
Magelang.
Pondok pesantren Al Huda, dimana Ustad Ilham mengajar. Memiliki 3 area utama, yang pertama area asrama laki-laki, yang kedua area tempat tinggal para ustad / ustazah yang ingin menetap disana, dan ketiga area asrama perempuan. Ponpes ini juga memiliki 2 petak ladang, ladang pertama ditanami padi dan ladang kedua ditanami sayur-sayuran. Ladang ini dikelola oleh para pengurus ponpes dibantu oleh para murid-murid. Para laki-laki bertanggung jawab pada ladang padi dan para perempuan bertanggung jawab pada ladang sayur-sayuran. Ponpes ini juga memiliki peternakan sapi dan kambing sendiri. ponpes ini juga memiliki lumayan banyak donatur. Uang yang terkumpul akan mereka donasikan kepada para murid-murid yang tidak mampu. Ponpes ini selalu mengajarkan kesederhanaan kepada para muridnya, hanya bangunan mesjid saja yang megah di ponpes ini karena uang yang mereka kumpulkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Hari ini semua ladang panen, Ustad Ilham dan para santriwan bertanggung jawab untuk memanen padi dan para santriwati di bantu oleh Hanifah memanen sayur-sayuran.
Hanifah sangat mengagumi sosok Ustad Ilham, bukan cuma Hanifah, bahkan banyak santriwati yang juga mengagumi sosoknya. Akhlaq yang baik, sikap yang sopan, tutur kata yang lembut, selalu menjaga pandangan dan ucapan, serta fisik yang tinggi dan gagah, senyum manis dan pekerja keras. Siapa yang tidak melelah melihat karisma dari ustad Ilham.
Hanifah tidak sengaja memandang Ustad Ilham.
''Subhanallah.. Astaghfirullahaladzim ya Allah, ampuni Hanifah,''' kata Hanifah yang tersadar akan kesalahannya.
''Subhanallah Ustad Ilham tampan sekali,'' kata salah satu santriwati.
"Huss Istifar kamu,'' kata santriwati yang mengingatkan temannya.
''Astaghfirullahaladzim maaf ya Allah, hamba hanya seorang manusia biasa yang memiliki hawa napsu, kadang hamba juga berbuat salah, Ampuni hamba ya Allah,'' kata penyesalan santriwati itu.
Tak selang berapa lama Ustad Zaki dan Ustazah Lihah datang keladang.
''Asalamualaikum anak-anak, apa masih semangatttt?'' teriak Ustad Zaki dengan penuh semangat.
''Nggeh Ustad,'' jawab mereka serentak.
''Bagus kalau gitu, Ustad akan membantu kalian juga disini,'' kata Ustad Zaki.
'' Abi, Umi bantu santriwati dulu ya,'' ijin ustazah Lihah.
''Nggeh umi,'' kata Ustad Zaki.
Akhirnya mereka mengerjakan panen ini bersama-sama. Ustad Zaki dan Ustad Ilham nampak bercanda bersama dan hal itu membuat Hanifah juga ikut tertawa kecil, tanpa ia sadari sang Umi melihatnya, dan umi merasa ada sesuatu.
''Aku harus bicarakan masalah ini ke Abi,''kata Ustazah Lihah dalam hati.
Mereka telah menyelesaikan panen ini, dan pulang untuk membersihkan diri karna sudah akan mendekati waktu sholat dzuhur.
Dirumah Ustad Zaki.
Umi Lihah akan membicarakan masalah ini kepada ustad Zaki.
__ADS_1
''Abi, Umi ingin membicarakan hal yang penting,'' kata Umi Lihah.
''Ada apa Umi?'' kata Ustad Zaki.
''Ini mengenai Hanifah Abi, Umi rasa Hanifah menyukai Ustad Ilham,'' kata Umi Lihah.
''Darimana Umi tau?'' kata Ustad Zaki.
''Umi bisa merasakan dan Umi juga melihatnya Abi, saat tadi Abi bercanda dengan Ustad Ilham. Umi lihat Hanifah juga tertawa dan saat Ustad Ilham bersedih, Hanifah juga bersedih. Umi juga merasakan tatapan Hanifah berbeda saat melihat Ustad Ilham, Abi bagaimana jika kita pinang Ustad Ilham untuk Hanifah, Umi rasa Ustad Ilham bisa membuat Hanifah bahagia,'' jelas Umi Lihah.
'' Apa Umi yakin dengan hal ini?'' tanya Hstad Zaki.
''InsyaAllah Abi,'' kata Umi Lihah.
''Baiklah Abi akan membicarakan hal ini kepada Ustad Ilham, oh iya bagaimana kalo sekalian kita ajak Ustad Ilham makan malam bersama?'' tanya Ustad Zaki.
''Ide yang bagus Abi, kalo gitu Umi akan memberitahu Hanifah soal ini pasti dia akan senang, semoga Allah lancarkan niat baik ini ya Abi,'' kata Umi Lihah.
''Amin Umi,'' kata Ustad Zaki.
Ba'da sholat ashar Ustad Zaki menemui Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam Ustad Zaki.'' jawab Ustad Ilham.
''Ustad, saya dan keluarga ingin mengundang Ustad Ilham untuk makan malam bersama dirumah saya. Apa Ustad Ilham berkenan untuk datang?'' tanya Ustad Zaki.
''Nggeh Ustad, insya Allah saya akan datang,'' kata Ustad Ilham.
''Alhamdulillah, saya tunggu kedatangan Ustad ba'da isya,'' kata Ustad Zaki.
''Nggeh Ustad,'' kata Ustad Ilham.
''Asalamualaikum Ustad,'' salam Ustad Ilham.
''Waalaikumsalam Ustad Ilham,'' jawab Ustad Zaki.
Setelah menunaikan sholat isya, Ustad Zaki dan Ustad Ilham pergi menuju rumah Ustad Zaki. Sesampainya di rumah Ustad Zaki mereka di sambut oleh Umi Lihah.
''Asalamualaikum,'' salam mereka berdua.
__ADS_1
''Waalaikumsalam, monggo silahkan masuk,'' sambut Umi Lihah.
Umi Lihah menyiapkan makanan untuk Ustad Zaki dan Ustad Ilham. Hanifah dan adiknya Halimah juga ikut bergabung untuk makan malam bersama. Hanifah tampak malu-malu dihadapan Ustad Ilham. Setelah makan malam berakhir Umi Lihah dan Hanifah membereskan piring kotor dan membawanya kebelakang.
Ustad Zaki membuka pembicaraan.
''Bagaimana Ustad masakan tadi enak tidak?'' tanya Ustad Zaki.
''Enak Ustad, terima kasih,'' kata Ustad Ilham.
''Alhamdulillah jika Ustad suka,'' kata Ustad Zaki.
Mereka membahas hal-hal mengenai ponpes dan sampailah pada inti dari acara ini.
Hanifah dan sang Umi mendengarkan dari balik tembok.
''Mohon maaf Ustad, saya ingin tanya sesuatu tapi maaf jika ini menyinggung privasi Ustad,'' kata Ustad Zaki.
''Nggeh Ustad, ada apa?'' tanya Ustad Ilham.
''Begini Ustad, bukan saya ingin ikut campur masalah pribadi Ustad Ilham, saya hanya ingin bertanya, di usia Ustad yang sudah matang ini, apa Ustad Ilham tidak berkeinginan untuk menikah?'' tanya Ustad Zaki.
''Nggeh Ustad, pernikahan merupakan salah satu ibadah dan sebagai manusia biasa, saya juga ingin berkeluarga seperti Ustad Zaki,'' tutur Ustad Ilham.
''Ustad Ilham benar, begini Ustad.. saya dan istri saya memiliki niat baik untuk meminang Ustad untuk putri kami, Hanifah. Apa Ustad berkenan?'' kata Ustad Zaki.
Ustad Ilham tampak terkejut dengan pinangan dari Ustad Zaki, tapi ini semua sudah terlambat. Ustad Ilham telah menerima perjodohan dengan Lula dan dia berencana lusa akan pergi kejakarta untuk membicarakan soal pernikahan ini.
''Maaf Ustad, beribu-ribu maaf saya katakan kepada Ustad dan keluarga, sebenarnya saya sudah memiliki calon istri dan saya berniat untuk meminta ijin kepada Ustad, kalau lusa besok saya akan mengambil cuti untuk membahas pernikahan saya. Saya minta maaf Ustad bukanya saya ingin mempermalukan Ustad dan keluarga,'' kata Ustad Ilham seraya menunduk.
''Benarkah, Alhamdulillah kalo seperti itu. Ustad Ilham tidak salah, seharusnya kami yang meminta maaf karna telah membuat Ustad tidak nyaman,'' kata Ustad Zaki.
''Nggeh Ustad, sama-sama,'' kata Ustad Ilham.
Dibalik tembok Umi Lihah mencoba menguatkan putrinya tersebut.
Terima kasih sudah membaca novelku😊
__ADS_1
Jangan lupa komen dan Like ya😄😄