
Hahaha...mereka semua tertawa melihat Aldo yang merasa jengkel.
Tak lama setelah itu mereka melajukan mobilnya kerumah Aldo.
Didalam mobil, Aldo terus menggenggam tangan Amel.
"Kau ini kenapa?!!" Bisikku karna tak mau mama Tara mendengarnya.
"Diam saja..ok!!" jawab Aldo.
"Ok!!"
Dia ini kenapa sich...tanganku sampe keringetan di pegang terus... Gumam Amel dalam hatinya.
*
*
Sesampai dirumah..
"Mel..mama dan papa masuk kamar dulu ya, mau istirahat sebentar. Gak apa-apakan?" ucap mama Tara.
"Ya mama istirahat ja...biar Amel sama Aldo ja.." jawab Aldo cepat.
"ya ampuun anak mama, gercep banget!!"
__ADS_1
"Hahaha....sudah ma..sudah..ayo kita masuk, biarin saja mereka, asal kamu masih tau batasannya ya Al.." ucap papa sambil mengacungkan tangannya kearah Aldo.
"Iya pa, baik. Trims pa"
"Ayok ma.." ajak papa dengan menepuk bahu istrinya.
Aldo dan Amel langsung menarikku menaiki anak tangga menuju ruangan atas. Lebih tepatnya di balkon yang menjadi andalan Aldo dan Amel.
Tangan Amel masih di genggamnya.
"Kau ini kenapa sih Al... kok dari tadi genggam tanganku terus dan juga menariku. Kau tau, kebaya ini sungguh membuatku sulit berjalan" ucap Amel kesel.
"Keberatan..okey!!" Aldo ngambek lalu melepas tangan Amel
"Kau aneh Al..sebenarnya ada apa sich..?!!"
"Oo..jadi itu masalahnya. Heii...sayang, aku nggak ada perasaan apa-apa ke Ricko. Dan dia juga bukan orang sembarangan. Dia teman kita Al.." Amel mencoba menjelaskan dengan memegang tangan Aldo.
"Okey..aku minta maaf. Jangan ngambek lagi ya." imbuhku. Lalu aku memeluk tubuh Aldo.
Aldo masih dengan diamnya.
"Heii..Al...jawab dong..!!"
Lalu aku mencoba mengumpulkan keberanianku untuk menciumnya. Melum** bibirnya yang empuk. Lalu kudorong lidahku agar masuk kedalam mulutnya dan sekali-kali juga mencecapnya.
__ADS_1
Namun masih tak ada balasan dari Aldo.
"Okey, kalau begitu aku pulang ajja dulu, dan tenangkan fikiranmu. Soal pernikahan, kau boleh mempertimbangkan lagi sebelum terlam... Mmmhh"
Belum selesai bicara Aldo lansung mencium bibirku. Namun kali ini agak sedikit kasar, menggigit bibir bawahku, mencecapnya, dan memasukkan lidahnya. Semakin aku memberontak dia semakin kasar. Akhirnya kuikuti permainannya, berusaha membuatnya tenang, agar dia relaks. Dan dugaanku benar. Aldo mulai memainkan bibirku dengan lembut.
"Aku cemburu saat melihatmu dipeluk Ricko. Aku sangat marah saat tubuhmu di sentuh orang lain." Lalu dia melanjutkan ciumannya.
Saat tangannya bergerak turun di kedua bukit kembarku. Dia merasa terhalang dengan manik- manik kebayaku.
"Ini mengganggu saja!!" umpat Aldo.
"Hahaha... itu namanya kau harus bersabar sayang." Ledekku.
"Awas kau ya...setelah menikah, nanti akan kubuat kau tidak turun dari dari ranjang."
"Whoaa.. horor banget."
"Dan satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah menyuruhku mundur untuk menyerah."
" Okey... love you Al.." jawabku dan langsung memeluk Aldo.
"Besok beneran kita nggak boleh ketemu?!!" kata Aldo
"Ya. Namanya tradisi nggak boleh dilanggar sayang."
__ADS_1
" Okay..okay..!! Dan hari itu akan jadi hari yang paling menyiksa untukku."
Aku yang hanya tersenyum melihat Aldo mengumpat dari tadi. Kau lucu sekali Al, aku sangat menyukai sifat posesifmu, kau seperti anak kecil yang menangis jika mainannya di ambil orang lain. Dan tak lama lagi pria posesif ini akan menjadi suamiku. Gumamku dalam hati.