
"Jika kau mencintainya, kau tak keberatankan meminum minuman beracun ini." ujar Jessika sambil menyodorkan gelas yang berisi wine.
Amel hanya menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya...
No, Jessika...jangan melakukan hal yang bodoh. Batin Amel.
Jessika bergerak mendekati meja yang ada disebelah Amel. Lalu diambilnya botol yang berisi wine itu.
"Bagaimana Al, kau setuju..?? tapi kau tenang saja, aku akan menemani kau untuk minum. Yang satu sudah kuisi racun dan yang satu tidak... Kau berani sayang, mati dihadapan kekasihmu. Tentunya sangat menyakitkan untuk dilihat..."
No, Jessika, stop melakukan hal bodoh. Amel mencoba berlari menghentikan Jessika. Kau yang akan mati jika meminum wine dalam botol itu. Please...jangan sakiti dirimu lagi..
Amel terus mencoba membuka lakban yang menutupi bibirnya..
"Baik, aku akan meminum itu, tapi berjanjilah kau harus segera membebaskan Amel. Karna aku sangat mencintainya melebihi nyawaku sendiri." Lalu Aldo meneguk isi gelas itu sampai habis. Dan Jessika, dia hanya bisa menangis melihat orang yang dicintainya rela mati demi orang lain. Matanya berkaca-kaca, tak lama dari itu dia juga langsung meneguk isi botol itu...
Saat Amel berhasil membuka ikatan tangannya,dia langsnung membuka lakban yang ada di bibirnya...
Amel berteriak...
__ADS_1
Nooooo..... hentikan dia Al...hentikan Jessika untuk meminum botol itu, karna sebenarnya botol itu yang sudah ia beri racun...
Saat Aldo mendengar teriakan Amel segeralah dia menampis botol wine itu
PYAAARRRR... botol itu pecah.
Lalu Jessika jatuh dihadapan Aldo sambil tersenyum. Aldo dengan cepat menangkap badan Jessika dan memeluknya.
"Apa yang kau lakukan Jes... Kenapa kau lakukan ini.." Tanya Aldo dengan suara bergetar..
"Aku sangat mencintaimu Al, aku tidak pernah menghianatimu. Kau adalah satu-satunya pria yang aku cintai. Saat ku mendengar kau akan bertunangan dengan Amel, hatiku sakit, sangat sakit." ucap Jessika lemas.
Amel yang kini berhasil melepaskan ikatannya, menghampiri Jessika. "Maafkan aku Jess, aku hadir ditengah-tengah kalian, bertahanlah, setelah itu Aldo akan menjadi milikmu lagi." ucap Amel.
"Jangan lakukan ini Jes,.. sebenarnya aku juga masih menyayangimu, bangunlah Jes..." tangis Aldo.
Amel yang mendengar itu pikirannya mulai tidak karuan. Apa yang harus aku perbuat, gumamnya.
"Ayo Al, kita bawa Jessika ke rumah sakit."
__ADS_1
Anak buah Jessika yang mendapati bosnya mati, mereka langsung melarikan diri. Namun sayang, polisi sudah sampai dilokasi tujuan dan menangkap mereka semua.
Segera mereka membawa Jessika ke IGD rumah sakit. Namun nyawanya sudah tidak tertolong.
Aldo duduk membungkuk memegang rambutnya, dia terisak dalam tangisannya.
Dia masih memikirkan apa yang sudah Amel ceritakan padanya.
Bagaimana bisa...bagaimana bisa kau seceroboh itu,Jes...Maafkan aku karna sudah menuduhmu. Batin Aldo.
Amel memeluk Aldo mencoba untuk menenangkannya.
"Sudahlah sayang. Semua sudah terjadi, tak ada gunanya kau sesali."
Mama dan papanya Amel yang menyusul di rumah sakit sangat lega mendengar anaknya baik-baik saja.
Mama Betty langsung mendekap Amel. Dia menangis, kawatir terjadi apa-apa dengan anak gadisnya...
"Nak Aldo, terima kasih kau sudah menyelamatkan Amel." ucap mama Betty.
__ADS_1
Aldo hanya bisa mengangguk, tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.
Hatinya masih terluka, karena tidak terima dengan kenyataan bahwa Jessika sebegitu pedulinya dengan hidup Aldo sampai mengorbankan dirinya sendiri.