
Lula menyiapkan keperluan sang bayi, karena setelah membeli perlengkapan bayi, mereka akan pergi kebidan untuk memeriksakan kondisi sang bayi.
''Sudah siap?'' tanya Ustad Ilham.
''Emm udah si, tapi... Tapi gua sedikit khawatir tentang kondisi Ali!'' ucap Lula.
Ustad Ilham terkejut mendengar perkataan sang istri.
''Hah, Ali? Ali siapa? Dek, jangan melakukan hal-hal yang keji seperti itu!'' ucap Ustad Ilham curiga.
''Hal keji apa si?... Oh lo pasti mikir gua punya simpanan ya?… Emang iya. Bahkan gua jauh lebih suka liatin dia ketimbang liatin lo, Ustad!'' ucap Lula.
Lula selalu ingin membuat hati sang suami tidak tenang, karena baginya melihat ekspresi sedih dan tak berdaya Ustad Ilham sangat mengemaskan dan memberikan kesenangan tersendiri baginya, walaupun ia tahu bahwa hal itu akan membuat hati Ustad Ilham bersedih.
''Dia siapa? Dia seperti apa? Apa dia tampan? Apa Kamu suka sama dia?'' tanya Ustad Ilham dengan wajah sedih.
''uuhh wajahnya kasian banget, tapi gemes,'' batin Lula.
Lula melanjutkan sandiwaranya.
''Suka banget! Dia itu ganteng, bernilai, wangi dan yang pasti bisa membuat gua bahagia,'' ucap Lula.
Raut wajah Ustad Ilham semakin bersedih. Nampak ia menarik nafas panjang, menahan sakit dan perih di hatinya.
''Dek, apa yang kamu lakukan itu ndak baik! sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Aku minta maaf jika selama ini aku belum bisa membahagiakanmu, tapi aku mohon, jangan lakukan hal itu?'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham menarik nafas panjang.
''Aku tau, aku ndak sempurna. Aku ndak seperti yang kamu inginkan, tapi aku akan sekeras mungkin berusaha untuk menjadi seperti yang kamu mau. Tolong beri aku waktu, Dek!'' ucap Ustad Ilham.
Kini wajah Ustad Ilham nampak memerah, dan matanya sudah terlihat berair. Ustad Ilham menahan agar tidak menangis. Lantas ia menundukan kepalanya, agar Lula tidak melihat air matanya.
''Sakit ya Allah. Ampunilah dosa istri hamba,'' batin Ustad Ilham.
Sebenarnya Lula merasa kasihan jika mengerjai Ustad Ilham dengan cara ini. Ia tahu bahwa hati suaminya itu selembut sutra, mungkin lebih lembut dari itu. Sangat mudah bersedih dan mudah merasa bersalah.
Lula merasa kasih sekaligus merasa lucu dengan ekspresi Ustad Ilham.
''Cep Cep, gua cuma bercanda kok. Maaf ya?'' ucap Lula seraya memeluk Ustad Ilham.
Ustad Ilham membalas pelukan Lula dengan erat seakan takut kehilanganya.
''Kalau kamu ndak punya simpanan, terus Ali itu siapa?'' ucap Ustad Ilham yang masih curiga.
Lula melepas pelukanya.
''Ali itu… Ya, seperti yang gua bilang tadi, dia itu bernilai bagi gua. Em mungkin lebih bernilai daripada lo, deh?'' ucap Lula.
Ia masih ingin mengerjai hati sang suami. Kini wajah Ustad Ilham terlihat cemberut.
''Haha lucu banget si raut wajah lo,'' ucap Lula.
''Kok ketawa si!'' ucap Ustad Ilham.
''Oke oke. Muhamad Ali Ilham. Itu nama yang gua kasih buat dedek bayi. Masak kita mau panggil dia bayi ini, bayi itu 'kan gak bagus di denger. Dan lo jangan tanya artinya apa, karena lo pasti udah tau!'' jelas Lula.
__ADS_1
Seketika wajah Ustad Ilham terlihat malu.
''Masih mau cemburu sama anak sendiri?'' goda Lula.
Seketika Ustad Ilham tersenyum kikuk.
''Kalo kamu lebih sayang ke Ali, aku malah seneng,'' ucap Ustad Ilham.
''Gak yakin gua! Udah ah, yuk berangkat sekarang! keburu panas,'' ajak Lula.
Mereka pergi menaiki Bentor ( Becak motor ) yang sebelumnya sudah Ustad Ilham persiapkan.
"Kenapa lo pesen bentor si? Kenapa gak mobil aja!'' bisik Lula.
''Adanya cuma ini, Dek! Lagi pula Pak Selamet kan tetangga kita. Itung-itung membantu tetangga,'' jelas Ustad Ilham.
''Tapi gua malu tau!" ucap Lula.
"Kenapa harus harus malu? Adek kan cantik!" puji Ustad Ilham.
Seketika wajah Lula memerah. Entah kenapa dia bisa malu di puji Ustad Ilham?.
''Gombal!'' ucap Lula.
''Aku ndak gombal kok! Kalo gombal itu kayak gini!… Dek, kamu cantik deh pake gamis warna merah ini!'' ucap Ustad Ilham.
Saat ini Lula sedang mengenakan gamis warna coklat susu.
''kok merah si, ini kan warna coklat susu!'' ucap Lula.
"Cie Cie,'' ucap Pak Selamet.
Lula seketika menatap heran kearah Ustad Ilham. Ia sedikit tak menyangka jika suaminya itu juga bisa merayu, karena selama ini Ustad Ilham selalu malu-malu kepadanya.
''Kok gua geli ya dengernya?'' ucap Lula.
''Gak romantis ya?'' tanya Ustad Ilham.
''Bukan, cuma agak aneh aja denger lo gombal gini. Lagian gua gak terlalu suka gombalan, gua lebih suka tindakan!'' ucap Lula.
Ustad Ilham nampak bingung.
''Tindakan? Maksudnya?'' tanya Ustad Ilham.
''Pantes gak pernah ngelakuin hal yang romantis. orang dianya aja kagak paham!'' bisik Lula kepada dirinya sendiri.
''Dek?'' ucap Ustad Ilham.
''Masak gitu aja gak ngerti si!" ucap Lula.
"Memang aku ndak ngerti!" jawab Ustad Ilham.
''Huft, cari sendiri di internet!'' ucap Lula.
''Kan ponsel aku ndak ada internetnya,'' ucap Ustad Ilham.
__ADS_1
Lula menatap Ustad Ilham.
''Gini lo, Ustad. Cewek itu suka dengan perlakuan yang manis, lembut dan romantis. Contohnya itu kayak si cowok ajak ceweknya makan malam romantis atau lakuin hal yang manis berdua,'' jelas Lula.
Ustad Ilham nampak berpikir.
''Em, kalo kamu suka hal romantis apa?'' tanya Ustad Ilham.
''Ada deh!'' ucap Lula.
''Beri satu aja, hal yang kamu suka!'' ucap Ustad Ilham.
Lula terdiam sejenak, ia memikirkan hal apa yang ia suka?.
''Gua suka hal-hal yang menyenagkan,'' ucap Lula.
''Contohnya?'' tanya Ustad Ilham.
''Ih banyak tanya deh!… Gini ya Ustad. Hal-hal seperti itu keluar dari pikiran orang itu sendiri, bukan dari apa yang pasanganya sukai. Itu akan terasa lebih berkesan,'' ucap Lula.
Ustad Ilham mengangguk tanda paham.
Karena asik mengobrol, tak terasa mereka sudah sampai di pasar terdekat. Ustad Ilham turun lebih dulu, setelah itu ia membantu Lula untuk turun.
''Matur suwun nggeh Pak Selamet,'' ucap Ustad Ilham.
Ustad Ilham memberi lima puluh ribu untuk ongkos.
''Aduh Tad, urung ono susuk'e iki?'' ucap Pak Selamet.
( Belum ada kembalianya ini ).
"Oh mboten nopo-nopo Pak, mboten sah. Niku rezeki Pak Selamet!'' ucap Ustad Ilham.
( Oh gak papa Pak, gak perlu. Itu rezeki Pak Selamet ).
"Alhamdulillah Ustad, matur suwun,'' ucap Pak Selamet.
''Nggeh sami-sami, Pak. Kulo mlebet riyen, asalamualaikum,'' ucap Ustad Ilham.
( Iya sama-sama, Pak. Aku masuk dulu ).
"Waalaikumsalam,'' jawab Pak Selamet.
Ustad Ilham menghampiri Lula yang menunggu di pintu masuk pasar.
''Udah ngobrolnya!'' ucap Lula.
''Maaf ya!'' ucap Ustad Ilham.
Lula memutar malas bola matanya.
''Ni bawa!'' perintah Lula.
Lula menyuruh Ustad Ilham untuk membawa tasnya. Dengan senang hati, Ustad Ilham menerima tas itu.
__ADS_1
Terima kasih udah baca 😊