
Tok..tok...tok...
"Mel..bangun sayang, sudah pagi nich..." Panggil mama tara. Karna tak ada sahutan dari dalam kamar, terpaksa mama tara membuka pintu kamar amel. Yaa..benar saja, amel masih dengan mimpinya.
Lalu mama tara menggoyang-goyangkan sedikit tubuh amel.
"Bangun sayang, kita sarapan bareng yuuk." ajak mama tara.
"Tante ...ah maaf tante amel bangunnya kesiangan." amel terkejut.
"Gak apa-apa, yuk cepet bangun, bersihkan badanmu lalu kita sarapan bareng, abis itu kita keliling-keliling area villa ini bersama." kata mama tara.
"Baik tan...." Amel mengangguk...
"Emm..gimana kalau kamu panggil mama ajja, tante lebih seneng kalau d panggil mama, ya maklum karna tante tidak punya anak perempuan, panggil mama ajja ya sayang." pinta mama tara .
"Mmm...baik tan, eh maksut saya baik ma." Amel meng-iyakan permintaan mama tara.
Setelah kurang lebih lima belas menit. Amel turun untuk ikut sarapan bersama papa dan mamanya Aldo di meja makan.
"Selamat pagi Aldo, mama tara, mm...Om.." Sapa Amel.
"Kok om si, panggil papa ajja donk!" pinta papa Dirwan.
" I..ii..iya..Ppa.." jawab Amel terbata...
Mereka tertawa bersamaan dan melasungkan sarapan paginya...
Setelah sarapan pagi, mereka bersiap untuk pergi mengelilingi area Villa...
Melihat indahnya penghijauan disekelilingnya...
__ADS_1
Selama perjalanan Aldo terus memegang tangan Amel. Terkadang juga dia merangkul bahu Amel.
"Kamu suka nggak dengan pemandangan disini?" tanya Aldo.
"Ya Al, disini sangat nyaman." jawab amel.
"Kalau begitu kita nanti bikin acara nikahan disini ajja, gimana..??" kata Aldo.
"Mulai ngaco' dech kamu Al, kita masih sekolah, dan lagi aku mau setelah lulus nanti, aku lanjutin kuliah." ucap Amel.
"Kamu gak usah lanjut kuliah, kamu bantu usaha mama ajja." tolak aldo.
Amel hanya mengernyitkan alisnya. melihat jawaban dari Aldo. Cowok ini, selalu saja posesif. Maunya apa sih, larang ini larang itu.
Namun pembicaraan mereka terhenti karena bunyi telpon dari ponsel amel. Dengan nomer belakang delapan dua empat. Inikan nomer Ricko.Gumamnya...
Ya..walaupun nomer ponsel sudah di hapus Aldo. Tapi tetap saja mereka-mereka masih punya nomer Amel...
Seketika wajah Aldo langsung berubah.
Si kodok lagi, kata aldo dalam hati.
"Kamu lagi apa?" tanya Ricko.
"Aku lagi jalan sama mama daan...." amel melihat kearah aldo.
"Dan siapa mel..??" kata Ricko penasaran.
"Dan jugaaa....Aldo." Intan menjawab.
"Jadi kamu beneran jadian sama Aldo."
__ADS_1
" Iya Rick.." suara amel sedikit canggung.
Tuut..tuut..tuut... suara panggilan berakhir.
Kok dimatikan sih ama Ricko. kata amel dalam hati.
Pas amel melihat kearah Aldo, mata itu lagi-lagi terlihat tajam melihatnya.
Ya ampuun...kenapa aku harus menyukai orang seperti dia. Gerutu amel dalam hati.
"Pasti seneng lagi di telpon ama si kodok." ucap aldo.
"Kita balik yuuk, mama papa udah nungguin tuh,.." Amel seakan ingin menghindari pertengkaran yang akan dimulai aldo. Tapi aldo langsung menarik pinggang amel dan mencium bibir amel. Ciuman singkat itu mampu membuat jantung amel berdetak kencang, aldopun sama merasakannya.
"Itu hukuman buat kamu karna berani angkat telpon dari cowok di depanku." Kata aldo.
" Iya..iya..." jawab amel...
Tak terasa dua jam berlalu. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke villa..
Lalu terdengar bunyi ponsel Papa Dirwan. " ya hallo mbak, ada apa..?"
"Kamu mampir kesini dirwan, kita kangen banget sama kalian." suara dari sebrang.
"Baik mbak, nanti Dirwan kesana." Jawab papa Dirwan...
"Mbak Dini ya pa?" tanya mama tara..
"Iya.." papa Dirwan meng-iyakan.
"Kita sekarang balik dulu ajja ma, nanti kalau perjalanan pulang kita mampir ke mbak Dini." Imbuhnya. Mama tara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1