
Menjelang malam.
Semua keluarga berkumpul untuk makan malam bersama, sekalian membahas tentang acara pernikahan.
Saat di meja makan.
Menu hidangan makan malam satu persatu disajikan, mulai kepiting saos asam manis, udang saos asam manis, lobster, Aneka tumis sayur, daging dengan saos barbeque, dimsum, dan pasta spageti, ayam panggang.
Mataku langsung melebar saat aneka seafood berjajar di atas meja.
Intan yang duduk disebelahku, menjulurkan tangannya mengusap daguku.
"Liur kamu neh Mel netes,..."
"Sia**n kamu tan, mana ada aku ngeluarin liur."
"Abisnya kau ini selalu saja tidak tahan godaan saat melihat makanan seafood"
"xixixi.."
*
*
"Mbak bagaimana, hari baik untuk anak-anak, kita selenggarakan kapan?" tanya mama Tara.
"Terserah mbak Tara saja."
"Bagaimana kalo setelah acara wisuda, lebih cepat lebih baikkan."
"Baiklah, bagaimana pa..??" tanya mama pada papa.
__ADS_1
"Kalau papa terserah keputusan mama saja."
"Baiklah kalau begitu."
Aku dan Aldo hanya menyimak obrolan mereka. Seakan meng-iyakan apa yang menjadi keputusan mereka.
Lalu aku mencoba membuka suara.
"Mama Tara, apakah setelah menikah aku boleh melanjutkan kuliah, aku sangat ingin melanjutkan sekolah."
"Tentu saja boleh sayang, hal itu nanti kau bicarakan dengan Aldo ya." jawab mama Tara.
Lalu aku melirik ke arah Aldo.
"Boleh ya.." pintaku dengan mimik wajah memelas.
"Asal kampusmu tidak jauh, aku menyetujuinya." Aldo tersenyum sambil mengusap kepalaku.
"Terima kasih sayang." aku mencium pipinya didepan orang tua kita masing-masing. Dan pastinya didepan orang banyak.
"Hhahaha...." keluarga besar serentak tertawa bebarengan...
"Amel...amel..." ucap Intan
Namun lain dengan Ricko, walau dia terlihat sangat tegar mengikhlaskan tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh. Ada rasa api cemburu yang ia coba redam. Dan berusaha mencintai sahabat Amel.
"Ayo-ayo semua...makanannya sudah siap, kita makan dulu yuuk sebelum dingin." Ucap Papa Dirwan.
Lalu kami langsung menikmati hidangannya sampai habis.
*
__ADS_1
*
*
"Ahh...kenyangnya..!!" keluhku
"Bagaimana tidak kenyang, semua seafood kamu cicipi." kata Intan kesel karena dia tidak kebagian lobster.
"Hahaha...itu namanya kau kalah cepat sayang." tawa Amel mengolok sahabatnya itu.
Saat aku dan Intan asyik ngobrol.
Mama Tara menghampiriku,
"Mel, ikut mama sebentar yuuk. Aldo kau juga ikut."
"ya ma." jawab kita berdua
Sesampai dikamar hotel mama, mama Tara membuka sebuah kotak berwarna gold dan mengambil gelang giok berwarna hijau.
"Sekarang saatnya kamu yang menyimpan peninggalan nenek buyut Aldo. Nenek buyut Aldo sangat suka mengoleksi batu giok. Lalu sebelum beliau meninggal dia memberikan pada nenek Aldo, dan saat mama dan papa akan menikah, nenek Aldo memberikan ini untuk mama jaga. Sekarang kamu yang simpan ya."
"Tapi ma,.."
"Tidak apa-apa sayang, kau adalah anakku sekarang. Mama percaya kamu bisa dengan baik menjaganya." Lalu mama Tara mencium keningku
"Aldo hanya tersenyum saat mamanya sangat peduli dengan Amel. Aldo sangat bersyukur karna dia dilahirkan oleh orang yang sangat baik dan penyabar.
Lalu aku memeluk mama Tara, "terima kasih ma, sudah percaya dan sayang sama Amel."
"Ya sudah, kita keluar dan berbincang-bincang lagi dengan mama dan papamu yuuk Mel." Ucap mama Tara
__ADS_1
Mama tara berjalan duluan dedepanku.
Sedangkan aku, tanganku digenggam erat oleh Aldo dan berjalan dibelakang mama.