Imamku

Imamku
Tragedi


__ADS_3

Tak terasa usia Ali kini sudah memasuki bulan ke-5, Ustad Ilham dan Lula benar-benar merawat Ali dengan sangat baik, dan karena hal itu pula menjadikan hubungan keduannya menjadi semakin dekat. Hari demi hari mereka lewati dengan penuh kebahagiaan layaknya sepasang suami istri yang hidup dengan penuh rasa cinta.


"Ustad, lo yang mandiin Ali ya! Gua mau maskeran ni,'' ucap Lula dari dalam kamar.


"Iya, nanti aku mandiin," ucap Ustad Ilham.


Lula benar-benar menggunakan waktu luangnya untuk merawat tubuhnya, karena akhir-akhir ini Ustad Ilham sibuk dengan urusan Ponpes, jadi hanya Lula yang merawat Ali dan terkadang juga di bantu oleh santriwati.


Setelah memandikan Ali dan memakaikanya baju, Ustad Ilham pergi menghampiri Lula di kamarnya. Lula tengah bersandar di tepi ranjang sembari memaiinkan ponselnya.


"Asalamualaikum Mama, Ali sudah wangi, sudah ganteng juga," Ustad Ilham membuat suaranya terdengar seperti anak kecil.


Ustad Ilham naik ke atas ranjang dan duduk di samping Lula.


"Ayo Ali, kita ganggu Mama!" ucap Ustad Ilham seraya meletakkan Ali di pangkuan Lula.


Ali terlihat begitu senang, ia memegang wajah Lula yang terselimuti dengan masker wajah berwarna putih.


"Ali," ucap Lula dengan lirih karena masker di wajahnya sudah mulai mengering.


Lula memberikan Ali kepada Ustad Ilham, Lula keluar kamar untuk mencuci wajahnya. Lula kembali ke dalam kamarnya dan duduk di sebelah Ustad Ilham.


"Oh iya, aku mau ajak kamu dan Ali pergi ke pekan raya hari ini, bagaimana?" tanya Ustad Ilham.


''Dimana?" tanya Lula.


"Di Alun-alun kota," ucap Ustad Ilham.


"Kita berangkat jam berapa? Soalnya Alun-alun kota kan jauh," ucap Lula.


"Em bagaimana kalau jam 4 sore nanti kita pulangnya dari sana jam 8 dan sampai rumah paling tidak jam 9 malam," jelas Ustad Ilham.


"Boleh juga, udah lama kan kita gak pergi jalan-jalan. Ali pasti suka, iya kan sayang?" ucap Lula seraya mencolek-colek pipi Ali yang tembem itu.


"Aku juga mau di panggil sayang," goda Ustad Ilham.


Bukannya mendapat ungkapan sayang, Ustad Ilham malah mendapat pukulan kecil di lengannya.


"Aku minta kamu panggil aku sayang, bukan pukulan sayang," ucap Ustad Ilham.


"Nggak usah berharap," ucap Lula.


Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, Ustad Ilham dan Lula sudah selesai mempersiapkan semuanya, dari mulai keperluan Ali hingga make up Lula.


"Sudah lengkap semuanya?" tanya Ustad Ilham.


"Sudah, ayo!" ucap Lula.


"Sebelum berangkat, kita baca doa terlebih dahulu agar kita selalu dalam perlindungan Allah," ucap Ustad Ilham.


Ustad Ilham dan Lula memanjatkan doa agar senantiasa di lindungi oleh Allah, setelah selesai berdoa, mereka memulai perjalanan menuju Alun-alun kota yang memakan waktu sekitar 50 menit. Mereka mengendarai motor yang baru saja di beli oleh Ustad Ilham, Ustad Ilham membeli motor itu supaya mempermudahkannya dan Lula jika ada keadaan darurat pada Ali.


Di sepanjang jalan Lula tak henti-hentinya mengoceh, Lula selalu mengajak Ali mengobrol, apapun di bahas olehnya terkadang obrolan mereka tidak bisa di pahami oleh Ustad Ilham. Walaupun Ustad Ilham tidak paham dengan topik obrolan antara Lula dengan Ali, tapi ia merasa sangat bahagia, karena keyakinan selama ini bahwa Lula akan menjadi Ibu yang baik untuk Ali terbukti benar.


Lama mereka mengendarai motor, kini mereka telah sampai di area pekan raya, Ustad Ilham memakirkan motornya di parkiran.


"Kita mau langsung berkeliling atau makan dulu sembari menunggu maghrib?" tanya Ustad Ilham.


"Langsung keliling aja deh, nanti habis sholat maghrib baru kita makan," ucap Lula.


"Yawes, ayo!" ucap Ustad Ilham.


Sembari menunggu adzan maghrib, Lula dan Ustad Ilham berkeliling sebentar di sekitaran Alun-alun kota.

__ADS_1


Tak berapa lama, kumandang adzan maghrib pun terdengar. Lula dan Ustad Ilham pergi menuju masjid terdekat. Ustad Ilham mengikuti sholat maghrib berjamaah, sedangkan Lula menunggu di depan masjid untuk bergantian menjaga Ali.


Setelah sholat maghrib, mereka mencari rumah makan untuk makan malam. Setelah sesi mengisi perut sudah selesai, mereka melanjutkan berkeliling pekan raya.


Di dalam gendongan Ustad Ilham, Ali terlihat sangat senang, ia tak henti-hentinya menoleh kesana kemari dan mengoceh tiada henti. Mungkin karena banyak lampu warna-warni dan hal-hal baru yang ia lihat, jadi dia terlihat begitu antusias.


"Ali, naik komedi putar sama Mama yuk!" ucap Lula.


"Aku ndak di ajak?" tanya Ustad Ilham.


"Gak usah, tugas Ustad itu ngerekam gua sama Ali," ucap Lula.


"Yawes, ayo beli tiketnya!" ucap Ustad Ilham.


Setelah membeli tiket, Lula menyerahkan ponselnya kepada Ustad Ilham untuk merekam, karena ponsel Ustad Ilham masih jadul dan entah kenapa dia tidak mau mengganti yang lebih canggih lagi. Lula dan Ali duduk di kursi komedi putar. Wahana belum di mulai tapi Ustad Ilham sudah heboh merekam. Saat wahana mulai berputar, kini Ali juga heboh menjerit karena gembira. Sepanjang wahana berputar, Ustad Ilham terus memanggil nama Ali dan juga melambai-lambaikan tangannya.


"Ali,'' panggil Ustad Ilham.


Ali menanggapi panggilan sang Abi dengan teriakan dan tepuk tangan.


"Suaminya Mbak?" tanya salah seorang Ibu muda yang berdiri di depan kursi Lula seraya memegangi anaknya yang menaiki kuda-kudaan.


"Hem, Iya Mbak," ucap Lula.


"Wah kelihatan bahagia sekali,'' ucap Ibu muda itu.


''Iya," ucap Lula.


Setelah wahana berakhir, bergegas Lula turun dan menghampiri Ustad Ilham. Dia memukul lengan Ustad Ilham karena membuatnya malu.


"Aduh, kok di pukul si?" tanya Ustad Ilham.


"Siapa suruh tadi teriak-teriak gitu? Gua malu tau...," ucap Lula.


Lula memberikan Ali kepada Ustad Ilham.


"Kita heboh karena kita bahagia, iya 'kan Ali?" ucap Ustad Ilham.


Mereka mencoba semua permainan, Lula juga mencoba semua makanan yang menurutnya menarik dan enak. Tak terasa sudah jam 8 lewat 10 menit, kini saatnya mereka pulang. Baru saja 15 menit perjalanan, tiba-tiba ban motor yang mereka kendarai bocor.


"Bawa motornya yang bener dong Ustad," ucap Lula.


"Aduh, Dek. Kayaknya ban motornya bocor," ucap Ustad Ilham.


"Haa kok bisa si, tadi kan baik-baik aja,'' ucap Lula.


"Kita cari bengkel dulu ya!" ucap Ustad Ilham.


"Malam-malam mana ada bengkel yang buka Ustad?" ucap Lula.


"Insya Allah ada, kita ikhtiar dulu," ucap Ustad Ilham.


Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan bengkel yang masih buka. Setelah ban motor tertambal dengan rapi, mereka melanjutkan perjalanan pulang.


Di tengah perjalanan, hati Lula merasa gelisah dan was-was, Ia takut hal buruk akan terjadi.


"Ustad, gak pa-pa ni kita pulang jam segini? Ini udah jam 10 lebih loh Ustad, perasaan gua gak enak ni," ucap Lula.


"Insya Allah ndak pa-pa Dek, kita berdoa saja," ucap Ustad Ilham.


Saat sudah sampai di area persawahan yang luas, tiba-tiba motor mereka di hadang oleh 3 orang yang tidak di kenal.


"Ustad, mereka siapa?" tanya Lula.

__ADS_1


"Kamu tenang saja ya!" ucap Ustad Ilham.


Lula memeluk Ali dengan erat dan tangan satunya lagi memeluk Ustad Ilham, ia benar-benar merasa takut.


"Mudun kowe!" ucap salah seorang pemuda itu.


{ Turun kamu }


"Aduh, Ustad. Gua takut ni," ucap Lula seraya mempererat pelukanya.


"Ndak pa-pa," ucap Ustad Ilham seraya mengelus-elus tangan Lula.


"Mudun!" ucap orang itu.


"Ada apa toh Mas?" ucap ustad Ilham.


"Goreneo kabeh barang berhargamu, nek rak mati kowe!" ucap orang itu seraya mengacungkan sebuah pisau.


{ Kemarikan semua barang berhargamu, kalau tidak mati kamu }


"Ustad?" ucap Lula.


Ustad Ilham menepuk-nepuk tangan Lula untuk menenagkannya.


"Saya akan berikan semua, asalkan kalian jangan menyakiti kami?" ucap Ustad Ilham.


"Oke," ucap salah satu dari mereka.


"Ayo Dek, turun,'' ucap Ustad Ilham.


Ustad Ilham mengajak Lula untuk turun, mau tidak mau Lula harus menurutinya. Lula berlindung di belakang Ustad Ilham. Ustad Ilham menyerahkan semua dari mulai motor, ponsel dan uang.


"Opo ki? HP jadul koyok enek rak bakal payu!" ucap orang itu.


{ Apa ini? HP jadul seperti ini tidak akan laku }


Preman itu membuang ponsel dan salah seorang temanya melihat Lula dan tertarik kepadanya dan mulai berjalan mendekat.


"Ayu tenan kowe Mbak. Ayo melu aku!" ucap salah seorang dari mereka.


{ Cantik sekali kamu Mbak. Ayo ikut aku }


"Jaga sopan santunmu Mas!" ucap Ustad Ilham.


Laki-laki itu terus mendekat tanpa menghiraukan ucapan Ustad Ilham. Karena ia terus mendekat dan tidak menghiraukan ucapan Ustad Ilham, Akhirnya Ustad Ilham memukulnya.


BUK


Satu bogem mentah sukses menumbangkan pria itu. Alhasil perkelahian pun tak terhindarkan 3 lawan 1. Ustad Ilham mampu mengimbangi lawan walaupun ia sempat terkena beberapa pukulan. Salah satu preman itu mendekati Lula. semakin dekat, semakin dekat, dengan sekuat tenaga Lula menendang alat vital pria itu.


AKHH


Pria itu mengerang memegangi alat vitalnya.


BUK


Kepala Ustad Ilham di pukul dengan kayu oleh salah satu dari mereka, Ustad Ilham tersungkur dan memegangi kepalanya yang berdarah.


Sedangkan pria yang Lula tendang alat vitalnya kini ia menjadi sangat marah. Ia mengeluarkan pisaunya dan berjalan kearah Lula.


Pria itu menghunuskan pisaunya.


AKHH

__ADS_1


Terima kasih telah membaca novelku


__ADS_2