
Ustad Ilham merasa dadanya sesak, dia menangis. Ini adalah kali pertama ia jatuh cinta kepada seorang wanita. Mungkin ia terlalu berharap kepada wanita itu, sampai membuatnya terluka akan harapannya sendiri. Saat ia sudah pasrah, tiba-tiba ustad Ilham merasakan ada yang menyentuh rambutnya. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Dan dia melihat Lula dihadapannya.
''Lula?'' ucap ustad Ilham dengan lemah.
''Hem, ayo kita kedokter!" kata Lula.
Lula membantu ustad Ilham berdiri, karna terlalu pusing tanpa sadar ustad Ilham menyenderkan kepalanya di kepala Lula. Ustad Ilham masih tidak menyangka, jika Lula lebih memilih menolongnya daripada pergi dengan kekasih tercintanya itu. Lula membantu ustad Ilham masuk kedalam mobilnya. Jantung ustad Ilham berdetak sangat kencang dan wajahnya terasa memerah, karna wajah Lula sangat dekat dengan wajahnya. Dia bisa mencium aroma rambut Lula yang sangat wangi.
''Terima kasih.'' kata ustad Ilham dengan nada lemah.
Lula tidak menjawab, ia langsung berjalan menuju kesisi lain mobil. Lula melajukan mobilnya, karna ini jam istirahat jadi jalan agak sedikit macet. Ditengah perjalanan ustad Ilham terlihat kesakitan di area kepala, tapi ia tahan agar Lula tidak panik. Ustad Ilham terus memejamkan matanya, tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang mengelus-elus kepalanya. Sontak ia menengok kesamping dan melihat Lula yang sedang fokus menyetir sembari mengelus-elus kepalanya dengan satu tangannya. Ustad Ilham tampak menikmati elusan itu, dan ia merasa sakit kepalanya agak berkurang. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Lula langsung membawa ustad Ilham masuk untuk di periksa. Setelah menunggu lama, akhirnya Dokter keluar dari ruang perawatan sang suami.
''Bagaimana dok?'' tanya Lula.
''Pasien mengalami benturan keras di kepalanya, tapi itu tidak berbahaya. Pasien tidak perlu menginap, hanya saja tunggu setelah pasien merasa baikan.'' ucap dokter.
''Baik dok, terima kasih.'' kata Lula.
Lula masuk keruang rawat ustad Ilham. Dia melihat sang suami tengah tertidur, karna tidak ingin membangunkanya lantas ia duduk disamping ranjang ustad Ilham. Lula terus memandangi wajah lebam sang suami, sedikit tersirat rasa penyesalan didiri Lula.
Dirumah papa Roy.
Seorang tetangga melaporkan tentang kejadian yang menimpa menantu keluarga itu.
__ADS_1
''Asalamualaikum pak Roy.'' salam dari tetangga papa Roy.
''Waalaikumsalam, ehh pak agus. Mari masuk pak!'' ucap papa Roy.
''Ada perlu apa ni pak agus kerumah saya?'' sambung papa Roy.
''Gini pak, tadi anak saya jalan di taman kota sekitar minimarket. Gak sengaja anak saya liat mantu bapak di kroyok orang.'' ucap pak Agus.
Sontak papa Roy terkejut, ia pikir menantunya ada di rumah, karna tadi ustad Ilham sedang membantu tukang kebun.
''Anak saya gak berani nolong, katanya badan orang-orang itu gede. Dia juga bilang mbak Lula berdiri disamping orang lain dan cuma liatin aja.'' sambung pak Agus.
''Astagfirullah Lula, pasti ini rencana dia dan pria itu. Awas kalian!'' batin papa Roy.
''Terima kasih atas infonya pak.'' kata papa Roy.
''Waalaikumsalam.'' jawab papa Roy.
Lantas papa Roy menghubungi Lula.
''Hallo.'' ucap Lula.
''Kamu dimana?'' tanya papa Roy.
__ADS_1
''Emm aku...'' ucap Lula gugup.
''Cepat bawa pulang Ilham!'' kata papa Roy yang langsung menutup telfonnya.
Dirumah sakit Lula heran, kenapa papa Roy bisa tau soal ini?.
Lula berniat untuk membawa pulang ustad Ilham setelah dia terlihat lebih baik.
Setelah lama menunggu akhurnya ustad Ilham terbangun, ia mencari keberadaan Lula. Lula yang baru saja buang air kecil langsung menghampiri sang suami.
''Saya pikir kamu pergi.'' ucap ustad Ilham.
''Gak, gua tadi ke kamar mandi. Sudah enakan?'' ucap Lula.
''Alhamdulillah sudah lumayan enakan.'' kata ustad Ilham.
''Nanti sore kita bisa pulang.'' kata Lula.
''Tapi kalau papa tanya, saya harus ngomong gimana?'' tanya ustad Ilham.
''Terserah lo.'' kata Lula pasrah. Ia tau kalau papanya sudah mengetahui segalanya.
--------------------------------------
__ADS_1
Terima kasih sudah baca novelku😊
Jangan lupa komen dan like ya😊