti ini.
“apa kamu menghindariku, hingga kamu pergi kesekolah pagi-pagi buta seperti ini?” tanya zeno yang melihat fani mengabaikkannya dan terus berjalan menuju kepintu.
“aku ada ujian, jadi aku harus berangkat pagi” ujar fani yang membelakangi zeno.
“aku tidak menghindar” ucap fani gugup.
“lalu?” tanya fani
“aku sudah katakan bukan!, aku ada ujian” ucap fani
“aku sudah siapkan sarapan diatas meja, aku pergi dulu” ucap fani kembali dan berbalik badan untuk mencium punggung tangan zeno, setelah dirasa sudah mencium punggung tangan zeno. Ia lalu kembali berbalik badan untuk keluar appartemen.
Belum sempat fani keluar dari appartemen, suara zeno kembali menghentikan langkahnya “apa disaat aku sudah menceritakan semuanya kepadamu, kamu akan pergi meninggalkanku?” tanya zeno.
__ADS_1
Tiba-tiba saja jantung fani berdetak lebih cepat mendengar kata yang dilontarkan oleh zeno barusan.
Zeno berjalan mendekati fani dan kembali berdiri tepat dibelakangnya. Dari belakang zeno memeluk tubuh fani dan ia letakkan kepalanya diceluk leher fani, dan berkata lirih “jawab!, apa kamu akan meninggalkan ku disaat aku sudah sangat mencintaimu?”
Seketika bulu kuduk fani berdiri merasakan hembusan nafas zeno menerpa sisi wajahnya, fani dapat sedikit mencium aroma nafas zeno yang entah sejak kapan disukai olehnya.
Fani melepaskan pelukan zeno, namun usahanya gagal, zeno malah semakin mengeratkan pelukannya.
“apa kaka berbicara seperti itu karna kaka kasian kepadaku?, karna semalam aku mengatakan cinta kepada kaka?” tanya fani.
“aku benar-benar mencintai kamu fan” ujar zeno yang masih betah bertengger diceluk leher fani.
“aku tidak mau menjadi wanita egois yang hanya mementingkan diri sendiri, lebih baik kaka bersama salsa yang sudah kaka beri janji untuk selalu menjaga dan mencintainya” ucap fani.
“itu artinya kamu merelakan kebahagianmu, demi kebahagian orang lagi?” tanya zeno yang sudah melepaskan pelukannya.
Dari arah belakang zeno dapat melihat bahwa fani menganggukkan kepalanya setelah ia tadi berbicara seperti itu.
“kamu itu terlalu naif” ujar zeno tersenyum pahit
“terserah kaka mau berfikir aku seperti apa” ucapnya lalu membuka pintu appartemen dan pergi meninggalkan zeno yang masih berdiri ditempatnya.
Menghilangnya fani dari hadapanya zeno tersenyum pahit, senyuman itu adalah untuk dirinya sendiri yang begitu menyedihkan atas kisahnya.
Fani menangis didalam lift, ia berjongkong, sesaat kakinya terasa sangat lemas. Dadanya terasa sesak saat ia berbicara seperti itu kepada zeno. Ia juga tidak mau menjadi wanita yang sok kuat dan sok mengiklaskan lelaki yang dicintainya bersama orang lain. Namun sekali lagi ia tekankan bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain selain mengiklaskan zeno untuk salsa.
__ADS_1
Dan untungnya lift saat ini masih sangat sepi sehingga membuat fani lebih leluasa untuk mengeluarkan tangisannya, mungkin karna masih terlalu pagi untuk orang-orang keluar melakukan aktivitasnya.
TBC