
Hallo semua...
Terima kasih sudah tetap jadi pembaca setia aku.
Beri masukan berupa semangat, saran, ataupun komen.
Maka Author akan sangat berterima kasih.
Dan jangan lupa klik like juga ya..
Sehat selalu untuk kalian.
π€π€π€π₯°π₯°π₯°
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
TAP.. TAP.. TAP..
Suara hentakan kaki terdengar dilorong koridor rumah sakit.
Wanita dengan rambut tergerai berwarna coklat menghampiri kamar VIP yang aku tempati saat ini. Ia memakai softlens berwarna biru.
Kemudian ia membuka handle pintu kamarku
"Pagi sayang..."
Sontak semua orang yang ada diruangan itu langsung menoleh kearah suara seseorang yang baru saja datang tak terkecuali aku.
Aku auto fokus pada orang tersebut.
Siapa cewek ini? batinku
Aldopun ikut terkejut melihatnya. Seketika aku langsung berpikiran yang bukan-bukan tentang Aldo.
Apa wanita ini ada kaitannya dengan Aldo. Siapa dia?
Dadaku langsung berdetak kencang, seperti genderang.
Cewek itu terus berjalan masuk, lalu berhenti didepanku.
"Apa kabar sayang..." ucapnya
Aku masih terpaku dan bertanya-tanya..
"Heii sayang... Amelku yang comel... Tidakkah kau rindu aku?"
Ternyata ia adalah sahabat kentalku, yaa.. siapa lagi kalau bukan Intan.
"Astaga!! Ini benar kau Tan.. Penampilanmu berubah, aku sampai benar-benar tak mengenalmu." ucapku terkejut dengan kedatangan Intan.
"Nggak ada yang berubah sama aku. Kamu aja yang sibuk sendiri sampai tak pernah menghubungiku."
"Aku merindukanmu.." ucapku dan langsung memeluk sahabatku itu.
Intan membalas pelukanku.
"Haii Al.. lama tak bertemu. Terima kasih ya sudah menjaga sahabatku yang selalu ceroboh ini." kata Intan
"Hehehe..Dia sudah tidak seceroboh dulu Tan." balas Aldo
"Benarkah?" jawab Intan tak percaya.
"Kau ini.." menepuk pundan Intan pelan
"Hahaha... eh liat Mel, baby kamu lucu banget."
"Iya dong, anak siapa dulu.." jawabku bangga.
"Iya.. iya.. anaknya artis sekolah.." ledek Intan.
"Hahaha..."
__ADS_1
Mereka pun tertawa dan melepas rindu bersama. Ada banyak cerita yang mereka ceritakan setelah sekian lama tidak bertemu.
***
Lima hari kemudian
Aku dan baby twin sudah diperbolehkan pulang. Perasaanku sangat senang sekali.
Untung saat sebelum melahirkan aku sudah menyiapkan dan mendekor kamar baby sesuai keinginanku.
Tengah malam pukul sebelas.
Ooek..oek...
Suara tangisan bayi itu terdengar. Saat malam baby twin tidur dikamarku, karna aku tak mau jauh dari mereka. Saat kudengar tangisannya segera aku dan Aldo terbangin dan menggendongnya.
"Mungkin dia haus sayang." kata Aldo
"Iya. Ayok sayang mimik cucu ya sama mama." ucapku. Aku segera membuka kancing bajuku untuk memberikan ASIku.
Saat aku keluarkan benda kenyal milikku. Aldo langsung menelan salivanya.
GLEEKK....
"Sayang, akunya mana?"
"Beb, jangan bercanda. Sekarang ini milik anak kita." aku mengernyitkan keningku dan tertawa menjawab kata-kata konyol dari Aldo.
"Heii boy, jatah papa tuh.." ujar Aldo sambil memelukku, dan kepalanya ditempelkan di bahuku
"Hahaa.. jatah papa masih belom buka. Tunggu aku besar ya pa." jawabku menirukan suara anak kecil.
Tak lama suara baby girl pun ikut menangis.
Aduh beb, tolong kamu gendong ya.
"Iya.."
Hari berganti hari mereka selalu saling membantu merawat baby twin.
Esoknya..
Mama Tara datang untuk melihat cucunya.
"Assalamualaikum sayang, mama datang."
Bik Ijah langsung menhampiri mama Tara.
"Non Amel ada dikamar baby nyonya."
"Baik bik. Terima kasih ya."
Mama Tara langsung menuju kamar.
Ceklek..
"Hallo... cucu omma sayang."
"Eh mama. kapan datang ma."
"Baru aja. Aldo mana?"
"Dia masih mandi ma, dan ia akan berangkat kerja."
"Kamu sama Aldo apa nggak capek ngerjain sendirian."
Tok.. tok..
"Permisi nyonya, ini teh hangatnya." ucap bik Ijah membawa teh hangat untuk mama Tara.
"Terima kasih bik." jawab mama Tara.
__ADS_1
"Capek sih ma. Tapi Amel seneng ngelakuinnya."
"Tapi kan kasian Aldo juga, pagi harinya ia harus berangkat kerja."
"Benar juga ya." anggukku.
"Maaf non, kalau mau cari baby sitter, bibik punya ponakan yang dulunya pernah jadi baby sitter juga."
"Benarkah bik. Apa ia benar-benar bisa diandalkan." kata mama Tara.
"Iya nyonya."
"Bagaimana Mel, biar kamunya bisa merawat diri dan Aldo juga."
"Baik ma. Amel setuju." jawabku.
"Dia umur berapa memangnya bik?" tanya mama Tara.
"Kalau tidak salah umur 25 nyonya."
"Masih mudah sekali. Apa iya dia bisa?"
"Dia bekerja jadi baby sitter sejak umur 22 tahun nyonya. Dan sekarang dia sudah tidak bekerja, karna majikannya pindah keluar negri "
"Oo.. begitu. Bagaimana Mel?"
"Terserah ma, tp Amel kasih masa training sebulan dulu ya bik. Kalau cocok, baru Amel mau lanjut."
"Iya non, baik. Nanti bibik akan segera menyuruhnya kemari, bibik permisi kedapur dulu."
"Iya bik."
Lalu mama Tarapun kembali menimang cucu kembarnya.
"Mama, kapan datang." ucap Aldo yang selesai mandi.
"Barusan. Eh bagaimana kalau kamu pakai jasa baby sitter. Ini ada ponakan bik Ijah yang bisa bantu."
"Aldo terserah kata Amel ma." ia melihat kearahku.
***
hi
Dua hari kemudian
Bik Ijah menyambut ponakannya yang akan bekerja disini.
"Mina, ayo masuk. Kamu tunggu disini dulu, bulek panggilkan non Amel."
"Inggeh bulek. (Iya bibi)"
Tok..tok..
"Non Amel permisi."
"Iya bik masuk aja."
"Itu non, ponakan bibik sudah sampai. Ia ada diruang tamu."
"Baik bik, Amel segera kesana."
Aku berjalan keluar kamar.
Saat aku melihatnya...
Ya Tuhan, wanita ini walau beda umur empat tahun denganku, tapi ia begitu tampak muda, dan lagi bodynya. Apa benar akan baik-baik saja jika aku menerimanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To be Continue
__ADS_1
Thanks for reading
π€π€π€π₯°π₯°π₯°