
Keesokan harinya, saat aku duduk sendiri di balkon, aku memikirkan sesuatu. Jika ini terus begini aku pasti akan segera hamil. Aku tak mau itu terjadi, aku masih ingin kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Tidak-tidak, aku harus membeli pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan Aldo. Maafkan aku ya Tuhan, bukannya aku menolak, tapi aku masih ingin melanjutkan sekolah. Gumamku.
"Kau sedang berpikir apa sayang." Terdengar suara Aldo dari belakangku."
"Ah tidak sayang, aku hanya kangen sama mama."
"Kau ini seperti anak kecil saja."
"Xixixixii..." ringisku.
"Sebaiknya kau menelpon orang tuamu jika kau merasa kangen."
"Ahh tidak usah, nanti saja, aku mau makan dulu."
"Okay, yuuk kita cari sarapan di luar. Sekalian beli oleh-oleh buat mama" ajak Aldo.
"Okay." jawabku.
Dan diam-diam aku meminta bantuan pelayang hotel untuk membelikan obat itu.
Tanpa sepengetahuan Aldo setiap pagi hari aku selalu meminum obat itu. Dan segera kusembunyikan ditempat yang aman.
*
*
*
Tak terasa satu minggu mereka liburan di Bali sudah berakhir. Kini mereka akan bersiap untuk pulang ke Surabaya.
Mereka berada di bandara Ngurah rRai untuk menunggu jadwal keberangkatan.
"Apa kau senang sayang..?!!" tanya Aldo
__ADS_1
"Jelas aku senang." Aku melingkarkan tanganku di pinggang Aldo
"Semoga dalam perutmu segera ada buah cinta kita." ucap Aldo sambil memegang perutku.
Aku hanya diam dan tak menjawabnya.
"Kenapa kau diam??! Kau tidak bermaksut menundanya kan?"
"Eh...ituu...ehh... ng..nggak kok sayang..hehee" jawabku terbata-bata.
Aldo melihatku dengan tatapan curiga.
"Eh.. ayo Al, da waktunya kita berangkat." ucapku dengan maksut menyelimurkan keadaan.
***
"Pa...mama seneng banget, karena mungkin bentar lagi mama akan dapat cucu." ucap mama Tara di sofa ruang tengah.
"Dan mama akan ajak dia main masak-masakan. hehehe..."
"Hahaha...kita kok jadi menghayal sendiri ya ma." kata papa Dirwan
"Rasa itu sudah lama enggak mama rasakan lagi pa, sungguh beruntung mama, karna dulu masih bisa melahirkan Aldo. Andaikan saudara kembar Aldo masih bisa diselamatkan pasti mama akan sangat bahagia." wajah mama Tara berubah sedih
** flashback
"Aduuh..pa... perut mama sakit banget." lirih mama Tara sambil menangis menahan sakit.
"Iya ma..kita kerumah sakit sekarang. Oke!!"
" Pa.. ini sakit sekali paa.... "
Segeralah papa Dirwan membawa istrinya kerumah sakit yang terdekat di daerah rumahnya.
__ADS_1
"Suster...suster..tolong istri saya."
Mama Tara saat itu langsung mendapat penanganan pertama. Melihat kondisi mama Tara, Dokter menyarankan agar papa menandatangani surat persetujuan operasi caesar. Dan menyelesaikan administrasi sesuai prosedur rumah sakit. Karna posisi bayi yang ada dalam kandungannya sungsang.
"Baik dok..baik.. segera tangani istri saya."
Kurang lebih 45 menit telah berlalu akhirnya operasi itu selesai.
Papa Dirwan yang selalu mendampingi istrinya sangat bahagia saat anak kembarnya akan lahir. Namun sayang, kembaran Aldo sudah tidak bernapas.
Berbagai upaya telah dokter lakukan namun takdir berkehendak lain. Allah hanya menitipkan satu malaikat kecilnya untuk papa Dirwan.
Dan lebih terpukulnya lagi, mama Tara harus melakukan pengangkatan rahim karna adanya
perdarahan pasca-persalinan. Rahim gagal berkontraksi setelah proses persalinan yang panjang dan sulit, rahim yang terlalu meregang karena kehamilan kembar.
Mereka hanya bisa menerima semua itu. Menerima bahwa mereka tidak dapat melahirkan anak lagi.
Yaa...itulah kisah sedih yang dialami mama Tara dulu.
***
***Terima kasih..
Author sangat berterima kasih atas dukungannya* ππ€©
Jangan bosan membaca cerita novel aku ya.
Selalu tinggalkan jejak kalian dikolom komen dan klik π
Supaya aku tambah semangat.
ππ₯°ππ€**
__ADS_1