Imamku

Imamku
Adegan UWU


__ADS_3

Lula menekan nomer Ustad Zaki. Tak lama kemudian, terdengar suara Ustad Zaki.


''Asalamualaikum Ustad Ilham,'' salam Ustad Zaki di sebrang telfon.


''Waalaikumsalam Ustad. Ini aku, Lula,'' ucap Lula.


''Ohh, nggeh Mbak Lula. Ada yang bisa di bantu?'' ucap Ustad Zaki.


''Maaf menganggu pagi-pagi begini Ustad. Sekarang Ustad Ilham sedang sakit, jadi mohon ijinya, untuk hari ini Ustad Ilham ndak bisa mengajar,'' ucap Lula.


''Innalillahi, nggeh mbak. Semoga Allah memberi kesembuhan untuk Ustad Ilham,'' ucap Ustad Zaki.


''Terima kasih Ustad Zaki,'' ucap Lula.


''Nggeh, Mbak. Insyaallah saya akan menyampaikan hal ini kepada para santri,'' ucap Ustad Zaki.


''Nggeh Ustad, terima kasih. Asalamualaikum,'' ucap Lula.


''Waalaikumsalam,'' jawab Ustad Zaki.


Lula menutup telfonnya. Saat Lula berbalik, ia melihat Ustad Ilham yang tersenyum lebar.


''Lo kenapa senyum gitu? Ada yang aneh?'' ucap Lula.


Ustad Ilham malah semakin melebarkan senyumnya, hal itu membuat Lula bergidik ngeri.


''His, lo gak usah senyum gitu deh, serem tau!'' ucap Lula.


''Kamu hampir mirip orang jawa, ngomong ''nggeh'' dan ''ndak''. Aku seneng dengernya,'' ucap Ustad Ilham.


''Emm, gua gak sadar ngomong gitu. Habisnya lo ngomongnya gitu mulu si, kan jadi kebawa,'' ucap Lula.


Ustad Ilham masih saja tersenyum, hal itu membuat Lula merasa canggung dan berdebar.


''Gua mandi dulu,'' ucap Lula.


Bergegas ia keluar dari kamar Ustad Ilham.


''Ihh jantung gua kok dek-dekan gini si?'' ucap Lula.


''Ah, bodo amat. mendingan gua mandi,'' ucap Lula.


******


Rumah Ustad Zaki.


''Ada apa Abi?'' tanya Hanifah cemas.


''Tadi Mbak Lula telfon Abi, katanya Ustad Ilham sedang sakit dan hari ini beliau tidak bisa mengajar,'' tutur Ustad Zaki.


''Astagfirullahaladzim, kita jenguk Ustad Ilham ya Abi!'' ucap Hanifah.


''Iya Nduk, nanti kita kesana,'' ucap Ustad Zaki.


*****


Rumah Ustad Ilham.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri sendiri, Lula mengisi ember dengan air untuk membersihkan tubuh sang suami. Saat mengangkat ember, pinggang Lula terasa nyeri.


''Aduh duh, aaa encok dini ni gua. Gila ya, gua semalam aja tidur di situ bisa encok gini, apalagi dia …,'' ucap Lula.


''Apa gara-gara kasur batu itu, Ustad gak sembuh-sembuh ya? Apa gua pindahin aja ya dia kekamar gua?'' ucap Lula.


Lula meletakan ember berisi air kedalam kamarnya, ia masuk kedalam kamar Ustad Ilham, tampak mata Ustad Ilham terpejam.


''Ustad, Ustad,'' panggil Lula.


Ustad Ilham membuka matanya.


''Nggeh, Dek. Ada apa?'' tanya Ustad Ilham.


''Untuk sementara, lo tidur di kamar gua. Ayo!'' ucap Lula.


Ustad Ilham masih tidak mengerti, kenapa Lula melakukan semua ini?. Ustad Ilham mengikuti apa kata Lula. Lula mendudukan Ustad Ilham di kursi riasnya, karena ia akan membersihkan tubuh Ustad Ilham.


Lula berjongkok di depan Ustad Ilham. Ia mulai membuka satu per satu kancing baju Ustad Ilham, Ustad Ilham tak mengatakan satu katapun, ia hanya memperhatikan gerak gerik Lula. Lula tau jika Ustad Ilham sedang memperhatikannya.


''Gua cuma mau bersihin badan lo biar gak bau. Gua gak suka ya sama cowok yang badanya bau!'' ucap Lula.


Lula mulai membersihkan wajah Ustad Ilham baru setelah itu badan Ustad Ilham, ia terlihat begitu telaten membersihkan setiap inci tubuh sang suami.


''Kamu melakukan semua ini karena Hanifah?'' ucap Ustad Ilham secara tiba-tiba.


Seketika tangan Lula terhenti, ia meletakan kain basah di ember.


Lula menatap Ustad Ilham, lama ia menatap Ustad Ilham.


Entah mengapa Lula ingin menangis, matanya mulai berkaca-kaca. Ustad Ilham yang melihat hal itu, sontak terkejut, ia merasa bersalah kepada Lula.


''Gua gak suka niat baik gua, lo artikan gini. Gua gak suka!" ucap Lula seraya menangis.


Ustad Ilham yang melihat Lula menangis, langsung memeluknya. Ia sangat merasa bersalah karena telah membuat istrinya menangis.


''Maafkan aku, aku salah,'' ucap Ustad Ilham.


''Ihh lepas, lepasin gua!" Lula berusaha melepaskan pelukan Ustad Ilham.


Lula berhasil melepaskan pelukan Ustad Ilham, bergegas Ia keluar dari kamarnya. Ustad Ilham mengejar Lula, ia seketika lupa jika dirinya sedang sakit.


Ustad Ilham berhasil menangkap Lula, langsung saja ia memeluk Lula dengan erat.


''Gua tulus lakuin ini semua buat lo, gua kasihan liat lo sakit, gua gak mau lo sakit, gua gak suka!'' ucap Lula dengan isakan.


''Iya, maafin aku karena sudah curiga sama kamu. Jangan nangis ya!'' ucap Ustad Ilham.


Ustad Ilham menangkup wajah Lula.


''Aku minta maaf ya, aku janji, aku gak akan nuduh-nuduh kamu lagi,'' ucap Ustad Ilham.


''Janji?'' ucap Lula.


''Iya, janji,'' ucap Ustad Ilham.


''Oke, gua maafin,'' ucap Lula.

__ADS_1


Tanpa sadar Ustad Ilham memberi kecupan di pucuk kepala Lula. Seketika Lula melotot dan memukul lengan Ustad Ilham.


''Ohh udah berani sekarang ya!'' ucap Lula seraya memukul lembut lengan Ustad Ilham.


Lula berhenti memukuli Ustad Ilham.


''Maaf ya?'' ucap Ustad Ilham dengan wajah memelas.


''HAHAHA, muka lo jangan melas gitu dong! Jelek tau,'' ucap Lula seraya terus tertawa.


Ustad Ilham tersenyum melihat sang istri telah kembali ceria. Namun, tanpa mereka sadari, Hanifah melihat adegan romantis yang baru saja terjadi. Wajahnya menjadi murung dan terlihat bersedih.


''Lo gak usah ngerasa bersalah gitu dong! Wajah gua udah penuh dengan jigong orang,'' ucap Lula.


Ustad Ilham tidak mengerti, apa itu Jigong?.


''Ji…,'' ucapan Ustad Ilham terhenti saat mendengar ketukan pintu.


Tok Tok.


''Asalamualaikum,'' suara seseorang dari luar.


''Waalaikumsalam, sebentar!'' ucap Lula.


Lula mendorong Ustad Ilham masuk kedalam kamarnya, dengan cepat Lula membantu sang suami memakai bajunya. Setelah selesai, Lula mengenakan jilbabnya, dan membuka pintu.


''Ya Allah Ustad, Umi, Hanifah. Silahkan masuk!'' ucap Lula.


Mereka duduk bersama di ruang tamu.


''Aku buatin minum dulu ya? Tunggu sebentar!'' ucap Lula.


''Ndak usah Mbak, kita cuma sebentar di sini,'' ucap Umi Lihah.


''Nggeh Mbak, mboten sah repot-repot. Niat kami cuma mau besuk Ustad Ilham saja,'' jelas Ustad Zaki.


''Gak papa Ustad. Aku panggilin Ustad Ilham dulu, permisi,'' ucap Lula.


Lula bergegas masuk kedalam kamarnya, ia melihat Ustad Ilham berbaring di atas kasur dengan mata terpejam.


''Ustad.. Hai, bangun!'' ucap Lula seraya menepuk pipi Ustad Ilham.


Ustad Ilham membuka matanya.


''Ayo bangun! Ada keluarga Ustad Zaki di luar,'' ucap Lula.


Ustad Ilham hanya mengangguk, ia turun dari atas ranjang lalu berjalan sempoyongan menuju ruang tamu.


''Asalamualaikum,'' salam Ustad Ilham.


''Waalaikumsalam,'' jawab mereka serentak.


Hanifah hanya diam, menatap kosong kearah bawah, ia sedang menginggat adegan romantis yang baru saja terjadi di depan matanya, jika boleh menangis, mungkin ia akan menangis saat ini juga.


Kini keluarga Ustad Zaki telah pulang, Hanifah hanya diam membisu.


Terima kasih telah membaca novelku😊

__ADS_1


__ADS_2