I Love Cowok Posesifku

I Love Cowok Posesifku
Eps 68. Merindumu


__ADS_3

KAMPUS


Ray yang duduk ditangga Aula kampus, termenung seorang diri. Entah kemana perginya si brekele hingga dia tak terlihat batang hidungnya.


Ada seseorang yang ia rindukan. Yaa... siapa lagi kalau bukan Amel. Ray benar-benar nggak bisa move on dari Amel. Baginya Amel adalah wanita yang sempurna dimatanya.


Amel, I miss you. Saat ini apa kamu sudah kembali kesisinya. Apa aku benar-benar sudah tak ada lagi harapan? Ucapnya dalam hati...


Tak lama si Brekele dan Mawar datang menghampiri Ray.


"Haii bro, kenapa muka lo kayak baju yang lom disetrika, alias lungset." kata si brekele sambil menepuk pundak sohibnya dan dengan campuran logat jawanya.


"Ahh elo, sotoy banget. Muka lo itu yang kayak cucian mamel." balas Ray.


"Hadee... kalian ini apa'an sih... nongkrong yuuk ke cafe atau ke mall gitu!" ajak Mawar


"Boleh.. kita nongkrong ke mall ajja." jawab Brandon.


"Gue ngikut kalian aja deh... serah mau nongki kemana?" jawab Ray malas.


"Lo kenapa sih, kok nggak ada semangat-semangatnya?" tanya si brekele


"Udah ayok kita jalan." ujarnya


Mawar mengernyitkan keningnya.


Dia kenapa sih, kok tiba-tiba pasang muka kusut begitu. Gumamnya


Lalu mereka bertiga berjalan bersama menuju parkiran mobil.


***


Dirumah Amel


"Yank, aku pergi kekantor sebentar ya, nanti dua jam lagi aku pulang. Lalu antar kamu kedokter. Okey.." ucap Aldo


"Ya beb... hati-hati ya." jawabku.

__ADS_1


Lalu aku mengantarkan suaminya sampai didepan rumah. Aldo berjalan lalu memasuki mobilnya. Dan lambaian tanganku mengiringi laju mobil yang semakin lama semakin tak terlihat.


Saat kamu keluar dan melihat dunia, kebahagiaan kita akan semakin lengkap sayang. Mama nggak sabar melihat wajah mungilmu. Ucapku sambil mengelus perut buncitku.


Aku sering mengajak komunikasi pada bayi yang aku kandung, karna kata dokter ahli, komunikasi antara ibu dan bayi bisa membuat janin merasa nyaman.


Tak jarang dia merespon dengan sebuah gerakan pada bagian tangannya, ataupun bagian kakinya. Saat dia bergerak seperti itu, aku sangat merasa senang, Aldopun juga senang. Saat ia tidur, seringkali ia memeluk perutku, supaya dia bisa merasakan gerakan baby yang ada diperutku sewaktu-waktu.


Lalu aku berjalan menuju kedapur berniat untuk membuat cemilan. Aku menyiapkan perlengkapan dan bahan agar aku lebih gampang memcampur bahan yang diperlukan. Tentunya dengan dibantu oleh bik Ijah.


"Non Amel mau bikin apa, biar bibik bantu." tanya bik Ijah sopan.


"Aku mau bikin cup cake, rasanya rindu ngebaking karna sudah lama nggak bikin cake bik." ucapku


"Ooh... baik non. Bibik siap bantu. Non Amel tinggal tunjuk aja. Biar nggak terlalu kecapekan." saran bibik.


"Nggak apa-apa bik, biar Amel yang ngerjain.."


Lalu akupun melakukan langkah pertama pembuatan cake. Bik Ijah yang melihatku melakukan step by step cara pengolahannya sampai melongo.


"Non Amel... udah cantik jago pula bikin cake."


Dimasukkannya cup cake kedalam oven. Dan setelah kurang lebih 30menit kemudian, timer oven sudah berdenting tanda cake sudah matang.


"Bik, tolong keluarkan cake dari oven ya.." ucapku sambil duduk di kursi makan yang ada didapur.


"Baik non.." jawab bik Ijah


Saat cake sudah tersaji dan dingin, aku segera menghias cake dengan whipped cream guna mempercantik tampilannya.


Namun tiba-tiba, aku merasakan sakit yang luar biasa pada perutku.


"Astaga, ada apa dengan perutku. Bik.. tolong bik. Perutku sakit sekali. Ini kenapa?" aku mengerang kesakitan.


"Ya Tuhan non Amel. Non.. non Amel kenapa? " Bik ijah membantu memapahku duduk disofa agar aku lebih nyaman.


"Apa mungkin non Amel sudah kontraksi." imbuh bik Ijah.

__ADS_1


"Sakit bik... sakit sekali." rengekku menahan sakit.


"Bibik panggilkan ambulance ya non, sabar sebentar." bik Ijah panik.


Lalu ia segera menghubungi nomer ambulance. Dan tak butuh waktu lama ambulance sudah berhenti didepan rumah.


Segera bik Ijah melakukan apa yang aku suruh untuk mengambil ponsel dan tas yang ada dikamarku.


"Ayok non, kita berangkat. Sini bik Ijah bantu jalan." ucap bik Ijah yang semakin panik.


Dipapahnya aku memasuki ambulance. Namun sebelum itu bik Ijah tak lupa mengunci semua pintu rumah dan gerbang.


Saat dalam perjalanan, bik Ijah meminta ijin mengambil ponselku agar ia bisa menghubungi Aldo.


Drrtt.. drrt...


"Halo sayang, ada apa?" ucap Aldo menjawab panggilan dari ponsel Amel.


"Hallo den, ini bibik."


"Lho kok bibik, ada apa bik?" tanya Aldo khawatir.


"Non Amel kontraksi, dan sekarang kita sedang menuju rumah sakit Harapan Bunda.


"Apa!! Okey, sebentar lagi saya menyusul kesana. Titip jagain Amel dulu ya bik."


"Baik den.." Lalu bik Ijah menutup ponselnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


To be Continue☺️


Thanks for reading🤗


Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian dikolom komentar ya😉


Dukung author juga dengan cara vote.

__ADS_1


🤗🤗🤗🥰🥰🥰


__ADS_2