
"Sayang makanannya dah siap nih, kita makan bareng yuuk." panggil mama Tara.
"Ok mam." jawab Aldo.
Lalu aku merapikan bajuku agar tak terlihat lusuh.
"Kau sudah siap..?" tanya Aldo
"Yeaah..." jawabku singkat.
Kita berdua menyusuri koridor dan segera turun menuju ruang makan.
Kulihat mama Tara menyiapkan satu persatu piring dan diletakkannya di meja.
"Waaah... harum sekali masakan mama. Perut Amel jadi laper."
"Benarkah.. kalau begitu makan yang banyak sayang, supaya nambah stamina, biar cucu mama cepat terproses...hehehe..."
"Hahaha... mama bisa ajja."
Acara makan bersamapun berlangsung dengan candaan mama Tara. Tak kusangka, mama Tara bener-bener menantikan kehadiran cucu dariku.
__ADS_1
***
Diruang tamu,
Aku duduk sambil merenung seorang diri, karna mama masih berada dikamar mandi, sedangkan Aldo, dia masih menerima telpon dari papa Dirwan.
Apa yang harus aku lakukan, disatu sisi aku pengen banget ngelanjutin sekolah, tapi disisi lain, suami dan mama mertua berharap banget aku cepet hamil.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang." kata Aldo yang langsung membuyarkan lamunanku.
"Nggak kok sayang, aku hanya sedang membayangkan kalau aku hamil, perutku akan semakin membuncit. Apa kau masih mau melihatku." Aku terpaksa mengucapkan kebohongan pada Aldo.
"Kau ini, jelas aku akan semakin cinta sama kamu, aku tak peduli bagaimana penampilanmu, asal kau jangan pernah membohongiku saja.
"Sayang, apa kau sudah mendaftar di perguruan tinggi." tanya Mama Tara yang berjalan dari arah belakangku.
"Sudah ma. Amel masuk di Universitas U dan mengambil jurusan sekretary."
"Oo... selamat ya."
"Ma, Aldo bentar lagi balik kerumah dulu ya, nanti keburu malam."
__ADS_1
"Okay, cepat hubungi mama kalau sudah ada kabar baik, okay."
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Aldo menggandeng tanganku dan kita pulang dari kediaman mama Tara.
Saat didalam mobil perjalanan pulang kerumah, entah mengapa Aldo sedari tadi hanya diam.
"Kau kenapa sayang, kok diem aja." kuawali pembicaraan ku saat didalam mobil.
"Besok saat kekampus aku akan mengantar jemput kamu, dan saat dikampus kamu nggak boleh berteman dengan yang namanya laki-laki, selesai dari kampus kamu langsung pulang, okey."
"Heyy... kau kenapa Al, please deh, jangan seperti anak kecil, lagipula aku juga bukan anak kecil sayang. Aku tahu batasanku, dan aku sadar aku sudah menikah."
"Jika mau lanjut kuliah, turuti saja persyaratanku."
"Okay... okay... " aku mengangguk-angguknya kepalaku tanda mengerti lalu terdiam.
Mulai dech ne anak, sifat posesifnya kambuh lagi. Masa iya, berteman ajja dibatesin. Gumamku kesel.
Sesampai dirumah aku langsung pergi kekamar dan merebahkan tubuhku. Begitu juga Aldo, diapun sama halnya denganku. "Kau tahu Al.." ucapku dengan menggerakkan tubuhku posisi menyamping untuk melihat wajahnya. "Aku bukan cewek yang mudah mengkhianati sesorang, jika kau seperti ini berarti kau tidak mempercayaiku. Kau tahu rasanya jika tidak dipercaya, rasa sesak yang mengganjal di dada sayang." imbuhku.
"Aku percaya sama kamu tapi aku nggak percaya dengan orang-orang yang akan jadi temanmu nanti." jawabnya sambil melihat langit-langit kamar tanpa menoleh kearahku.
__ADS_1
"Xixixi... kamu lucu sekali sayang, sudahlah jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang kita tidur ajja." Ucapku. Tanganku memeluk dada bidang Aldo dan kepalaku kubenamkan disisinya.