I Love Cowok Posesifku

I Love Cowok Posesifku
Eps 22. Dusta


__ADS_3

"Kau wanita gila Jessika... lepaskan dia atau kau akan menyesal."


"Ya...aku gila...aku gila karenamu. Kau tahu, aku sudah mencarimu kemana-mana. Tapi selalu saja gagal. Aku hampir gila saat tahu kau tiba-tiba pindah dari Jakarta." teriak Jessika.


"Dimana kau sekarang?" tanya Aldo.


"Kau tak perlu bertanya dimana aku, kau pergilah ke sudut gang rumah Amel, lima belas menit lagi, anak buahku akan menjemputmu. Dan ingat jangan kau coba lapor pada polisi, datanglah seorang diri, atau kalau tidak, akan kupastikan kekasihmu tak bisa lagi melihat matahari terbit."


Jessika lalu menutup panggilan telponnya.


Dia berbalik badan menghadap kearah Amel.


"Kau tahu, Aldo dulu sangat menyayangiku, dia begitu lembut terhadapku, dan sekarang saat dia berbuat kasar seperti ini terhadapku, aku nggak terima. Dan itu semua gara-gara kau..!!!"


"Kau salah Jes, dia nggak munkin berbuat kasar kalau kau tidak memulainya. Bahkan kau sudah tau kalau Aldo sangat menyayangimu, tapi kenapa kau mala berkhianat padanya, kenapa kau mala selingkuh dibelakangnya." Jawab Amel tegas.


PLAAAKK.....


Suara tamparan mendarat di pipi Amel, ujung bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


"Jika kau tidak tahu apa-apa, sebaiknya kau diam. Kau bahkan tidak mengetahui seberapa besar pengorbananku untuknya."


Wajah Amel nampak bingung setelah mendengar ucapan Jessika.


"Maksut kamu apa, apa yang kau korbankan untuknya..??"


Jessika bercerita tentang apa saja yang ia lalui.

__ADS_1


"Kau tahu, kita awalnya sepasang kekasih yang disetujui oleh kedua orang tua kita masing-masing. Sampai suatu ketika, saat aku melewati kamar papa, aku mendengar ternyata papa merencanakan untuk membuat keluarga Aldo hancur. Lalu dengan amarah, aku langsung memasuki kamar papa dan memohon agar papa tidak melakukan hal tersebut. Papa menyetujuinya tapi selalu saja ada persyaratan."


"Apa persyaratan itu Jessika."tanya Amel.


"Papa menyuruhku untuk putus dengan Aldo dan menerima pertunangan dengan anak konglomerat. Itulah syarat agar keluarga Aldo tidak di hancurkan. Aku terpaksa menerimanya, walau aku tidak mengetahui wajah orang itu, aku dengan cepat langsung menyetujuinya. Itu semua demi Aldo. Aku nggak mau Aldo menderita."


Amel yang merasa iba mendengar cerita Jessika langsung meneteskan air matanya.


"Rasa cintamu begitu besar Jessika, tapi harusnya kau berbicara dengan Aldo terlebih dahulu."


"Tidak ada kesempatan bagiku, papa meminta jawaban hari itu juga."


Jessika berjalan mendekati meja yang ada disebelah kursi Amel. Diatasnya terdapat botol wine dan gelas kosong. Dituangkannya minuman itu kedalam gelas. Lalu Jessika memasukkan pil racun kedalam botol wine.


Mulut Amel kembali ditutup dengan lakban.


Aku akan melihat seberapa cintanya dia terhadapmu.


Setelah kurang lebih empat puluh lima menit, mobil anak buah Jessika terparkir d depan gedung tua itu.


Flashback,


Saat dirumah amel.


Aldo mencoba menenangkan mama Betty.


"Mama sama papa jangan kawatir, Aldo akan menyelamatkan Amel, tetaplah disini, Aldo sempat melacak panggilan telepon tadi, dan segeralah pergi kekantor polisi dan berikan ponsel ini, Ok. Aldo berangkat dulu ya ma,.."

__ADS_1


Mama Betty trus dengan tangisannya.


*


*


*


Cciiiiiit.....


Mobil itu berdencit d depan gedung tua.


Mata Aldo tetap pada keadaan tertutup karna diikat dengan kain.


Setelah sampai di depan gedung, Aldo diseret didalam gedung.


"Breng**k!!" umpat Aldo.


"Hallo sayang, akhirnya kau datang juga. Bagaimana tawaran aku Al, kau setuju menikahiku kan." ucap Jessika manja.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menikahi wanita gila sepertimu..!!"


"Kalau begitu kau pilih sayang, kau yang mati atau kekasihmu ini yang mati."


Amel hanya mampu melihatnya sambil menangis, dia tak berdaya karna tangan dan kakinya diikat. Begitu juga dengan mulutnya yang ditutup lakban. Dia berusaha menggerak-gerakkan tangannya agar bisa lepas dari ikatan itu.


"Jika kau mencintainya, kau tak keberatankan meminum minuman beracun ini." ujar Jessika.

__ADS_1


__ADS_2