
Ustad Ilham terus menatap sang istri, entah apa yang ia pikirkan?. Lula menyadari bahwa sang suami terus menatapnya.
''Daripada lo terus natap gua, mending lo ambilin gua susu cap naga di dapur! Oh ya, jangan lupa lo rendem dulu di air panas, baru lo tuang di mangkuk kecil!" ucap Lula.
Ustad Ilham menjawab dengan anggukan, bergegas ia berlari menuju dapur. Ustad Ilham melakukan persis seperti apa yang Lula katakan, setelah selesi Ustad Ilham kembali kedalam kamar. Terlihat Lula yang sudah selesai membersihkan bayi itu, kini ia meletakan bayi itu di atas kasur.
''Jagain bentar!'' ucap Lula.
Ia keluar dari kamarnya dan masuk kedalam kamar Ustad Ilham, ia mengambil satu baju lama Ustad Ilham dan mengguntingnya untuk di jadikan popok sementara.
''Kok di gunting Dek?'' tanya Ustad Ilham.
''Buat popok,'' jawab Lula.
Ustad Ilham mengangguk tanda mengerti.
Setelah selesai Lula menggendong bayi itu dan akan memberinya susu. Terlihat bayi itu sangat kehausan dan kelaparan, Ustad Ilham terus menatap bayi itu, tak terasa matanya kini sudah berair. Lula sadar akan hal itu.
''Kenapa?'' ucap Lula.
''Hah ndak kenapa-kenapa kok, em cuma kasihan saja sama bayi ini,'' ucap Ustad Ilham menatap sendu bayi itu.
Lula hanya diam dan fokus memberi susu bayi itu.
''Besok antar bayi ini kekantor polisi!'' ucap Lula.
Ustad Ilham menatap Lula, ia pikir Lula menerima bayi itu, karena perilaku Lula yang sangat perhatian dan baik kepada bayi itu.
''Dek, kita rawat dia saja ya? Aku…,'' ucap Ustad Ilham terpotong ucapan Lula.
''Gak! Kalo dia di sini, siapa yang mau rawat dia? Gua? Gak, gua gak setuju,'' ucap Lula.
''Sekarang lo bawa ember dan mangkuk ini ke dapur!'' ucap Lula.
Ustad Ilham membawa benda-benda itu kedapur. Sedangkan Lula, ia tengah berpikir bagaimana selanjutnya? Badan bayi itu masih sangat panas dan bayi itu juga terus menangis, sedangkan di rumah ini tidak ada obat penurun panas untuk bayi. Lula teringat dengan Bibinya, saat bayi Bibinya menangis karena deman, Bibinya akan bersandar dan hanya memakai dalamam dan ia akan menidurkan anaknya di dadanya, percaya tidak percaya anaknya langsung tenang.
''Semoga aja berhasil,'' ucap Lula.
Lula meletakan bayi itu di atas kasur, ia mulai melepas baju tidurnya dan kembali mengendong bayi itu lagi. Lula bersandar di tepi ranjang dengan bayi di atas tubuhnya, ia mengambil selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan bayi itu.
Tak selah lama, bayi itupun terdiam dan tertidur dengan tenang.
''Bener kata orang, kalo hal terhangat adalah pelukan seorang ibu,'' ucap Lula.
Lula terus mengelus-elus badan bayi itu, entah kenapa ia mau melakukan ini semua?.
Tiba-tiba pintu di buka oleh Ustad Ilham.
__ADS_1
''Astagfirullahaladzim,'' ucap Ustad Ilham seraya membalikan badanya.
''Apa si, alay banget! Ada apa?'' tanya Lula.
''Emm aku mau tanya, apa kamu butuh sesuatu?'' ucap Ustad Ilham.
''Gak ada,'' ucap Lula.
Ustad Ilham masih berdiri mematung dan membelakangi Lula.
''Kenapa masih berdiri di situ? Sana masuk kamar!'' ucap Lula.
Ustad Ilham mengangguk dan menutup pintu. Ia kembali kedalam kamarnya dan menidurkan badanya di atas kasur. Ustad Ilham mencoba untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Ustad Ilham terus memikirkan bayi itu dan memikirkan apa yang istrinya lakukan?.
Ustad Ilham bangun dan berniat untuk menghampiri Lula. Ustad Ilham berdiri di depan pintu kamar Lula, ia takut Lula akan marah jika dia mengganggunya. Namun perasaan gelisahnya memaksanya untuk berani, perlahan Ustad Ilham membuka pintu Lula. Saat pintu terbuka, Lula sudah menatap tajam kearah Ustad Ilham.
''Kenapa lagi?'' tanya Lula.
''Emm ada yang kamu butuhkan?'' tanya Ustad Ilham.
''Gak ada Ustad! Sekarang lo tutup pintunya dan kembali tidur!'' perintah Lula.
''Nggeh, maaf,'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham menutup pintu kamar Lula. Ustad Ilham tidak langsung kembali kedalam kamarnya, ia masih gelisah dengan keadaan ini. Ustad Ilham kembali membuka pintu kamar Lula, Ustad Ilham kembali mendapat tatapan tajam dari sang istri.
''Kamu yakin ndak butuh sesuatu?'' ucap Ustad Ilham.
''Huft, kesini! Ayo kesini!'' perintah Lula.
Ustad Ilham berjalan mendekati Lula, ia berdiri di sebarang ranjang.
''Kesini dan duduk di depan gua!'' ucap Lula.
Ustad Ilham berjalan mendekat dan duduk di samping lutut Lula, Ustad Ilham terus memandang kebawah tak berani menatap Lula.
''Ada apa, hem? Ayo ngomong, lo kenapa?'' ucap Lula.
Ustad Ilham masih terdiam.
''Ustad kenapa?'' tanya Lula lembut.
Ustad Ilham mengeser badannya dan menghadap Lula, tetapi pandangannya masih kearah bawah. Ia mengatur nafas dan menyiapkan diri.
''Dek, apa aku boleh minta sesuatu?'' basa basi Ustad Ilham.
''Em ya, minta apa?'' ucap Lula.
__ADS_1
''Boleh gak, kalau kita rawat saja bayi ini. Aku tidak tega jika harus menyerahkan bayi ini kembali kepada orang tuanya, aku menemukan bayi ini atas izin Allah, dan aku rasa Allah ingin aku merawatnya dan menjaganya. Aku merasakan hal itu Dek, aku yakin dengan hal itu,'' jelas Ustad Ilham.
Lula terdiam tak menjawab, ia nampak masih berpikir. Tak di pungkiri ia juga mulai menyayangi bayi ini.
''Dek, bagaimana?'' tanya Ustad Ilham.
''Em gua tetap pada pendirian gua, kalo kita harus lapor polisi,'' ucap Lula.
''Dek, aku mohon kita rawat bayi ini, aku takut jika dia di sia-siakan oleh orang tuanya lagi,'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham masih memohon kepada Lula agar di izinkan merawat bayi itu, tapi Lula hanya diam dan terus menatap bayi itu.
''Jujur gua kasihan sama bayi ini, padahal dia ganteng, manis, lucu nyenegin deh pokoknya, tapi kok di buang gitu aja. Apa gua rawat aja ya dia? Tapi gua takut semisal gua gagal jadi ibu yang baik, gua juga takut gak bisa mendidik dia dengan baik,'' batin Lula.
''Dek?'' ucap Ustad Ilham.
''Emm oke, kita rawat bayi ini,'' ucap Lula.
''Hah, beneran? Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih,'' ucap Ustad Ilham.
Karena terlalu senang, ia tidak sadar sudah memeluk perut Lula.
''Ehem, udah pelukanya,'' ucap Lula.
Ustad Ilham tersadar dan melepas pelukanya, tampak wajahnya yang memerah.
''Lo seneng?'' tanya Lula.
Di jawab dengan anggukan bersemangat dari Ustad Ilham.
''Sekarang lo balik kekamar lo dan tidur, ayo sana!'' ucap Lula.
''Emm tapi kalo kamu butuh sesuatu bagaimana?'' tanya Ustad Ilham.
''Ngomong aja kalo lo pengen tidur di sini,'' ucap Lula.
Ustad Ilham menatap Lula, Lula seakan tau apa yang ia pikirkan.
''Emm endak kok,'' ucap Ustad Ilham.
''Yakin?'' tanya Lula.
''Emm memangnya boleh?'' ucap Ustad Ilham.
''Nahh ngakukan sekarang… boleh kok,'' ucap Lula.
''Terima kasih,'' ucap Ustad Ilham.
__ADS_1